CERITA OBET DARI SARMI

Mata Pena:arkam

Obet (nama kebetulan) dalam cerita ini, bertanya sama teman-teman seusianya, kamu pernah tidak membaca catatan antropologi Papua atau mendengar cerita tentang daerah penghasil kopra pada zaman hindia belanda di wilayah Papua. 

Daerah ini terkenal pada zaman itu dan sekarang menjadi saksi sejarah dengan kelapa nyiur melambai di tepian pantai, yang kata Obet sudah harus di catatan sebagai pantai terbanjang di dunia.

Obet (nama kebetulan) dalam cerita ini, Obet dalam satu kesempatan melakukan pekerjalanan menuju suatu wilayah di sebelah barat Kabupaten Jayapura yang dalam cerita warga masyarakat di beri julukan kota ombak Sarmi. 

Obet melakukan perjalanan melalui jalan darat dengan menumpang mobil rental. perjalanan menuju kota ombak memakan waktu kalau tidak salah delapan sampai dua belas jam.
 
Sarmi adalah singkatan dari nama suku-suku besar, yakni Sobey, Armati, Rumbuai, Manirem, dan Isirawa. Keberadaan mereka telah lama menjadi perhatian antropolog Belanda, Van Kouhen, yang kemudian memberikan nama Sarmi.

Sarmi menjadi fokus perhatian kolonial belanda pada zaman itu, cukup beralasan sebab sarmi merupakan salah satu bagian surga kecil yang tete manis kase mempunyai laut dan kali-kali yang menyimpan potensi ekonomi yang menjanjikan buat Belanda.

Semenjak kolonial belanda meninggalkan sarmi dan papua berintegrasi dengan indonesia, semenjak itulah pertanian dalam arti luar tak terurus dengan baik, membuat warga sami perlahan-lahan ekonomi sedikit hilang karena terbelit kemiskinan di dusun kelapa dan dusun-dusun lain yang tete manis su kase.

Sepanjang perjalanan ke sarmi Pace Obet, mendapat hidangan ringan yang diberikan alam melalui sebuah gambar tentang hutan-hutan Kelapa dan Kakao mulai ditumbuhi tembok-tembok menghiasi sepanjang perjalanan ini, menimbulkan pertanyaan apa yang salah ? dan siapa yang melahirkan kesalahan yang membuat pohon-pohon tembok mulai mengantikan nilai hidup warga Sarmi.

Potret tembok yang tumbuh semakin subur menghiasi pingiran badan jalan kiri dan kanan semakin membuat Obet penasaran, sebab apa yang dibaca memalalui catatan tentang sarmi yang selalu mengkampanyekan konsep "satu kampung satu produk" hanya menghiasi kop surat semata saja.

Obet selalu berharap dengan surga kecil yang tete manis su kase di sebelah barat Kabupaten Jayapura ini, dengan potensi laut dan kali yang melimpah sudah menjadi arah membangun dan mengembangkan komoditi berbasis nilai hidup, yang kalau mau dilihat pada zaman Belanda sudah sedikit nasional dan internasional alias masuk pasar eksport, namun dalam perjalanan pemberian kewenangan khusus belum mengigit para pemangku kepentingan sebab pimpinan masih sibuk urus politik. 

Obet sedih sebab keluarga besarnya perlahan-lahan sedikit ekonomi hilang di dusun-dusun yang tete manis su kase. Hantaman ombak pantainya tak sedikit menyadarkan para pemangku kepentingan untuk berlari mencari para-para adat sebagai sandaran utama sebab bersama warga sarmi untuk maju bersama-sama melawan perubahan.
     

0 comments:

Post a Comment