Mata Pena :arkam
Tete manis kase "Anu Betha Tubat" sebagai obat anti bodi atau obat penangkal serangan berbagai macam virus menular yang merambat secara alamih atau virus buatan manusia. Berbagai wabah penyakit itu sudah dipikirkan tete dan nene generasi pertama orang A3 bahwa di satu waktu nanti ada trubulensi besar yang akan meratakan seisi rumah yang diberikan tete manis ini, maka perlu di bendung dengan obat anti bodi "Anu Betha Tubat".

Sahut Mara (nama kebetulan) dalam cerita ini, satu hari duduk merenung nasib keluarga besar yang tete manis kase sama tete dan nene mereka untuk di kase nama "Anu Betha Tubat" pada masa-masa kegelapan itu perlu dijaga, dirawat dan dibesarkan bersama ini mulai dengan berjalannya waktu mulai menjadi trending topik menghiasi media lokal dan nasional bahkan media sosial.

Sahut Mara (nama kebetulan) dalam cerita ini, menghabiskan waktu siang hari untuk berjalan mencari di atas gugusan batu-batu cadas apa yang salah dan siapa yang melahirkan kesalatan itu serta malam hari digunakan untuk doa dan meditasi mencari petunjuk atau jawaban lewat bisikan alam. 

Pada waktu melakukan meditasi dan doa di malam hari Sahut Mara (nama kebetulan) menemukan satu penunjuk arah kemana jalan yang akan dilalui untuk bisa menemukan jawaban sementara yang perlu diuji kebenarannya yaitu pendidikan.

Sahut Mara (nama kebetulan) meminjam catatan para ahli kehidupan yang menjelaskan bahwa semakin baiknya pendidikan warga masyarakat akan memperkecil perbedaan dan memperbesar peluang untuk bertransformasi pada berbagai bidang.  

Pendidikan tidak begitu banyak memberikan rembesan nilai positif walaupun setiap mata rumah warga masyarakat hampir sebagian besar menamatkan pendidikan sarjana. Pendidikan tidak memberikan rembesan positif karena nilai lebih dari pendidikan itu sebenarnya menurut pikiran Sahut Mara (nama kebetulan) yang hanya lulusan kelas tiga sekolah dasar yaitu memperkecil perbedaan dan memperbesar peluang atau kesempatan.

Sahut Mara (nama kebetulan) bersama keluarga besar yang biasa di panggil orang A3 (Ayamaru, Aitinyo, Aifat) dalam catatan resmi tata administrasi pemerintahan di registrasi dengan nama Maybrat/Maibrat/Meibrat yang pemaknaanya berpulang pada keluarga besar Sahut Mara (nama kebetulan) sendiri mana yang benar menurut bahasa yang tete manis su kase itu.




arkam.id, Kemandirian merupakan satu soal yang masih tersangkut di pikiran sembilan dari sepuluh warga papua selalu bertanya "kapan daerah kami bisa mandiri" sudah hampir kurang lebih lima puluh tahun berintegrasi ke Indonesia.

Budi (nama kebetulan) dalam cerita ini, selalu dan selalu berpikir bahwa semua sumber daya fisik dan non fisik sudah digerakan semuanya, namun masih saja ada soal yang tertinggal untuk diselesaikan lagi yaitu "kemandirian daerah".

Pembentukan sekat-sekat baru (pemekaran) di harapkan sudah bisa melahirkan inovasi-inovasi baru yang berasal dari daerah-daerah pemekaran tersebut, tetapi yang ditemukan semua hanya kopas karena lagi trending topik di media nasional dan media sosial.

Mungkin sudah mencapai jutaan paket kebijakan di keluarkan Budi (nama kebetulan) semuanya hampir pasti di sumbangkan kekantong belanja konsumtif (konsultasi, berkoordinasi, jalan keluar daerah, jalan kedalam daerah) melebihi kegiatannya.

Sepotong cerita "kemandirian" dihadirkan sebagai arah penunjuk jalan ke satu wilayah yang diambil namanya dari empat suku besar yaitu : Yali, Hupla, Kimnal, Momuna disatukan menjadi nama Kabupaten Yahukimo dengan ibu kota pemerintahan berada di "Dekai".

Inovasi daerah untuk memetik kemandirian sudah dilahirkan melalui prakarsa pimpinan lokal di era kehususan yang apabila dilihat teman-teman tata kota pasti dan pasti diberikan pilihan pada skala lima sanggat puas sekali dengan kerangka dasar membangun dan mengembangkan Dekai menuju kota modern di masa depan.

Inovasi baru seukuran tanah papua sudah dilakukan Yahukimo dengan mempersiapkan hutan-hutan kota sebagai lokomotif pengerak ekonomi utama (PAD) untuk memperkecil ketergantungan dengan Budi (nama kebetulan) dalam cerita ini.

Dekai ibu kota Kabupaten Yahukimo merupakan kota di tengah hutan yang apabila dikelola memakai sentuhan ilmu manajemen tata kota akan menjadi salah satu kota terbaik di Nusantara.@arkam
arkam.id,  Sampaikan-sampaikan sama teman-teman kamu ada "Ekonomi Baru" yang lahir dari komoditi berbasis nilai hidup yang sudah sedikit nasional alias masuk pasar ekspor ke beberapa wilayah di luar Papua, namun dalam perjalanannya belum begitu mengigit para pemangku kepentingan.

Daerah di selatan tanah papua tepatnya merauke masyarakat lokal mulai tergerak membangun dan mengembangkan potensi yang tersimpan di rawa-rawa menjadi sebuah produk bernilai ekonomi tinggi.

Ide mengembangkan ikan gastor asing, lahir dari prakarsa masyarakat lokal yang diprakarsai Budi (nama kebetulan) dalam tulisan ini, Budi merupakan seorang Jamer (jawa merauke) orang tuanya merupakan transmigrasi pertama yang datang di merauke.

Untuk menangkap peluang yang ada budi mulai membentuk kelompok petani plasma di beberapa titik yang sudah di sepakati di wilayah tanah miring dan sekitarnya. Alat tangkap dan bahan-bahan pembuatan ikan asing gastor semuanya masih di sediakan Budi, sebab rata-rata dompet masyarakat lokal masih sakit.

Proses produksi ikan asing gastor dilakukan budi dengan menjeput langsung pada tempat-tempat yang sudah disepakati bersama petani plasma. sementara proses pembelian ikan asing gastor dilakukan dengan pengurangan bahan-bahan yang diberikan Budi barulah harga bersih ikan asing gastor per kilo diterima masyarakat lokal.

Cerita singkat di atas memberikan sedikit simpulan bahwa ekonomi baru sudah lahir dari prakarsa masyarakat, namun belum begitu mengigit karena pemerintah masih sibuk mengurus politik.@arkam
Mata Pena : arkam

Sudah dikase begitu banyak pemekaran mulai tingkat kampung, distrik sampai kabupaten dan provinsi yang di sertai anggaran yang tiap tahun terus meningkat, belum juga membuat masyarakat mengucap syukur atas berkat yang diberikan ini. 

Publikasi data statistik yang dikeluarkan para analisis dengan memakai metode yang teramat cangih semuanya hanya sebatas mengeluarkan rekomendasi potensi ekonomi sektoral yang konon katanya kalau di kelola dengan baik akan menguraikan kemiskinan di kampung.

Belajar dari Sulawesi yang kalau tidak salah merupakan pemain utama komoditi kakao nomor satu di Indonesia yang luas wilayah dan kesuburan tanahnya mungkin kalah dengan tanah papua yang tete manis kase ini. Lokomotif ekonomi utama pulau Sulawesi sudah jelas arahnya pertanian dalam arti luas.

Sementara bila dilihat dari daftar daerah penghasil komoditi kakao Indonesia, Papua berada dalam urutan kelompok lain-lain, akan menimbulkan pertanyaan Apa yang salah dan siapa yang melahirkan kesalahan...!

Arus anggaran yang masuk tiap tahun akan semakin bertambah sementara arah membangun dan mengembangkan ekonomi berbasis nilai hidup masyarakat sudah semakin tidak jelas sebab masing-masing sudah sibuk dengan urusan dirinya sendiri. Anggaran yang besar itu diharapkan akan melahirkan inovasi-inovasi baru atau pusat-pusat ekonomi baru berbasis nilai hidup setempat.

Belajar dari Pulau Sulawesi.....kenapa harus ke pulau pulau-pulau lain di Indonesia.....!

Membaca suara rakyat yang dikemas dalam paket cantik yang di berikan nama lembaga budaya karya anak bangsa memberikan gejolak batin amat dalam mengalir bersama ruang-ruang realita sosial yang tersimpan dalam rekaman gejolak jiwa ada sedikit tersangkut di hati warga papua.
Dengan segala permasalahan sudah semakin besar benjolan yang menunggu waktu untuk mengeluar bauh tak sedap, apakah lembaga budaya dapat menyirami gejolak jiwa warga masyarakat dalam membakar peta Indonesia. Apakah mereka juga terkena gentahnya atau mereka itu yang disebut para analisis manusia abuh-abuh.
Apakah buku ini selalu memberikan perasaan hangat dalam hati warga masyarakat, masih banyak warga masyarakat menggangab bahwa lembaga budaya tidak dapat menjawab aspirasi warga masyarakat. Persoalan jawab dan tidak menjawab aspirasi semua berpulang pada motivasi diri pribadi sebab jujur itu pilihan.
Hal ini bisa disebabkan perwakilan instusi itu tidak representatif mewakili warga masyarakat, ataukah masih dikuasai oleh kelompok kepentingan yang otoriter dalam pasar gagasan. Teori alam sudah secara jelas mengungkapkan tentang buah yang baik dihasilkan dari proses pemilihan bibit tanam yang baik pula.
Kewenangan yang tidak pernah dan tidak akan mengakui “sama rata sama rasa” yang dijawabnya dengan menjaga dan mengawal berbagai kebijakan dan regulasi di berbagai sektor sampai pada pemberian alokasi anggaran dalam berbagai paket-paket  kebijakan daerah yang secara rasional melenceng jauh dari harapan.
Secara sadar atau tidak para lembaga buday dan pemimpin daerah ini bagaikan tukang pos yang selalu mengantarkan paket-paket titipan dari pusat secara sporadis di paksanakan untuk dijalankan di tanah papua. Belum terbangunnya sebuah filter atau tempat penyaringan mulai dari tingkatan terendah sampai ke tingkatan lebih tinggi agar apa yang dikerjakan benar-benar sesuai kebutuhan dan keingginan masyarakat.
Filter penyaringan yang dimaksukan adalah musyawara dan mufakat di putuskan bersama warga di para-para adat. Proses di para-para adat itu dibuat agar kita semakin sadar dan mengerti masuk rumah atau kebun orang harus minta ijin sama pemiliknya. Proses ini bila dilakukan dengan teratur maka warga papua akan memberikan sebuah stempel yang ada tertulis “Anak Adat Tahu Adat”.
Membaca buku besar yang diberikan tete manis dengan begitu besar keunikan ini, masih menyimpan berjuta misteri yang selalu dan selalu akan menghasilkan sejuta alasan tanpa pajak yang membuat manusia dari seberang lautan nun jauh di Maluku, Sulawesi, Jawa, Bali, Sumatra dan Kalimantan untuk menyeberangi lautan mengadu nasibnya di pekarangan rumah bukan milik mereka.
Masuk keluar manusia tak pernah memberi suara pada sang pemilik pekarangan rumah, itu semua di sebabkan sama-sama dibaluti selimut merah putih yang sama-sama berdarah merah dan bertulang putih walaupun hanya ras yang membedakan antara Melayu dan Melanesia serta dibaluti satu bahasa yaitu bahasa Indonesia.
Meminjam catatan para maha guru yang menjelaskan persoalan kemiskinan membuat tidak ada pilihan lain untuk tidak datang ke sumber mata air, tempat dimana mereka dan keluarga akan tumbuh menjadi orang-orang sukses di berbagai pekerjaan karena bermodalkan pendidikan yang baik pula.
Mereka melakukan migrasi besar-besaran tanpa pajak karena Papua begitu kaya akan sumber daya alam dan sekaligus sebagai tempat membangun kerajaan bisnis keluarga di seberang lautan nun jauh disana. Warga papua hampir rata-rata pendidikan lulus sekolah dasar kelas tiga dan lulus sekolah menengah pertama kelas tigah bahkan sampai perguruan tinggi ternama juga wisudah semester lima atau belum pernah sama sekali menyentuh pagar sekolah atau kampus, soal ini yang membuat mereka tidak mampu menghadapi perubahan yang semakin cepat ini.
Guntingan kertas ini, dihadirkan sebagai menu sarapan pagi buat mereka-mereka yang konon katanya sebagai penjaga pekarangan rumah Papua dari berbagai parasit yang semakin liar mengisap sari bunga di taman ini perlu dibendung dengan balutan selimut (budaya) yang tete manis su kase ini sebaik-baiknya agar semerbak ke seluruh penjuru tanah kasuari ini, agar mereka tetap berdiri kokoh dalam satu tungku satu budaya Papua.
Hadirnya penjaga tanah papua yang dimaksudkan adalah majelis rakyat papua sebagai corong utama dan terdepan dalam menyuarakan suara mereka yang tak bersuara karena keterbatasan dan ketertinggalan kereta di zaman kekinian dan dimasa depan nanti. Mereka tertinggal namun setidaknya masih punya mimpi menjadi manusia sejati seperti bird of paradise serta punya garis tanggan penghidupan penuh kebahagian seperti warna burung surga yang tete manis su kase itu.@arkam.

Mata Pena : arkam
Populasi manusia yang terus berkembang berdasarkan deret hitung tiap tahun meningkat, namun tidak berbanding luruh dengan ketersediaan lapangan pekerjaan. Kondisi tersebut dipersulit atau diperparah lagi dengan semakin berkembangnya tehnologi informasi membuat beberapa pekerjaan sedikit lagi hilang sebab digigit belanja non tunai dan produk-produk pengelolaan keuangan berbasis tehnologi serta belanja onlie. Tehnologi dihadirkan sebagai pilihan terakhir yang terbaik untuk menekan atau mencegah penyalah gunaan anggaran.
Potret pembangunan semenjak berintegrasi dengan Indonesia sampai tahun ini, perjalannya sedikit mengalami pasang surut yang disebabkan strubulensi status politik Papua yang masih dipersepsikan beberapa orang terdidik maupun masyarakat kurang terididik namun sudah cerdas memberikan simpulan pembangunan warga Papua masih dalam tanda tanya dan tanda seruh sebab begitu besar anggaran dan program atau kegiatan yang dilakukan tidak terah membuat pembangunan mengalami kepincangan dengan wilayah barat Indonesia.
Manajemen tata kelola pemerintah daerah memunculkan persoalan yang masih tersangkut di hati yang mungkin sedikit susah untuk dijelaskan dengan kaca mata rasional bahwa sudah begitu banyak pemekarang wilayah yang di sertai pemberian kewenangan pengelolaan keuangan daerah sendiri, namun masih ada saja ocehan-ocehan kecil dari para pemangku kepentingan dengan memberi cap secara umum tanpa di perkuat data secara cepat memberi simpulan pemerintah belum berhasil membangun warga Papua.
Dalam kaitan itu, ada persoalan lain yang cukup menarik juga untuk diamati secara terpilah dengan membaca rencana pembangunan jangka menengah maupun jangka panjang kabupaten atau kota dengan memakai sampel acak pada penyusunan program dan kegiatan serta besaran anggaran yang terdistribusi pada masing-masing komponen belanja tidak disertai ukuran-ukuran yang jelas menimbulkan tanda tanya.
Selanjutnya dengan tidak ditetapkan ukuran-ukuran yang jelas dan rasional kemanfaatan belanja tersebut akan menimbulkan dugaan bahwa jangan-jangan ada konspirasi para pemangku kepentingan untuk menikung angaran tersebut pada kebutuhan belanja yang sifatnya memperkaya diri sendiri. Dugaan ini dimunculkan sebab kalau dilihat dari sudut pengelolaan anggaran berbasis kinerja pemerintah belum secara serius atau tegas melakukan pencegahan pada sumbangan ke kantong korupsi dan belanja konsumtif pemangku kepentingan.
Pemerintahan di era kepemimpinan Joko Widodo dan Yusuf Kalla mulai mengambil langkah-langkah strategis dengan program nawacita yang salah satunya mengembangkan konsep membangun dari wilayah pinggiran atau wilayah kampung ke kota, model itu dilakukan sebagai titik masuk untuk menghadirkan Indonesia kembali di wilayah-wilayah pinggiran Papua.
Kesempatan yang lain yaitu pemerintah membantu mempercepat proses pembangun di papua dengan cara memekarkan beberapa wilayah menjadi daerah otonom baru mulai dari tingkat terkecil Kampung, Distrik, Kabupaten dan Provinsi yang diperkirakan akan terus dimekarkan tahun ini, karena pemerintah mulai sadar bahwa Indonesia sedikit mulai hilang di Papua.
Pemerintah memberikan otonomi secara penuh kepada kampung untuk mengelola keungan kampung dengan anggaran yang diberikan teramat besar dengan peruntukan untuk membangun kemandirian melalui pengelolaan potensi kampung secara ekonomis, efisien dan efektif dengan selalu memegang prinsip transparansi dan akuntabel karena anggaran yang diberikan milik bersama warga kampung.
Untuk menghindari hal-hal negative dalam pengelolaan keuangan kampung, maka pemerintanah tingkat kampung selalu dan selalu diarahkan bahkan dipaksakan dengan pemerintah mengeluarkan kompas penunjuk arah pengelolaan keuangan kampung dengan baik melalui beberapa aspek meliputi : (1) Perencanaan Program; (2) Penganggaran (RAPBDesa); (3) Pelaksanaan Program dan (4) Pengawasan dan Evaluasi. Empat aspek tersebut merupakan elemen penting yang terintegrasi satu sama lain dalam pengelolaan keuangan kampung.
Perjalanan pengelolaan keuangan kampung masih menimbulkan berbagai macam persoalan, namun yang paling besar mendapatkan sorotan yaitu aspek sumber daya manusia aparat kampung, dimana rendahnya tingkat pendidikan membuat pemahaman mereka tentang pengelolaan keuangan kampung masih minim, hal tersebut bisa juga dilihat dari kecepatan penyelesaian laporan keuangan kampung belum sesuai kalender belanja pemerintah daerah per tanggal 15 Desember batas akhir pelaporan keuangan kampung ke Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah.
Persoalan pengelolaan keuangan kampung semakin menarik untuk di dalami lebih dalam khususnya di Papua yang perjalanannya banyak menghiasi surat kabar lokal dan nasional bahkan menjadi trending topik di media sosial sampai-sampai ada aparat kampung yang nama naik karena menikung anggaran kampung untuk memperkaya diri sendiri. Persoalan bermunculan ke permukaan semua itu pasti disebabkan kurangnya partisipasi masyarakat melakukan pengawasan membuat aparat kampung menikung anggaran kampung.
Data lapangan menujukkan pengelolaan keuangan kampung di hampir seluruh wilayah papua belum berjalan sesuai yang diharapkan pemerintah, hal itu bisa dilihat dari proses (1) Perencanaan Program; (2) Penganggaran (RAPBDesa); (3) Pelaksanaan Program dan (4) Pengawasan dan Evaluasi semuanya sudah berjalan dengan baik karena ada dukungan para pemangku kepentingan terkait dalam pelaksaan program dan kegiatan tidak ditemukan kesalahan sementara pada kecepatan pelaporan keuangan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.
Satu daerah di wilayah kepala burung (lihat peta papua) di temukan pemerintahan Belanda 1908 sudh ada kontak, namun Belanda melaksanakan pemerintahan 1924 dan sepuluh tahun kemudian 1934 barulah terbentuk kampung-kampung secara permanen di dirikan oleh masyarakat secara swadaya.

Ayamaru diambil dari dua suku kata aya = air dan maru = telaga/danau karena masyarakat menetap di seputar danau.

Catatan masa lampau menjelaskan saudagar dari wilayah Ternate melakukan kegiatan perdagangan ke Irian Jaya pada masa itu melalui wilayah Fak-Fak, Kokas, Babo, Kokoda dan pulau-pulau Batantan, Waigeo dan Salawati.

Visi saudagar dari wilayah Ternate perdagangan yang dibaluti juga dengan penyebaran ajaran agama Islam di wilayah-wilayah di atas.
Perjalanan sorong maybrat dan sorong selatan yang merupakan dua wilayah pemekaran kabupaten sorong, Anda akan dimanjakan pemandangan alam yang luar biasa indahnya mulai dari klamano menimbulkan tanda tanya tugas apa yang akan Anda buat sebagai seorang pemimpin yang waktu kampanye katanya mensejahterakan masyarakat.

Kiri dan kanan badan jalan tumbuh semak belukar yang belum disentuh dan apabila disentuh akan menghasilkan nilai lebih buat masyarakat disepanjang sorong maybrat dan sorong selatan yang diperkirakan akan memperkecil ketergantungan masyarakat pada bantuan pemerintah pusat maupun daerah.

Belajar dari sulawesi, negeri diseberang lautan merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang luas Kabupaten yang mungkin tak seluas wilayah sorong pada umumnya, namun wilayah sulawesi sebagai pemain utama komoditi Kakao Indonesia.


Semua dari kita pasti mengerti bahwa hidup untuk berbuah, hanya kita perlu mengerti benar bahwa kita menghasilkan buah yang baik agar dapat dimakan semua orang. Dalam sari buah ini memberikan arti yang konprehensif, meminjam tanggapan analis dalam perumpamaan Yesus menggambarkan dirin-Nya sebagai Pokok anggur yang benar dan murid-murid-Nya digambarkan sebagai rantingnya. Ranting akan tumbuh dengan baik bila ia melekat pada pohon. Demikian juga dengan kita, kita akan tetap hidup apabila selalu bermakna buat orang banyak.

Kesimpulan demikian terangkat dari semakin minimnya regenerasi kepemimpinan dalam mengemudikan sebuah perahu layer yang diberi nama pemerintah kearah mana misi pemerintah akan dibawah.

Remang-remang kepemimpinan saat ini, fenomena ini apakah diakibatkan oleh semakin rendahnya tingkat pemahaman kepemimpinan atau kah ilmu kepemimpinan.

Masalah semakin meningkat dengan kemimpinan dan segala peristiwa yang terjadi memberi gambaran masih rendahnya tingkat kedewasaan seorang pemimpin dalam merespon segala perubahan amat dasyat saat ini. Kepemimpinan organisasi formal membuat para pemimpin tidak bisa berkembang sebagai pemimpin yang dewasa. Meminjam tangapan Argyris dikatakannya bahwa karena organisasi menurut kebiasaannya menciptakan tujuan-tujuan yang harus dicapai secara kolektif, maka seorang pemimpin organisasi formal seringkali merupakan arsitek dari konsepsi bagaimana tugas pekerjaanya dalam rangka tujuan tersebut. Oleh karena itu, mereka bertindak tidak matang. Para pekerja dalam banyak organisasi diharapkan bertindak dalam cara yang tidak dewasa.

Amanat itu menjebatani isu-isu kepemimpinan, tetapi kembali pada isu-isu dalam pemerintahan daerah saat ini ternyata lebih sulit . gaya kepemimpinan Bert Kambuaya mencoba mengembalikan upaya-upaya untuk memperbaiki sistem organisasi yang kaku serta menyiapkan orang-orang muda yang siap memasuki dunia baru melalui sistem seleksi yang solit dalam menyelidiki beberapa ukuran obat resep untuk menyiapkan pemimpin-pemimpin professional papua yang memiliki integritas moral yang tinggi.

“BERSIKAP TERBUKA”

Meskipun Bert Kambuaya dirinya dengan cara-cara yang santai, ia tidak memisahkan dirinya dengan warga disekitarnya tersebut. Ia memang seorang unggulan yang dipersiapkan menjadi pemimpin masa depan daerah ini. Ia bersikap terbukan membuat warga papua mengaguminya bekerja dalam suatu pencerahan moral yang tinggi. Bert Kambuaya dalam memimpin selalu memberikan kesempatan pada team worknya untuk memberikan masukan-masukan serta mengevaluasi kinerja organisasi yang dipimpinnya dengan membuat para bawahannya seturut dengan misi mau dikemanakan organisasi ini, sehingga bawahannya seturut dengan kepemimpinan Bert Kambuaya. Memang sich…. Ini bukan hal mudah bahkan kadang menyakitkan dengan berpegang pada ajaran-ajaran moral agama. Sungguh mengagumkan ajaran firman tuhan dalam surat Yohanes 15:8 sebagai berikut :

…..Bapa-Ku dipermuliakan,……jika kamu berbuah banyak…..

Apakah tidak cukup jelas bahwa firman Allah ini ternyata tidak sejalan dengan ajaran kepemimpinan yang selalu menyatakan bahwa keberhasilan seorang pemimpin ialah dapat memperngaruhi orang lain atau bawahannya ? Meskipun terasa “menyakitkan” toh harus kita katakan bahwa asumsi dasar ajaran kepemimpinan yang kita pelajari selama ini memang bertentangan dengan ajaran agama, tidak saja agama Kristen tetapi juga semua agama yang ada dan dikenal di dunia.

(Arius Kambu, Ekonomi Uncen)