ANANIAS DARI SORSEL BAGIAN III

Mata Pena : arkam

 
 
 
Ananias menghabiskan waktu tiga ratus enam puluh lima hari untuk menunggu dibukakan pintu itu, namun pintu tak kunjung terbuka lagi. Pintu pegawai pemerintahan yang ditunggu Ananias sepanjang tahun.

Waktu terus bergeser menjadi minggu, minggu menjadi bulan dan bulan menjadi tahun membuat Ananias mulai sedikit putus asah karena tidak bisa membuat papa mama tersenyum.

Ananias merasa beban hidup semakin berat sebab di pundaknya semua harapan papa mama di titipkan, karena Ananias merupakan harta (aset) satu-satunya keluarga terdekat dan keluarga pihak papa papa bahkan sekampung.

Masa depan Annias mulai dikorbankan sebab bunga hati yang mau di ikat dengan adat itu, membutuhkan sumber daya yang cukup besar dan belum di tambahkan dengan ini dan itu.

Persoalan ini melebur menjadi satu yang sedang menuju kebekuan hidup, membuat tubuh Ananias yang kekar seperti seorang binaragawan mulai sedikit layu terisap pikirannya.

Ananias, pada satu hari pernah membayangkan begini. era sudah semakin terbuka tidak seperti yang Ananias lihat ketika melanjutkan pendidikan di seberang lautan yang nun jauh di pulau-pulan lain.

Tata admnistrasi kependudukan yang begitu besar memberikan perlindungan pada warga pribuminya itu bisa dilihat dari pendataan penduduk tetap dan tidak tepat mendapatkan legitimasi hukum yang berbeda pula.

Penduduk tidak tetap tidak diberikan ruang yang besar untuk mengakses sumber ekonomi bahkan berpastisipasi dalam bidang pemerintahan di pekarangan rumah mereka itu, sekalipun semua berbahasa Indonesia.

Lukisan peristiwa yang sedikit dirasakan Ananias pada waktu sedang menuntut ilmu di seberang lautan nun juah di pulau-pulau itu, tidak sama sekali terlihat pada pekarangan rumah yang di berinama sorong ke selatan ini.

Memberi rasa aman kepada Ananias dan warga yang lain belum di temukan sebab kekhususan masih diperdebatkan oleh mereka yang hidupnya menumpang di kecurangan.

Tunggu Seri Ke IV

0 comments:

Post a Comment