Aku coba untuk mengerti arti Meibrat/Maibrat/Maybrat, mungkin masih ada tersisah cerita untuk generasi di masa depan orang Meibrat atau sudah semakin kusut.

Bila cerita itu benar, maka ikatlah dengan tulisan agar tidak termakan zaman now.
Pernahkah kau dengar cerita orang tua tentang "ANU BETHA TUBAT" yang pada zaman kekinian sudah berada pada keadaan setengah hidup.

Aku mencoba untuk terus mencari Meibrat untuk merangkaikannya kembali secara perlahan-lahan agar tidak semakin kabur termakan zaman karena kita saling siku menyiku.


Zaman semakin terbuka dengan dorongan NEED yang teramat kuat sampai kita lupa sama mereka yang memberikan tanah garapan untuk pembangunan kantor-kantor pemerintahan dengan pelepasan tanah adat sampai penetapan keputusan lewat sertifikat tanah berarti sampi di situ urusan pemerintah dengan pemilik tanah. 

Fenomena itu mungkin harus kita dalami bersama bahwa pemilih tanah ini pasti memiliki generasi penerus yang sebenarnya harus di lihat dari kaca mata HAK HIDUP. Jika memakai kaca mata itu, maka kita semua hampir pasti menemukan jawaban yang sama bahwa mereka KORBAN PEMBANGUNAN yang seharusnya di perhatikan pemerintah daerah.

Bagaimana perhatian pemerintah daerah. analisis sementara arkam dijelaskan bahwa pemerintah daerah sudah sepatutnya membentuk sebuah unit terkecil (CSR) di bagian humas untuk menyiapkan segala aturan main serta menyediakan 0,1 persen APBD untuk memberdayakan mereka, agar kepastian HAK HIDUP mereka bisa berlanjut dari generasi ke generasi agar tidak ada yang menjadi korban dari pembangunan itu sendiri.

Dengan terbentuknya unit terkecil (CSR) di bagian humas, maka dinyakini persoalan-persoalan pemalangan sudah bisa teratasi karena mereka sudah tidak merasa sebagai korban pembangunan. selamat merenung....

SORONG AWAL JANUARI 2018. Kumbang plastik hitam, mulai bertebaran membuat formasi di negeri yang dulu ada minyaknya (sorong) mengambil sari bunga di pekarangan rumah dengan tak pernah merasa maluh sama pemilik lahan.

Aku kaget ketika melihat pergerakan yang sudah semakin tidak beraturan dilakukan si kumbang plastik hitam itu. Aku mera sedih ketika melihat realitas sosial itu dengan membuka kembali berbagai catatan tentang Sorong yang disampaikan para pakar dengan berbagai analisisnya bertabrakan arus dengan kondisi saat ini.

Aku terus berjalan untuk mencari pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang digerakan ekonomi lokal orang Papua Asli Moi dan Orang Papua Bukan Moi dengan komoditi yang berbasis nilai hidup (pisang, kasbi, petatas, sayur kangkung, sayur hutan, hasil buruang di hutan, dan hasil tangkapan di kali serta nilai hidup yang lain).

Aku terus melangkah mencari sumber-sumber pertumbuhan ekonomi lokal Orang Papua Asli Moi dan Papua Bukan Moi itu, untuk bisa memberi simpulan kecil bahwa proteksi ekonomi harus di lakukan ataukah tetap pada ekonomi berkeadilan.

Puluhan kilo Aku lewati sebut saja tampa garam sampai pelapuhan konteiner semua potret dilahap habis sampai melintas sedikit di wilayah Aimas yang dulu konon katanya lumbung padi untuk sua sembada beras itu hari ini yang terlihat bukan padi yang ditanami melainkan pohon-pohon tembok yang tumbuh subur.

Mengeliatnya kota ini mulai menganggu anak asli papua moi dan papua bukan moi pada sektor ekonomi, pertumbuhan ruko semakin liar memberikan pejelaskan bahwa pemain utama pada bisnis ini adalah pemilik modal.

Dalam perjalanan merangkaikan cerita kota sorong yang sudah mulai semakin kabur karena buku yang Anda baca dengan buku yang saya baca tahun terbitnya tidak sama ataukah kaca mata Anda dengan kaca mata saya beda pada ples minernya.

Aroma malam mulai tercium ketika matahari di jemput malam di atas langit raja ampat....aku melangkah dan terus melangkah menikmati indahnya malam di satu taman yang diabadikan dalam lagu Insos Raja Ampat & Bunga Cenderawasih yaitu Taman Deo Sorong.

Dalam menambah refrence tentang kota ini, aku harus mendalami kehidupan malam dengan mampir sebentar di taman deo mengisi bahan bakar dan melanjutkan perjalanan melihat pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang digerakan oleh orang asli papua moi dan papua bukan moi pada malam hari hampir juga di pastikan bahwa ekonomi kota ini semuanya digerakan oleh kawan-kawan dari luar Papua sebagai pemilik modal. 
Nama Aku Maybrat, Aku adalah gabungan tiga suku besar yang mendiami gugusan batu karang di pedalaman kepala burung, pada zaman generasi pertama di sebut orang A3.

Aku di lahirkan dalam kandungan budaya seperti kandungan EMAS 24 karat yang dibaluti dengan BOMIRA agar tak pernah akan tercecer karena Need atau dalam bentuk-bentuk penolakan lain sebagai penolakan (zaman now).

Ilmu yang dipraktekkan generasi pertama orang A3 zaman itu adalah Teori Transparansi dan Akuntabilitas Tanpa Catatan lewat kegitan yang di sebut "BOFEAH". 

Generasi pertama yang mungkin lulusan kelas lima SD tapi sudah terdidik membuat praktek-praktek cerdas yang hari ini bermanfaat dalam belanja publik.