KOPI PAPUA SETENGAH HIDUP ?

Potensi ekonomi Papua luar biasa bila dilihat dari luas wilayah baik darat laut dan udara serta yang tidak kalah istime dibawah perut bumi yang tete manis sudah kasih buat warga Papua. sementara bila dilihat dari potensi lain yang belum dikelola juga yaitu matahari yang dikase warga papua lihat pertama kali ditambahkan dengan banjir yang belum juga dikelola dengan baik.

Berangkat dari gambaran luas wilayah Papua yang katanya menurut cerita orang kebanyakan memiliki luar wilayah dua kali pulau jawa ini memunculkan soal yang belum diselesaikan atau mungkin terlewatkan untuk di selesaikan yaitu komoditas pertanian dalam arti luar di dalamnya perkebunan yang dapat dijadikan materi cerita kali ini.

Komoditas yang di maksudkan penulis adalah KOPI PAPUA yang diangkat dengan melihat publikasi CEPOS dengan menulis 14 Kedai dan 11 Petani Kopi Ramaikan Festival Kopi, ini merupakan kegiatan yang sangat menarik dengan membentuk 25 stand yang didukung penuh Bank Indonesia serta Pemerintah Provinsi Papua.

Sebelas pemain dalam komoditas kopi datang dari wilayah Wamena, Serui, Oksibil, Timika, Lanny Jaya dan Yahukimo yang mungkin secara garis besar sebagai petani kopi atau pemain tingkat lokal sementara sektor hilirnya ada sebelas pemain yang berasal dari kota jayapura.

Tata kelola rantai nilai komoditas kopi Papua masih harus diperbaiki sebab harga kopi di tingkat petani sangat rendah karena pemicunya sistem distribusinya yang masih jelek,dikatakan jelek sebab masih ada saja pemain tingkat lokal yang mengoreng harga beli di petani kopi.

Berbicara rantai nilai, berarti kita bersepakat peran pemerintah hadir dimana dan lembaga keuangan hadir dimana itupun dengan para pemain di hilir duduk bersama bersepakat agar sama-sama senang. kesepatan pemangku kepentingan atau dalam tulisan ini disebut para pemain dalam rantai nilai kopi perlu bekerja bersama-sama agar produksi kopi tetap terjaga.

Persoalan klasik yang selama ini terjadi di hampir seluruh wilayah Papua adalah pemerintah selalu doyan serimonial dengan ikut pameran baik tingkat lokal maupun nasional hanya sebatas mengkampanyekan keunggulan daerah Papua yang tidak ada tindak lanjutnya untuk membangun dan mengembangkan potensi yang benar-benar sudah memberi hasil seperti kopi Papua.

Apa pendapat kamu........




0 comments:

Post a Comment