MEREKA MULAI SIUMAN

Memasuki hari raya idul fitri 1440 H, ada guntingan yang menarik namun kurang menggigit dikarenakan apa yang ingin didapatkan ketika anda saya dan dia membaca lintas papua pada media cetak ternama seukuran papua yang dikenal dengan nama cenderawasih pos atau disingkat cepos edisi senin 04/06/2019.

Sebelum dilakukan pembedahan lebih dalam tentang “Musyawarah Adat” , ada baiknya anda saya dan kamu, melihat satu simbol dari alam tanah ini yang disampaikan penjaga sungai yang terkenal buas, namun ada pelajaran teramat penting yang perlu dipelajari dari kelebihan yang diberikan pencipta alam semesta kepada seekor buaya.

Dalam sebuah telaga atau sungai hidup seekor buaya yang dalam kehidupannya selalu tenang dan tidak bersuara bahkan tidak pernah merusak telaga dan sungai dan berontak kalau diganggu mahluk asing yang wilayahnya. Sementara itu, buaya tersebut bergerak mencari makan ketika lapar.

Filosofi buaya ini, coba anda saya dan dia lihat dengan memakai kacamata adat sebagai alat masuk untuk mengurai masalah apa yang sebenarnya membuat luka hati semakin perih dengan memuntahkan aroma tak sedap, ini semua bersumber dari tanah garapan mereka sudah mulai langka atau main menipis manfaat ekonominya.

Luka hati yang lebih perih dan ekstrim yaitu sex ratio mereka mulai menurun perlahan-lahan, bila dilihat dari populasi masyarakat asli yang cenderung menurun, masalah ini melahirkan perkiraan sementara yaitu waktu mereka hampir sebagian besar digunakan untuk bergulat mengisi kampung tengah (perut) yang membuat terbatasnya waktu untuk melakukan aktivitas sex.

Penyebab lain yang diperkirakan ikut menyumbang penurunan populasi masyarakat asli, ini disebabkan oleh beberapa masyarakat asli yang hanya mementingkan dirinya sendiri dengan mengabaikan tumbuh kembangnya generasi penerus warga mereka atau dengan perumpamaan yakni “tongkat estafet diberikan kepada siapa”.

Beberapa masyarakat asli yang berperilaku negatif atau mementingkan dirinya sendiri, sampai ketika berada pada satu masa dimana Ia mulai merasa terancam, maka pada saat itu Ia mulai sadar bahwa marganya hilang merupakan hutang yang harus dilunasi atas perilaku mereka selama masih berkuasa.

Tikar adat yang dilakukan berdasarkan 4 golongan mata angging suku Marind yaitu Mayo, Timo, Sosum dan Esam sebagai pemilik tanah lulur mulai berontak karena pekarangan rumah mereka mulai masuk keluar migran tanpa pajak.

Pesta adat yang dilakukan bermaksud menyampaikan kepada penduduk migran bahwa tanah ini bukan tanah tak bertuan, tanah ini ada penjaganya. Mereka mulai melakukan perlawanan, namun para migran sudah migrasi puluhan bahkan ratusan ke tanah ini.

Filososi sederhana yaitu kalau mau masuk ambil barang di ladang (kebun) orang harus meminta izin sama pemiliknya, sebab kalau mengambil tanpa seizin pemilik ladang itu berat hukumnya kalau sampai tertangkap.

Bila dilihat dari berbagai konflik yang terjadi di hampir semua wilayah di tanah ini, masalahnya hanya satu yaitu konflik kepemilikan properti yang disebabkan motif ekonomi sudah terbungkus pada properti yang dimasa lampau properti tersebut digunakan secara bersama-sama, namun berkembangnya waktu properti mulai jadi sengketa karena yang dilihat nilai ekonominya. 

Migrasi besar-besaran tanpa pajak ke tanah Animha dilakukan melalui gerbong transmigrasi yang mulai tumbuh dan berkembang menjadi komonitas besar yang berfungsi sebagai generator pengerak ekonomi yang mengurita keseluruh wilayah selatan Papua. Komunitas migran ini telah berevolusi dalam struktur sosial ekonomi selatan.

Penetrase kelompok migran mulai bergeser dari wilayah ekonomi kewilayah politik, ini mulai terlihat dari pemilihan anggota dewan perwakilan rakyat daerah Merauke sebagian besar kursi diambil oleh kelompok migran, dengan komposisi itu, maka sebagian besar keputusan strategis yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak akan ditentukan kelompok migran.

Fenomena ini, yang membuat masyarakat asli yang sudah terdidik mulai berteriak dibawah bendera para-para adat, ini dilakukan agar kelompok migran harus sadar diri dan selalu mematuhi tatakrama yang sudah ditetapkan adat secara turun temurun.@arkam

0 comments:

Post a Comment