DRAMA DI HUTAN ADAT DOMBERAI ?

Bicara kawan jangan diam membisu, dihadirkan sebagai jembatan penghubung kita untuk bersama-sama merajut kembali satu tungku dalam satu rumah adat yang akhir-akhir ini mulai sedikit retak karena ada tiupun anggin kebohongan yang sedang ditiupkan oleh kaum terdidik yang pendapatnya kurang terdidik itu.

Kawan, jangan biarkan warga probumi berteriak karena warisan leluhur mereka mau dirampok atau bahkan sudah dirampok para pemilik modal. kawan lihat-lihat kepedalaman kepala Burung Kasuari nun jauh dibelantara rimba raya Domberasi (lihat peta Papua) ada gesekan antar warga pribumi dengan warga pribumi yang berada di pusaran Birokrasi Pemerintahan.

Kawan berbaliklah walaupun warga pribumsi secara luas sudah mengetahui siapa penulis cerita drama ini, Kawan jangan biarkan mereka bertengkar sebab pertengkaran akan melahirkan atau membentuk satu titik masuk sebagai peluang bagai para pemilik modal untuk menjarah habis-habisan harta warisan leluhur.

Kawan, cobalah untuk kembali membaca sejarah perjalanan perjuangan hak-hak masyarakat di hutan adat yang sampai dengan Tahun ini juga belum ada kesepahaman dalam bentuk regulasi atau hukum yang menjelaskan hutan pemerintah dan hutan adat, sebab di tanah Kasuari ini yang ada hanya hutan Adat kawan.

Persoalan hutan adat sudah lama diperjuangkan namun sampai Tahun ini belum ada aturan yang jelas karena banyak kepentingan yang bermain disana juga kawan, namun dalam cerita ini lebih fokus pada struktur kelembagaan adat di beberapa wilayah di Papua ini tidak jelas atau tidak tergambar dengan baik seperti struktur adat masyarakat "Mamta".

Penulis sejarah pemikiran ekonomi Prof. Wim Polli mengatakan kuatnya mata rantai biasanya ditentukan matarantai yang terlemah. Merujuk pada pendapat itu, maka bisa juga dijelaskan bahwa konflik hak ulayat sebagian besar dipengaruhi struktur kelembagaan adat yang rapuh atau lemah itu dilihat kaum terdidik yang pemikirannya kurang terdidik untuk masuk dengan para pemilik modal untuk menjarah karena mata rantai terlemah dalam masyarakat adat yaitu kelembagaan adat.

Kawan berbalik sembilan puluh derajat, walaupun sudah jauh melangkah, kawan jangan jangan buatkan luka sebab luka pasti akan meninggalkan bekas luka.

Kawan, jangan biarkan warga pribumsi terus berteriak, namun bantu mereka dengan cara mendengar apa yang di suarakan, sebab Indonesia itu harus hadir di pinggiran Tanah Papua dengan membawah slogan Putih Tulang dan Mera Dara harus benar-benar menaikkan rasa keindonesiaan warga primbumi yang sudah sedikit memudar karena banyak cerita novel yang sedang ditontonkan para elit lokal saat ini.

Kawan, fakta sejarah yang ditulis berulang-ulang oleh generasi pendahulu kenapa dalam perjalanan tahun ini harus diputar balikkan karena lebih dominand Need For Power ketimbang Need fo Afiliation yang seharusnya dipelihara sebagai warisan leluhur yang terbangun puluhan tahun hanya bermodalkan saling percaya.

Kawan, bedah pendapat dan kepentingan politik itu biasa yang tidak biasa itu sejarah kepemilikan tanah adat jangan diputar balikkan karena kepentingan ekonomi. kawan bicara yang jujur walaupun semua warga pemilik hak ulayat tahu bahwa yang bermain drama itu Kawan. @arkam

0 comments:

Post a Comment