SAGU SETENGAH HIDUP DI PAPUA?

21 November 2018, kita baru saja merayakan otonomi khusus yang bila dilihat kembali berjalanan sejarahnya teramat sanggat melelahkan untuk di dalami dan di dalmi lebih dalam lagi sebab kita semua masih membaca makna politik khusus itu dengan saling menuduh satu sama lain.
Persoalan beda pendapat itu sebenarnya baik adanya, sebab tidak ada yang sempurna dan manusia itu harus saling menggisi karena perjalanannya zaman itu selalu membutuhkan satu alat yang namanya kompetensi karena ada istilah-istilah baru yang tidak dipahami oleh inkamben (orang) tua yang selalu mengambil keputusan berdasarkan pengalaman.
Fenomena Papua, hari ini mulai tren dengan ekonomi hijau atau pembangunan berkelanjutan yang disarankan kawan-kawan dari planet yang sudah tidak ada perbedaan bilan dilihat dari tingkat kemajuan dan Index Kebahagiaan yang sudah di atas rata-rata mau dipaksakan untuk dilaksanakan seperti kita memaksakan diri secara sepihak untuk membangun rumah diatas Pasir Pantia yang akan kena hantaman obat ketika air pasang.
Pertumbuhan kota dan ledakan jumlah penduduk yang semakin hari meningkat tidak didukung oleh ketersediaan pangan dalam hal ini beras, karena lahan-lahan pertanian semakin sempit atau sudah beralih fungsi menjadi hunian yang membuat pemerintah mulai berfikir keras untuk mengembangkan pangan lokal sebagai titik masuk utama dalam mengantisipasi ledakan penduduk di masa depan.
Sagu merupakan salah satu komoditas lokal papua yang menjadi unggulan daerah yang bila dikembangkan dengan baik akan menghasilkan nilai tambah yang luar biasa, itu bisa dilihat nilai manfaat pohon sagu dari pucul sampai di ikar pohon sagu memiliki nilai ekonomi tinggi yang pada tahun 2018 ini mulai menjadi trending topik bertepatan dengan pemerintah daerah mulai mengangkat issu ekonomi hijau dan pembangunan berkelanjutan di Papua.
Berbicara sagu semakin menarik untuk di dalami, karena produksi tidak ada masalah yang menjadi soal adalah Sagu hanya di konsumsi tiga generasi Inkamben (tua) sementara generasi Milenial rata sudah hampir separuh anak-anak asli Papua sudah dimanjakan dengan Nasi karena Beras sudah mengalir sampai di Kampung-Kampung dan Dusun.
Untuk mengembalikan budaya makan sagu kepada generasi muda Papua untuk mengkonsumsi Beras Analog yang berbahan dasar sagu itu, sanggat membutuhkan keterlibatan semua pihak untuk memberikan edukasi secara terus menerus untuk wajib mengkonsumsi Sagu atau produk sejenis berbahan dasar sagu pada waktu-waktu tertentu.

0 comments:

Post a Comment