ANANIAS DARI SORONG KE SELATAN

Mata Pena : arkam
 
 
Ananias (nama kebetulan) dalam cerita ini, Anias berasal dari keluarga terpandang di kampung, ketika lulus sekolah beraroma putih abu-abu mendapat jempolan lulusan terbaik ukuran kampungnya saat itu.

Ananias mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan keluar tanah kelahiran ke kota seberang lautan nun jauh di Sulawesi, Jawa, Bali, Kalimantan bersama teman-teman seusianya yang juga mendapatkan beasiswa.

Perjalanan menyeberang lautan memakai kapal puith milik perusahaan pelayaran nasional yang kurang lebih seminggu lamanya, untuk mengisi waktu selama perjalanan mereka lakukan dengan bercerita kehidupan di kampung halaman karena kebetulan berasal dari daerah yang sama.

Setibanya di tempat tujuan studi masing-masing, Ananias bersama teman menumpang kendaraan menuju rumah singah atau asrama pemda dan keesokan harinya mendaftar ke kampus pilihan masing-masing.

Ananis menetapkan pilihan melanjutkan sekolah bisnis jurusan akuntansi sementara teman-teman yang lain mengambil jurusan ilmu lingkungan, ilmu pemerintahan, ilmu hukum, tehnik mesin, elektro, sipil, Arsitek. pilihan jurusan itu, menurut catatan Ananias teman itulah jurusan yang palin terbaik.

Hari berganti menjadi minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun, tidak terasa Ananias dan teman-teman sudah berada pada semester akhir dan tinggal merampung pendidikan untuk pulang.

Rinduh kampung sudah tumbuh menjadi benjolan besar yang menungguh waktu untuk memuntahkan bauh aroma kerinduan keluarga serta saudara.

Ananias dan teman-teman berasal dari satu daerah yang disebut sorong ke selatan mekar dari teminabuan yang memberikan kesempatan untuk mekar yaitu sorong sebagai induknya.

Ananias dan teman-teman setelah menyelesaikan studi dan wisuda mereka pulang kembali ke kampung halaman sorong yang keselatan untuk melamar pekerjaan berbayar alias pegawai pemerintahan.

Pegawai pemerintahan sebagai pilihan utama sebab sukses atau menjadi manusia menurut warga sekampung adalah bekerja sebagai pegawai pemerintahan.

Pada satu hari tidak ada anggin dan tidak ada hujan serta tidak ada bisikan alam, Ananias sedikit mulai sadar bahwa jas sarjana yang dipakai bersama teman-teman yang lain semirip sebelas dua belas dengan teman-teman di tempat yang bernama sorong ke selatan.

0 comments:

Post a Comment