PAPUA DAN KONTAINER

Melihat dari semakin menumpuknya kontainer di hampir sebagian besar pelabuhan laut di tanah papua yang dikaitkan dengan catatan para pakar maupun analis manajemen transportasi laut di indonesia di sana dijelaskan bahwa pertumbuhan tingkat pengiriman barang dari indonesia timur masih di bawah 30%.


Fenomena ini secara mendalam akan dianalisis memakai pendekatan marketing atau ilmu menjual untuk mengurai seberapa pentingnya atau manfaat yang diberikan para kepala pemerintahan beserta organ-organ yang ada di dalamnya dengan melihat penumpukan kontainer di pelabuhan.


Fenomena penumpukan kontainer di pelabuhan ini membuat anda saya dan kau untuk membuka anggaran pendapatan dan belanja daerah yang fokus pada penanaman modal. Ini merupakan ukuran sederhana yang digunakan untuk menyelesaikan soal di bawah 30% itu bisa terjadi.


Dalam berbagai kesempatan baik itu diskusi lepas para pengamat di berbagai pertemuan tentang Papua, pasti selalu menyoalkan potensi sumber daya darat, laut dan udara yang sudah disediakan sebelum tete manis menciptakan ras melanesia untuk menjaganya sebagai bagian terpenting dari warisan dunia di planet yang hanya satu ini.


Kembali pada soal penumpukan kontainer, maka dapat dijelaskan bahwa ilmu menjual belum diimplentasikan dengan baik oleh kepala daerah di hampir seluruh tanah Papua dalam menjual potensi daerah ini dengan cara mengajak pihak swasta bersama-sama Pemerintah Daerah membangun Indonesia dari tanah Papua ini.


Pimpinan Daerah sudah harus melihat marketing sebagai unsur utama yang memberikan kontribusi besar pada pertumbuhan wilayah, maka organ-organ daerah yang bersinggungan langsung dengan pertumbuhan wilayah harus ditempatkan orang-orang yang kompetensi di atas rata-rata dipilih dan ditugaskan Pimpinan Daerah untuk membantu menjual atau mengajak pihak swasta membangun usahanya di Papua.


Secara umum dijelaskan Investasi tidak tumbuh di Papua yang disebabkan persoalan hak ulayat dan persoalan keabsahan tanah Papua di dalam gambar petah Indonesia yang selalu digoreng berulang kali oleh mereka-mereka yang tidak mau melihat tanah ini maju, membuat para investor mempertimbangkan menaruh assetnya di tanah Papua.   


Issu hak ulayat dan politik sebenarnya bukan soal yang teramat susah atau menjadi alasan Pemerintah Daerah untuk tidak tidak mengejar keertinggalan Papua dengan teman-teman di seberang lautan Pasifik dan Asia. Semenara itu, ada juga fenomena lain yang membuat tanah ini tidak pernah berlari kencang karena selalu membandingkan dengan negara-negara yang ekonominya sudah maju dengan pertumbuhan pendapatan warganya yang baik diambil sebagai sampel atau perbandingkan untuk membuat pelarangan Papua jangan terlalu banyak sentuhan nanti susah untuk diurus.@arkam

Mana Tulisan Kamu.....!

0 comments:

Post a Comment