Melihat berita maupun media online yang menampilkan berita tentang bencana alam yang datang hanya hitungan detik namun meninggalkan luka yang membekas sebab nyawa dan harta habis terhampas ombak pantai yang misterius itu.

Image result for tsunami
Sumber : Google.Com

Bencana alam itu membawa kita semua pada satu ruang yang disebut waktu, sebab bangkit itu butuh waktu yang tidak sedikit atau kasarnya mulai menjalankan hidup dari titik nol.

Properti dibangun puluhan tahun, hari ini hanya tinggal kenangan karena bangsa ini tidak pernah mau belajar dari bangsa lain sebut saja Jepang yang warganya hidup minimalis sebab ada alasan yang masuk akal yaitu Jepang merupakan wilayah atau negara yang sering terkena bencana gempa bumi.

Jepang merupakan wilayah yang sering sekali terkena gempa membuat warga hampir rata-rata memilih hidup minimalis dengan properti sesuai kebutuhan hidup atau lebih jauh lagi belanja fungsi.

Sementara itu, bila dikaitkan dengan bencana alam atau kebakaran di Indonesia biasanya menurut berita memberikan informasi berkait dengan jumlah kerugian harta benda yang bertampak biasanya dimunculkan sebagai trending topik beberapa media nasional maupun media online.

Selanjutnya bangsa ini harus belajar banyak dari sejarah tentang berbagai peristiwa baik alam maupun human erros dibeberapa daerah di Indonesia bahkan luar Indonesia sebagai rujukan penting untuk hidup sederhana atau minimalis dan sehat sebab ledakan penduduk semakin tak terkendali yang menyebabkan hunian tumbuh tidak bersahabat dengan alam.

Mulai tahun ini, harus menata kembali diri walaupun sudah jauh melangkah dalam sesuatu tindakan yang sebenarnya salah ketika ukuran ruang dan waktu kekinian, maka tidak ada salahnya untuk mulai tahun ini mulai hidup minimalis dan sehat. @arkam
Membaca pendapat berbagai pakar dengan ribuan analisis berkait dengan satu wilayah timur Indonesia yang katanya terluas nomor 2 (dua) setelah Kalimantan ini yang juga bila dilihat lagi memakai ukuran luas wilayah itu, maka potensi ekonomi baik darat, laut dan udara terbaik di planet yang hanya satu ini.

Sementara itu, bila dilihat lagi memakai ukuran integrasi kedalam peta Indonesia sampai tahun ini, perjalanannya sudah sedikit berubah walaupun ada sedikit turbulensi itu wajat-wajar saja sebab tingkat kemajuan (pendidikan) warga masih duduk belum sama rata dengan teman-teman dari daerah yang nun jauh di Pulau Ambon, Sulawesi, Jawa, Kalimantan dan Sumatra.

Selanjutnya dalam perjalanan politik istimewa dengan pemberlakuan khusus seperti perawatan bayi dalam inkubator, ini semua dilakukan karena ada sebagian bangsa Papua yang inggin memisahkan diri karena tidak pernah sama sekali merasakan arti keadilan seperti yang disimpolkan dengan padi dan kapas itu.

Kondisi ketidak adilan disebabkan disebabkan bermacam-macam warna hidup membuat Jakarta mengeluarkan jurus politik istimewa dengan keuangan otonomi khusus, namun masih ada saja soal yang terlewatkan untuk diselesaikan Jakarta bersama perwakilan di Papua.

Akhir tahun ini, mulai hangat di Jakarta yaitu pembangunan Papua berbasis 7 (tujuh) wilayah adat sudah mendesak untuk dilaksanakan dalam menaikan Indeks Kebahagiaan Orang Asli Papua yang selama ini masih fluktuatif agar menjadi konstan.

Dalam tema yang diangkat ini, berawal dari keprihatinan penulis melihat peta ekonomi warga Papua selama era politik keistimewaan ini warga masih berada dalam kondisi yang memiluka sebab begitu banyak keuangan otonomi khusus sampai tahun ini belum juga mampu menaikkan total asset warga Papua dalam bentuk uang dibank, namun gambaran yang didapatkan mereka hanya dipaksanakan untuk menaikan belanja konsumsi yang diukur dari tumbuh sumburnya newcomers (usha non Papua).

Semakin tumbuhnya newcomers itu, bukan berdampak buruk pada usaha warga Papua, yang membuat teman-teman di pemerintahan bahkan sampai wilayah politik yang katanya mewakili suara rakyat itu bicara warga Papua harus mendapatkan proteksi.

Cerita proteksi sebenarnya bukan saran utama dalam menyelesaikan masalah sebab proses sebuah bisnis itu tumbuh melalui sebuah siklus bisnis yang saling menguntungkan antara produsen dan konsumen yang difasilitasi oleh sebuah jembatan yang dalam ilmu pemasaran biasa disebut Saluran Distribusi.

Saluran itu, biasanya terbangun atas kesepahaman kedua belah pihak dengan harga yang sudah ditetapkan atau disepakati bersama, walaupun dalam perjalanan fluktuatif, tetapi itu wajar-wajar saja bagi petani atau produsen.

Persoalan kita yang belum terpevahkan berkait pembagian wilayah adat atau dalam diskusi lain biasa juga disebut wilayah pembangunan yang dalam perjalan sampai tahun ini belum juga memberi dampak ekonomi pada warga Papua, itu bisa juga diukur dari berapa warga Papua yang memiliki buku tabungan serta belum juga dilihat dari berapa total asset warga Papua dalam bentuk uang.

Berangkat dari ukuran belanja tabungan dan total asset, maka dapat disimpulkan bahwa sektor ekonomi tidak bergerak sesuai dengan apa yang diharapkan dari cita-cita dari arti BANGKIT itu sendiri, hal ini juga diperparah lagi dengan publikasi media online katada yang menampilkan data Kabupaten pengelolaan APBD terbaik di bidang ekonomi, hanya 2 (dua) kabupaten di Papua yaitu : Asmat dan Pegubin, dinyal ini memberikan simpulan bahwa pengembangan sektor ekonomi di wilayah adat masih sebatas wacana dan serimonial saja.

Melihat dari cerita singkat di atas, maka perlu ada konsep pembangunan ekonomi semeja yang dilakukan pada wilayah adat yang terlebih dahulu dibuatkan Road Map pengembangan komoditas dimulai dari hulu sampai hilir dengan selalu melibatkan tokoh masyarakat pada masing-masing wilayah adat sebagai pendamping warga Papua dalam melakukan usahanya.

Keterlibatan tokoh masyarakat itu, penting sebab pemerintahan non formal sudah ada sebelum adanya pemerintahan modern, oleh karena itu, para elit tingkat kampung perlu diberikan kewenangan yang hampir setingkat dengan pimpinan daerah, sebab sistem pemerintahan formal dan non formal masing-masing menjalankan fungsi dan tanggungjawabnya masing-masing.@arkam     
Melihat dan membaca kembali perjalanan politik istimewa yang diberikan pemerintah pusat kepada wilayah paling timur Indonesia yang katanya luas wilayahnya terbesar nomor 2 (dua) setelah Kalimantan dengan air yang bening dan hutan yang hijau tidak berbanding lurus dengan kemiskinan, padalah jumlah penduduk hanya 3.207.444 jiwa yang katanya akan mencapai bonus demografi itu.

Sementara itu, bila dilihat dari masa berintegrasi dengan Indonesia sampai tahun ini sudah melahirkan 2 (dua) Provinsi dan 28 (dua puluh delapan) Kabupaten, 1 (satu) Kota di Provinsi Papua serta 12 (dua belas) Kabupaten, 1 (satu) Kota di Provinsi Papua Barat. Sinyal ini memberikan informasi bahwa Tanah Papua ini sudah disekat-sekat habis oleh Pemerintah.

Merujuk pada sekat di atas, maka timbul pertanyaan, apakah sekat itu sudah memperhatikan peta budaya ataukah hanya memakai foto satelit..?? Para pembaca pasti ada yang bertanya-tanya berapa besar pentingnya issu ini harus dimunculkan kembali dengan alasan yang mungkin bisa sedikit diduga yaitu kenapa orang Papua tidak bersyukur bahwa sudah diberikan politik istimewa dengan slogan kekhususan itu.

Para pembaca sekalian, Papau yang berbentuk burung kasuari itu bukan tanah konsong yang tak berpenghuni atau lebih mendunia itu dibilang tanah tak bertuan, yang bila ditarik lagi kepeta wilayah adat, maka ada kesepahaman bersama antar pihak membaginya kedalam 7 (tujuh) wilayah adat yaitu : 2 (dua) berada di Provinsi Papua Barat dan 5 (lima) berada di wilayah Provinsi Papua.

Pada 7 (tujuh) wilayah adat ini masing-masing wilayah mempunyai peta budaya yang sudah tergambar ribuan tahun yang lalu dan telah melembaga teramat kuat dengan hak kesulungan masing-masing teritorial adat yang dalam perjalanan pembagian wilayah adat mungkin dianggap sepeleh olah para penyusun ataukah para penyusun pura-pura tidak mengerti ataukah mungkin su lupa baca buku etnografi Papua.

Perjalanan pemerintahan sampai Tahun ini, secara perlahan-lahan mulai terbentuk benjolan kecil yang pada suatu masa ditahun-tahun mendatang akan memuntahkan aroma tak sedap ke semua sendi-sendi kehidupan sosial warga Papua yaitu KONFLIK pada pusaran kekuasaan dan ekonomi yang disebabkan tidak ada penjelasan yang berkait dengan arti KO PU BAPA NAMA SIAPA DAN KO PU MAMA NAMA SIAPA??.

Masalah seperti ini biasanya muncul pada saat dimana pesta-pesta politik sedang berlangsung atau pembagian jabatan dalam pemerintahan formal dalam sebuah kepemimpinan atau biasa juga terjadi pada pusaran distribusi ekonomi yang tidak merata atau berkeadilan itu.

Sebelum mencari lebih jauh, maka ada baiknya meminjam satu masukan yang masih hidup sepanjang masah yaitu pesan Zokrates "sesuatu yang tidak diteliti, tidak pantas untuk dijalani". Pesan itu dalam terjemahan bebas adalah segala sesuatu yang akan dilakukan pemerintah daerah perlu sekali merujuk pada kajian-kajian yang telah dilakukan dengan sukses storynya sebelum pemerintah menjalankannya di Papua.

Melihat kembali lagi pada pembentukan sekat-sekat baru di Tanah Papua ini mulai memunculkan benjolan kecil yaitu adanya tarik ulur antar warga masyarakat berdasarkan pembagian peta wilayah adat sebab ada suku bangsa Papua yang masih menolak pembagian itu karena rantai nilai budaya moyang mereka bukan bagian dari wilayah itu, namun hukum Indonesia memaksakan suku bangsa tertentu untuk masuk ikut wilayah adat suku bangsa yang lain.

Sementara itu, perjalanan sistem pemerintahan sampai tahun ini, belum berjalan maksimal sesuai dengan yang diharapkan pemerintah sebab hampir dipastikan bahwa masih sebagian besar dari warga belum memahami apa arti kalimat tanya "KO PU BAPA NAMA SIAPA DAN KO PU MAMA NAMA SIAPA ?, hal ini yang dianggap sebagai penyebab utama konflik, sementara catatan yang lain memberikan kesimpulan KONFLIK itu terjadi karena Distribusi Keadilan Ekonomi.

Tema merebut Instak Ulang 7 (tujuh) Wilayah Adat, dihadirkan sebagai bahan perenungan pembaca berkait dengan konflik-konflik yang terjadi akhir-akhir ini, apakah disebabkan pembagian wilayah adat yang tidak memperhatikan peta adat warga setempat atau sudah mempertimbangkan elemen tersebut, namun pada proses pelaksanaan tidak partisipatif.

Konflik itu akan terus berlanjut karena modal pendekatan yang digunakan belum sepenuhnya diterima warga setempat karena kita tidak mendengar apa yang mereka ingginkan, untuk itu solusi yang ditawarkan sudah mendesar untuk dilakukan kajian ulang batas-batas wilayah adat dengan memakai foto budaya, setelah itu barulah dibuatkan Tata Ruang masing-masing wilayah. @arkam
KETUK MAKA PINTU AKAN DIBUKA. Sepotong kalimat ini diambil dari buku suci tempat dimana orang-orang percaya melaksanakan meditasi itu sebagai sebuah renungan hidup. Tete Manis Kase Air bersih seperti cermin muka dan kase juga hutan yang hijau sementara warga pribumsi miskin itu yang jadi soal.

Luas wilayah Papua sudah secara langsung menjelaskan ketimpangan sosial ekonomi seperti simbol padi dan kapas dalam lembaran konstitusi diambil mewakili berjuta alasan yang direkomendasikan para analis tentang bagaimana menyelesaikan ketimpangan sosial ekonomi atau dalam bahasa ilmu pemerintahan dibilang rentang kendali atau analisis tra laku bilang pemerintah belum hadir di wilayah Tanah Papua. 

Sementara itu, bila dilihat kembali pada persoalan ketimpangan ekonomi yang disebabkan tingkat kemajuan (pendidikan) serta persoalan HAM dan Kemiskinan juga merupakan alasan utama yang direkomendasikan para analis kepada Jakarta untuk dibentuk sekat-sekat baru yang diberinama politik kekhususan itu.

Dalam catatan ekonomi itu ada yang dikenal dengan sebutan P3 (Profit, People, Planet) Tiga elemen atau komponen kunci tersebut sudah selalau dan selalu harus diperhatikan Perusahaan sebab selain mencari keuntungan disitu ada tanggung jawab sosial terhadap masyarakat pemilik hak ulayat serta pelestarian lingkungan sudah menjadi tanggung jawab Perusahaan sebab ada hutang Generasi yang harus dibayarkan ketika perusahaan sudah tidak lagi beroperasi.

Melihat pada ukuran P3 di atas, maka Sis dan Bro diminta untuk sisihkan waktu lima menit saja untuk menganalisis satu isu yang menarik, namun kurang mengigit kalau diukur dari aspek manfaat yang diperoleh, namun apa salahnya kalau kita juga ikut memberikan kontribusi pemikiran di era politik kekhususan ini guna melahirkan satu inovasi baru.

Sebelum melangkah jauh kedalam, maka ada baiknya kita coba melihat kembali issu yang teramat menarik untuk dianalisis yakni "Persoalan Masyarakat Adat" menyuarakan hak-hak mereka dengan mendatangi parlemen yang katanya selalu hadir mewakili suara rakyat atau mewakili perahu mereka.

Apakah pernah terlintas di pikiran kita untuk menyelesaikan soal yang masih terus bermunculan berkait dengan nilai dalam hukum adat yang tidak bisa diselesaikan dengan memakai hukum pemerintah untuk menyelesaikan persoalan masyarakat adat menyuarakan hak-hak mereka yang belum diselesaikan dilihat dari kacamata pembangunan berkelanjutan.

Mereka bersuara jangan diukur dengan besarnya rupiah yang dibayarkan, Mereka bersuara karena sudah tergusur dari tanah leluhurnya, Mereka bersuara minta pertolongan sebab Mereka adalah korban dari sebuah pembangunan dan mereka juga bersuara agar tidak disalahkan generasi penerus di masa depan nanti.

Mereka yang bersuara ini sebenarnya juga merupakan  pahlahan pembangunan yang perlu sekali mendapatkan perhatian pemerintah karena mereka sudah melepaskan tanah adatnya untuk kepentingan merawat kesatuan atau dengan kata lain menjaga keutuhan peta Indonesia ini perlu mendapatkan penghargaan yang sewajarnya dari pemerintah daerah dalam bentuk pemberian kompensasi finansial yang bersumber dari dana 1 % APBD setiap tahun karena disitu ada tanggung jawab sosial yang harus dilakukan pemerintah kepada warga pribumi pemilik hak ulayat.@arkam   
Bicara kawan jangan diam membisu, dihadirkan sebagai jembatan penghubung kita untuk bersama-sama merajut kembali satu tungku dalam satu rumah adat yang akhir-akhir ini mulai sedikit retak karena ada tiupun anggin kebohongan yang sedang ditiupkan oleh kaum terdidik yang pendapatnya kurang terdidik itu.

Kawan, jangan biarkan warga probumi berteriak karena warisan leluhur mereka mau dirampok atau bahkan sudah dirampok para pemilik modal. kawan lihat-lihat kepedalaman kepala Burung Kasuari nun jauh dibelantara rimba raya Domberasi (lihat peta Papua) ada gesekan antar warga pribumi dengan warga pribumi yang berada di pusaran Birokrasi Pemerintahan.

Kawan berbaliklah walaupun warga pribumsi secara luas sudah mengetahui siapa penulis cerita drama ini, Kawan jangan biarkan mereka bertengkar sebab pertengkaran akan melahirkan atau membentuk satu titik masuk sebagai peluang bagai para pemilik modal untuk menjarah habis-habisan harta warisan leluhur.

Kawan, cobalah untuk kembali membaca sejarah perjalanan perjuangan hak-hak masyarakat di hutan adat yang sampai dengan Tahun ini juga belum ada kesepahaman dalam bentuk regulasi atau hukum yang menjelaskan hutan pemerintah dan hutan adat, sebab di tanah Kasuari ini yang ada hanya hutan Adat kawan.

Persoalan hutan adat sudah lama diperjuangkan namun sampai Tahun ini belum ada aturan yang jelas karena banyak kepentingan yang bermain disana juga kawan, namun dalam cerita ini lebih fokus pada struktur kelembagaan adat di beberapa wilayah di Papua ini tidak jelas atau tidak tergambar dengan baik seperti struktur adat masyarakat "Mamta".

Penulis sejarah pemikiran ekonomi Prof. Wim Polli mengatakan kuatnya mata rantai biasanya ditentukan matarantai yang terlemah. Merujuk pada pendapat itu, maka bisa juga dijelaskan bahwa konflik hak ulayat sebagian besar dipengaruhi struktur kelembagaan adat yang rapuh atau lemah itu dilihat kaum terdidik yang pemikirannya kurang terdidik untuk masuk dengan para pemilik modal untuk menjarah karena mata rantai terlemah dalam masyarakat adat yaitu kelembagaan adat.

Kawan berbalik sembilan puluh derajat, walaupun sudah jauh melangkah, kawan jangan jangan buatkan luka sebab luka pasti akan meninggalkan bekas luka.

Kawan, jangan biarkan warga pribumsi terus berteriak, namun bantu mereka dengan cara mendengar apa yang di suarakan, sebab Indonesia itu harus hadir di pinggiran Tanah Papua dengan membawah slogan Putih Tulang dan Mera Dara harus benar-benar menaikkan rasa keindonesiaan warga primbumi yang sudah sedikit memudar karena banyak cerita novel yang sedang ditontonkan para elit lokal saat ini.

Kawan, fakta sejarah yang ditulis berulang-ulang oleh generasi pendahulu kenapa dalam perjalanan tahun ini harus diputar balikkan karena lebih dominand Need For Power ketimbang Need fo Afiliation yang seharusnya dipelihara sebagai warisan leluhur yang terbangun puluhan tahun hanya bermodalkan saling percaya.

Kawan, bedah pendapat dan kepentingan politik itu biasa yang tidak biasa itu sejarah kepemilikan tanah adat jangan diputar balikkan karena kepentingan ekonomi. kawan bicara yang jujur walaupun semua warga pemilik hak ulayat tahu bahwa yang bermain drama itu Kawan. @arkam

Gambar mungkin berisi: teks yang menyatakan 'otonomi khhusus PAPUA PAPUA BARAT'

Sis and Bro kam semua yang lagi menulis hari esok dengan tinta penanya sendiri-sendiri, namun ada baiknya kam sediakan waktu lima sampai sepuluh menit untuk membuat ramalan sisah tujuh tahun lagi politik kekhususan yang diberikan Jakarta berakhir, maka berakhir juga kontrak politik tanah ini dengan Jakarta atau ada modal politik kekhususan lain yang diberikan.

Kawan semua diskusi semakin menarik dikalau teman diskusi alias pisgor (pisang goreng) di hadirkan sebagai penambah semangat karena gurihnya pisang menambah cair suasana diskusi.

Politik kekhususan di masa tahun politik ini, apakah masih menjadi issu central para kontestan politik untuk menangkap simpatisan untuk memberikan suara pada saat pemilihan anggota parlemen nanti, atau issu politik kekhususan ini sudah tidak menjadi trending topik dalam hati warga lokal. 

Sis dan Bro, ada pertanyaan yang sebenarnya menarik namun kurang memgigit para politisi di 2019 yaitu "sisah 7 (tujuh) tahun lagi politik kekhususan yang diberikan Jakarta berakhir, maka berakhir juga kontrak politik Papua dengan Jakarta ini masih menjadi sebuah produk yang kalau digoreng akan semakin gurih dan cepat laris manis di pasar.

Pasar akan merespon dengan cepat karena tingkat kemajuan (pendidikan) serba paspasan membuat tingkat kemampuan menganalisis issu itu benar atau tidak masih sangat terbatas yang menyebabkan terbentuknya ruang kosong yang dimanfaatkan para politisi untuk mendulang suara sebanyak mungkin.
21 November 2018, kita baru saja merayakan otonomi khusus yang bila dilihat kembali berjalanan sejarahnya teramat sanggat melelahkan untuk di dalami dan di dalmi lebih dalam lagi sebab kita semua masih membaca makna politik khusus itu dengan saling menuduh satu sama lain.
Persoalan beda pendapat itu sebenarnya baik adanya, sebab tidak ada yang sempurna dan manusia itu harus saling menggisi karena perjalanannya zaman itu selalu membutuhkan satu alat yang namanya kompetensi karena ada istilah-istilah baru yang tidak dipahami oleh inkamben (orang) tua yang selalu mengambil keputusan berdasarkan pengalaman.
Fenomena Papua, hari ini mulai tren dengan ekonomi hijau atau pembangunan berkelanjutan yang disarankan kawan-kawan dari planet yang sudah tidak ada perbedaan bilan dilihat dari tingkat kemajuan dan Index Kebahagiaan yang sudah di atas rata-rata mau dipaksakan untuk dilaksanakan seperti kita memaksakan diri secara sepihak untuk membangun rumah diatas Pasir Pantia yang akan kena hantaman obat ketika air pasang.
Pertumbuhan kota dan ledakan jumlah penduduk yang semakin hari meningkat tidak didukung oleh ketersediaan pangan dalam hal ini beras, karena lahan-lahan pertanian semakin sempit atau sudah beralih fungsi menjadi hunian yang membuat pemerintah mulai berfikir keras untuk mengembangkan pangan lokal sebagai titik masuk utama dalam mengantisipasi ledakan penduduk di masa depan.
Sagu merupakan salah satu komoditas lokal papua yang menjadi unggulan daerah yang bila dikembangkan dengan baik akan menghasilkan nilai tambah yang luar biasa, itu bisa dilihat nilai manfaat pohon sagu dari pucul sampai di ikar pohon sagu memiliki nilai ekonomi tinggi yang pada tahun 2018 ini mulai menjadi trending topik bertepatan dengan pemerintah daerah mulai mengangkat issu ekonomi hijau dan pembangunan berkelanjutan di Papua.
Berbicara sagu semakin menarik untuk di dalami, karena produksi tidak ada masalah yang menjadi soal adalah Sagu hanya di konsumsi tiga generasi Inkamben (tua) sementara generasi Milenial rata sudah hampir separuh anak-anak asli Papua sudah dimanjakan dengan Nasi karena Beras sudah mengalir sampai di Kampung-Kampung dan Dusun.
Untuk mengembalikan budaya makan sagu kepada generasi muda Papua untuk mengkonsumsi Beras Analog yang berbahan dasar sagu itu, sanggat membutuhkan keterlibatan semua pihak untuk memberikan edukasi secara terus menerus untuk wajib mengkonsumsi Sagu atau produk sejenis berbahan dasar sagu pada waktu-waktu tertentu.
Tidak ada teks alternatif otomatis yang tersedia.
17 Tahun kewenangan sudah diberikan, namun mereka masih saling tidak percaya dan selalu cepat menyimpulkan bahwa pemerintah Itu GAGAL atau mereka tidak siap mengelola keuangan otonomi khusus, itu bisa di ukur dari RPJMD yang disusun masih seperti kita membaca NOVEL, sebab yang ditulis itu hanya sebuah cerita perjalanan teori perencanaan pembangunan yang hanya sebatas rencana diatas rencana karena (peta jalan kesehatan, peta jalan pendidikan, peta jalan ekonomi, peta jalan masyarakat adat) tidak pernah ditemukan, itu ibarat seperti berlayar hanya berharap ada anggin tiup. 

Persoalan menarik untuk diambil sebagai bahan renungan yang bertepatan dengan 17 tahun kebebasan yang diberikan yaitu : Konflik Masyarakat Adat dengan pemilik modal di pedalaman kepala burung Kasuari yang bisa juga berbentuk kepala Tiranosaurus itu, mungkin akar masalahnya ada pada mata rantai KELEMBAGAAN ADAT YANG LEMAH, membuat para pemodal besar dengan mudahnya masuk sebab kita SENDIRI tidak pernah mengerti bahwa TANAH SERTA ISI PERUT BUMI DOMBERAI ITU MILIK MARGA DAN TUHAN bukan kawasan hutan negara yang mengakibatkan izin-izin usaha besar tetap dijalankan di dalam hutan ADAT.

Lebih lanjut cerita di atas, bila dikaitkan dengan Reformasi Agraris dan Perhutanan Sosial (RAPS) dan pengakuan masyarakat adat disepakti 5 (lima) sistem pengelolaan yaitu : 1). Hutan Adat; 2). Hutan Kemasyarakatan; 3). Hutan Kampung; 4). Kemitraan Kehutanan; 5). Hutan Tanaman Rakyat. 

Lima RAPS dalam perjalanan sampai 2018 belum bisa diimplementasikan di Seluruh Tanah Papua karena belum jelas hutan negara dan hutan adat serta rendahnya pelayanan hak legal untuk masyarakat adat dan swasta.

Coretan kecil ini, sedikit memberikan sinyal kepada warga masyarakat yang sudah terdidik namun berpikir kurang terdidik karena selalu memakai model-model pembangunan dari wilayah lain untuk dijadikan senjata utama untuk menembak pasar gagasan dengan memberikan stempel pemerinah gagal sementara kita sendiri tidak mengerti akar masalah yang sebenarnya. 

Kita mendesain rencana serta membangun isu sebagai senjata utama dalam menembak satu titik jalan masuk mendapatkan dukungan warga masyarakat yang masih lemah tingkat kemajuan untuk berontak bersama-sama menyuarajan keadilan karena 17 tahun pemerintah belum adil mengelola keuangan otonomi khusus. 

Sedangkan bila dilihat lebih jauh lagi, dengan pemberian kewenangan mengelola keuangan otonomi khusus sepenuhnya belum berjalan sesuai dengan yang diharapkan para pencipta yaitu ada persentuhan budaya karena tidak seluruh kebiasaan baik itu berjalan dengan lancar, perselisihan dalam masyarakat sendiri yang berkait dengan konflik tata nlai maupun perbedaan pilihan tindakan atas dasar pertimbangan financial. (@arkam)


Waktu itu adalah masa depan sebab waktu harus di manajemen dengan baik agar masa depan bisa dijalani dengan baik. dalam cerita kita kali ini mengangkat tema "WAKTU" karena selalu akan berkaitan dengan biaya karena ada belanja kesehatan WAKTU SAKIT.

Gambar punya cerita, maka Gambar yang mau diceritakan ini merupakan sesuatu yang unik sebab hadir di depan rumah sakit ternama dengan menawarkan produk yang kalau mau ditarik lebih jauh ke lingkungan ilmu medis yang diperoleh dibangku kuliah maka sudah parti menghadirkan pro dan kontra.

Tema utama yang diangkat yaitu "SPESIALIS MENDETEKSI SEGALA PENYAKIT" yang kalau digambarkan fenomena ini dengan kata Alberth Einstein yang berbunyi demikian "Jika fakta tidak sesuai dengan teori, rubahlah faktanya".

Timbul pertanyaan yaitu Apakah ramuan herbal bisa mengalahkan dokter spesial tentu jawaban bisa ya dan bisa juga tidak kalau para pembaca melihat memakai kaca mata Einstein, maka fakta harus dirubah sebab tidak sesuai dengan teori di dunia kedokteran.

Perang pemasaran dalam bisnis jasa kesehatan sudah berjalan menutut frekuensinya masing-masing. sementara persoalan yang dihadapkan masyarakat dengan pendidikan pas-pasan sudah pasti memilih yang murah karena rendahnya kemampuan belanja kesehatan.

Apa Pendapat Mu......
Gambar bercerita, maka Gambar ini menjelaskan 21 negara punya kepentingan bisnis yang sudah menggurita di Perusahaan Freeport Papua. Sengketa Bisnis terus akan terjadi, mengapa sengketa akan terus terjadi karena struktur ekonomi sudah susah untuk terurai.

Coba kita bayangkan berapa jumlah perusahaan yang datang dari 21 negara di atas, yang ditambah dengan perusahaan plat merah Indonesia maupun swasta nasional indonesia dengan anak perusahaan masing-masing.

Sementara pengusaha OAP yang ikut bermain di dalamnya mungkin dihitung dengan jari saja.....kalo sudah begitu baru OAP yang modal golongan ekonomi lemah mau dapat apa di Perusahaan Freeport Papua.

Analisis lebih lanjut PT Inalum di Kase 51 persen saham Freeport yang dalam perjalanan apa bisa bertahan menghadapi gesekan 21 Negara di tanah Papua kalo pendekatan pengamanan petah Papua di munculkan sebagai filter untuk meredam berbagai bentuk kegiatan yang di sponsori langsung 21 negara dengan mengusung issu M.

Digoreng issu M dengan menggunakan segala sumber daya yang dimiliki sebagai sejata utama dalam menembak titik yang disebut M sebagai jalan masuk utama untuk merebut kembali 51 persen saham yang diberikan kepada pemerintah daerah lewat PT. Inalum

Selamat merenung nasib mu yang malang dengan tingkat kemajuan yang masih sanggat terbatas diberikan 10 persen saham melalui perantara pemerintah daerah Papua yang peruntuntukan belum jelas antara pemerintah daerah mimika dan provinsi papua di sisi lain belum ada aturan main yang jelas antara Inalum dan Pemerintah Daerah untuk tatakelola 10 persen saham yang diberikan itu. 

Apa Pendapat Kamu.........!
Potensi ekonomi Papua luar biasa bila dilihat dari luas wilayah baik darat laut dan udara serta yang tidak kalah istime dibawah perut bumi yang tete manis sudah kasih buat warga Papua. sementara bila dilihat dari potensi lain yang belum dikelola juga yaitu matahari yang dikase warga papua lihat pertama kali ditambahkan dengan banjir yang belum juga dikelola dengan baik.

Berangkat dari gambaran luas wilayah Papua yang katanya menurut cerita orang kebanyakan memiliki luar wilayah dua kali pulau jawa ini memunculkan soal yang belum diselesaikan atau mungkin terlewatkan untuk di selesaikan yaitu komoditas pertanian dalam arti luar di dalamnya perkebunan yang dapat dijadikan materi cerita kali ini.

Komoditas yang di maksudkan penulis adalah KOPI PAPUA yang diangkat dengan melihat publikasi CEPOS dengan menulis 14 Kedai dan 11 Petani Kopi Ramaikan Festival Kopi, ini merupakan kegiatan yang sangat menarik dengan membentuk 25 stand yang didukung penuh Bank Indonesia serta Pemerintah Provinsi Papua.

Sebelas pemain dalam komoditas kopi datang dari wilayah Wamena, Serui, Oksibil, Timika, Lanny Jaya dan Yahukimo yang mungkin secara garis besar sebagai petani kopi atau pemain tingkat lokal sementara sektor hilirnya ada sebelas pemain yang berasal dari kota jayapura.

Tata kelola rantai nilai komoditas kopi Papua masih harus diperbaiki sebab harga kopi di tingkat petani sangat rendah karena pemicunya sistem distribusinya yang masih jelek,dikatakan jelek sebab masih ada saja pemain tingkat lokal yang mengoreng harga beli di petani kopi.

Berbicara rantai nilai, berarti kita bersepakat peran pemerintah hadir dimana dan lembaga keuangan hadir dimana itupun dengan para pemain di hilir duduk bersama bersepakat agar sama-sama senang. kesepatan pemangku kepentingan atau dalam tulisan ini disebut para pemain dalam rantai nilai kopi perlu bekerja bersama-sama agar produksi kopi tetap terjaga.

Persoalan klasik yang selama ini terjadi di hampir seluruh wilayah Papua adalah pemerintah selalu doyan serimonial dengan ikut pameran baik tingkat lokal maupun nasional hanya sebatas mengkampanyekan keunggulan daerah Papua yang tidak ada tindak lanjutnya untuk membangun dan mengembangkan potensi yang benar-benar sudah memberi hasil seperti kopi Papua.

Apa pendapat kamu........




Meminjam catatan pelatih Joko Susilo yang beberapa waktu lalu melempar issu yang cukup menarik di CEPOS, namun kurang mengigit atau menusut atau diera kekinian kurang menjadi trending topik karena situasi saat ini kurang tepat untuk mendiskusikan issu yang menarik ini.

Issu yang dilemparkan atau pertanyaan yang dilemparkan adalah Mengapa tanah papua hanya bisa menyumbangkan empat club untuk liga teratas di Indonesia sebut saja PERSIPURA dan PERSERU bermain di liga 1 sementara YAHUKIMO FC & PSB BIAK bermain di liga 2. Informasi ini menimbulkan pertanyaan lanjutan untuk di analisis adalah siapa yang perlu disalahkan?.

Informasi yang diungkapkan di atas, sudah sedikit memberikan simpulan bahwa pemerintah daerah di seantero wilayah Papua tidak begitu serius menata dan mengelola olah raga yang banyak digemari warga ini sebagai peluang daerah untuk melahirkan sumber pedapatan baru pada daerah.

Begitu menjamurnya sekolah sepak bola yang dikelola secara swadaya sampai yang dikelola pemerintah daerah mau di salurkan kemana ketika anak-anak tersebut sudah matang, mari kita lihat pulau jawa timur, dimana kelebihan mereka dibandingkan dengan tanah Papua. 

Informasi ini coba dihadirkan sebagai menu sarapan bagi para pengiat olah raga yang cukup mendunia ini, bila dilihat kembali zaman perserikatan ada beberapa club di Papua yang memiliki nama besar sebut saja PERSEMAN MANOKWARI, PERSIS SORONG, PERSIMER MERAUKE, PERSIFA FAK-FAK, PSB BIAK, PERSIDAFON dan PERSIPURA JAYAPURA. PERSINAB NABIRE.

Berangkat dari informasi ini bisa juga memberikan simpulan bahwa PERIPURA memiliki nama besar itu semua karena ada sering sumber daya atau lebih tepatnya kolaborasi kekuatan tanah Papua untuk berlomba dengan kawan-kawan di pulau yang nunjauh di ambon, sulawesi, jawa, sumatra, kalimatan dan balik karena spirit yang diperjuangan hanya harga diri dan martabat orang Papua.

Kita punya perusahaan gas di Bintuni, Pabrik Semen di Manokwari dan beberapa perusahaan besar lainnya serta ditambahkan dengan pengusaha-pengusaha lokal Papua sebenarnya sudah bisa membantu dengn cara PERTAMA pemerintah daerah perlu membangun atau menyusun strategi dengan membuat program kerja yang jelas disertai dengan ukuran-ukuran yang jelas pula, maka sponsor atau uang akan datang sendiri; KEDUA, pemerintah daerah perlu sekali menyiapkan lahan untuk pembangunan stadion sepak bola.

KETIGA, pemerintah daerah harus menempatkan posisi sebagai seorang tenaga penjual untuk bagaimana menjual daerah ini kepada investor untuk masuk menanam modalnya pada sektor-sektor yang menjadi keunggulan daerah masing-masing. misalnya fokus kita para wisata berarti semua sumber daya digerakan untuk memberi rasa aman bagi mereka yang mau berinvestasi di sektor ini.

Persoalan lain yang menarik untuk di lakukan analisis adalah posisi pemerintah daerah dimana ketika lapangan sepak bola mulai digugat pemilik hak ulayat, lapangan sepak bola ditanam pohon tembok, lapangan sepak bola dijadikan black market, lapangan sepak bola dijadikan tempat pembuangan akhir sampah dan masih banyak dialih fungsikan.

Sepak bola mulai menjadi barang mahal sebab harus main ditanah lapang atau bermain di atas trotoar jalan seperti kata IWAN FLAS sebab yang gratis hanya ada dijalanan. dimana dan kemana para pemimpin harus memecahkan soal ini, sebab sudah semakin besar benjolannya yang siap-siap memuntahkan aroma tak sedap pada manajemen tata kelola sepak bola papua. 

Apa pendapat kamu..........?
Analisis taralaku yang mungkin bisa melenceng jauh dari harapan pemain kedua belas PERSIPURA yang lagi melakukan meditasi dan berdoa meminta petujuk atau bisikan alam untuk peristiwa apa yang akan terjadi di Mandala Esok sore......

Para pengamat bola mulai dengan membangun model A sampai Z melalui berbagai pengujian untuk bisa mendapat bocoran formula para tim pelatih memiliki kesamaan dengan analisis atau tidak.

Sebelum dianalisis lebih jauh berkait formula apa yang tepat digunakan dengan memaksimalkan jumlah pemain PERSIPURA yang ada, maka tim pelatih perlu sekali menyiapkan pemain nomor 9 sebagai solusi kalau bermain dengan formula 4-3-3, namun perlu digaris bawahi bahwa bek tengah PERSIPURA harus bekerja ekstra dan disiplin tinggi.

Masih berkaitan dengan formula di atas, maka ijin salah untuk memberikan analisis yang sebaiknya digunakan PERSIPURA dengan bercermin pada perjalanan PERSIPURA selama Liga 1 ini sebaiknya memakai formulai 3-5-2 yang sedikit di modifikasi menjadi 3-5-1-1 dengan memberikan kesempatan MANDOWEN DUET DENGAN BOCI pasti seisi mandala akan meledak.

Permainan besok akan berjalan sedikit lambat sebab Barito Putra tidak akan main terbuka sebab Jacksen F. Tiago tidak mungkin mengambil resiko bermain dengan formula 4-3-3 yang biasanya dimainkan tim Barito Putra selama liga 1, yang sudah terbukti mengatarkan mereka ke peringkat 2 (dua) klasemen sementara.

Dengan tidak bermain terbuka anak asuh Jackson F. Tiago, dapat diprediksi sementara memakai formula 4-5-1, dimana Barito hanya menempatkan satu panah yaitu Marcel Sacramento sendirian untuk memanfaatkan serangan balik sebab Jackson pasti punya analisis tentang kelemahan pemain-pemain PERSIPURA kalau bermain dengan formula 4-3-3.

Analisis pertandingan besok PERSIPURA akan lari taralaku yang membuat seisi mandala lupa nama pengadil lapangan alias WASIT di pertandingan besok sore Sabtu 4 Agustus 2018.

Apa pendapat kamu...........
Teman-teman sebelum kita mendalami satu soal yang menarik untuk diungkapkan dalam latar yang tidak ada aroma negatif yang mencubit sebab tetesan airnya tidak terasa membasahi tubuh kawan-kawan semua. Namun anak negeri harus berpendapat........

Tidak ada yang perlu dicurigai apalagi sampai marah yang berlanjut sampai menimbulkan benjolan kebencian antara sesama anak negeri.

Membaca guntingan cepos jumat, 03 Agustus 2018 tentang bantuan bibit kambing itu perlu dipahami sebagai satu hal yang positif atau sebagai suntikan vitamin tambahan untuk memperbaiki ekonomi warga masyarakat penerima bibit kambing.

Berdasarkan informasi di atas, kawan-kawan coba kita analisis dengan memakai pendekatan budaya atau lebih terurai lagi kita bisa sebut pendekatan nilai hidup serta yang tidak kalah penting yaitu belajar dari sejarah perjalanan program tersebut sudah berhasil di wilayah Papua mana yang mau di replikasi ke Biak.

Jaringan nilai hidup kami terikat teramat sangat kuat dengan laut tidak dijadikan rujukan untuk pemerintah membangun dan mengembangkan KERAMBAH APUNG di sektor perikanan laut sementara sektor peternakan yang dikembangkan lebih pas itu ternak BABI sebab berdasarkan hasil penelitian Biak paling cocok juga untuk pengembangan ternak BABI.
Apa pendapat mu.............?

Kepasar jualan pisang dan membeli pisang goreng memunculkan soal apa susahnya buat pisang goreng...jawabannya pasti mudah bagi mereka yang terdidik, namun susah bagi mereka yang lulusan kelas tiga sekolah dasar bahkan lebih rumit bagi mereka yang tidak pernah menyentuh bangku sekolah.

Tema kita kali ini berkaitan dengan gorengan. gorengan yang dimaksudkan adalah gorengan politik yang belum gurih alias analisisnya perlu ditambahkan bumbu dari yang bukan selingkungan ilmu biar semakin menarik karena ada warna-warni pemikiran untuk perubahan demokrasi yang masih tak sejalan.

Membaca di beberapa media baik cetak maupun online begitu banyak memunculkan issu politik 2019 yang sifatnya daur ulang saja atau issu ganti baju dengan memanfaatkan media untuk mengorengkan lebih gurih agar masyarakat terperangkap dalam jebakan untuk menjatuhkan pilihan di 2019 nanti.

Meminjam pesan yang diaminkan musikus terbaik Indonesia yang sudah mendunia di zamannya yaitu EBiET yang memberikan pesan bahwa "Kita benar-benar harus telanjang" pesan ini sebelum di analisis lebih jauh, maka penah ini inggin meminta injin salah karena secara garis besarnya atau sarinya adalah kita benar-benar harus selalu dan selau bercermin seperti beningnya embun pagi yang belum tersentuh debuh jalan.

Daur ulang issu sebagai jualan politik sebenarnya sudah tidak layak digunakan sebab model jualan yang mau disuarakan kembali itu pada masa lalu tidak berjalan sesuai dengan janji-janji kampanye sebab perahu yang digunakan membutuhkan biaya besar untuk tetap bertahan hidup.

Perjalanan demokrasi selama ini masih berada pada kategori abu-abu menuju hitam pekat sebab Tuhan belum memberikan kita pemimpin yang terbaik di zaman ini sebut saja seperti Ahok mantan gubernur DKI Jakarta yang mampu menjelankan program yang digerakan oleh misi.

Tahun ini lihat banyak pemimpin yang sudah terkena kasus ini dan itu masih juga tampil menyuarakan issu good governance yang diangkat sebagai produk unggulan untuk pertandingan 2019.
Sis dan Bro analisis kita kali ini berkait dengan usia dalam olah raga yang banyak sekali menguras energi dan tenaga yaitu SEPAK BOLA. Pada halam koran ternama seukuran Papau sebut saja CEPOS-31-07-2018 memberikan informasi yang cukup menarik berkaitan dengan KEKALAHAN PESIPURA VS PERSELA itu katanya berdasarkan analisis di sebabkan faktor usia pemain di atas 30 tahun ada sebanyak 7 orang pemain.
Menurut para analisis kekalahan Persipura disebabkan karena usia yang membuat menurunya daya juang mereka atau dengan kata lain 7 pemain persipura sudah harus gantung sepatu alias pensiun dari lapangan hijau.

Analisis tersebut bisa menghasilkan jawaban SETUJU dan JUGA TIDAK SETUJU dengan faktor usia yang menyebabkan PERSIPURA menelan kekalahan dari PERSELA sebab banyak variabel X yang ikut juga memberikan kontribusi dalam sebuah tim.

Analisis usia dalam sepak bola, mari kita coba secara bersama-sama melihat Maldini di Ac Milan yang bermain bola melebihi usia normal atau ideal seorang pemain bola......Bagaimana pendapat Sis & Bro melihat issu usia.....jawabannya pasti bisa benar dan bisa juga salah.

Regenerasi dalam sebuah tim sepak bola itu sudah patut dilakukan agar tim tetap kompetitif di setiap musim, namun yang harus kita catat bahwa sepak bola sudah di kelola memakai konsep manajemen bisnis yang menyebabkan pelatih selalu berhati-hati memasang pemain yang masih minim jam terbangnya karena liga sudah berjalan.

Sebelum analisis tralaku dengan formula 1k-2g untuk kopi tubruk pertama sekali meminta ijin salah untuk memberikan catatan sebagai penikmat bola persipura yang dibelikan karcis baru mau nonton.

Mata Pena. Bangun pagi ku turut mama ke pasar jualan pisang dan membeli pisang goreng, lagu ini dinyanyikan berulang-ulang karena sudah menjadi kebiasaan hidup sebab masa lalu merupakan rujukan terbaik buat generasi berikut, itulah HUKUM ALAM. Ada informasi yang menarik namun kurang mencubit para pengantar suara warga yang perlu dihadirkarkan kembali sebagai bahan renungan kita bersama sebab katanya membangun dengan HATI kalau sudah pilih. Keripik pisang dengan merek ADI berbahasan dasar buah pisang dari SORONG sudah sedikit mendunia alias masuk pasar luar tempat produksi yang patut kita acungkan jembol karena sudah sedikit ikut mempromosikan yang sebenarnya bukan tupoksi seorang pengusaha kripik pisang tersebut. Semakin menarik untuk ditelusuri lebih jauh berkait siapa saya pemain di rantai nilai buah pisang yang menghasilkan kripik ADI tersebut, kita semua pasti menduga-duga bahwa bahan bakunya berasal dari wilayah-wilayah sekitar Sorong ataukan di datangkan dari luar Sorong itu semua bisa benar dan bisa juga salah sebab kita tidak punya data yang pasti. Pertanyaan besar yang harus di pecahkan bersama adalah Siapa saja pemain di rantai nilai KRIPIK PISANG ADI......mulai dari hulu sampai hilir.......Sis & Bro yang mau berjuang untuk warga kamu akan mulai dari mana.....


sumber : google.com

Kalah menang dalam sebuah pertandingan itu HUKUM ALAM, namun perlu juga untuk kita membuat analisis tentang soal nomor berapa yang belum dijawab dengan baik yang menyebabkan nilai akhir tidak diterima oleh pemain kedua belas.

Analisis tralaku kali ini mungkin pertama-tama kita harus meminta ijin salah terlebih dahulu sebelum membuat analisis pertandingan PERSELA VS PERSIPURA, dimana yang mau dianalisis adalah Tim Persipura yang turun dengan formula 4-3-3 yang kalau dilihat dari sejarah perjalanan Persipura selalu bermain dengan Formula klasik 3-5-2 yang dipadukan dengan permainan bola-bola pendek serta rasa kepapuaan yang teramat sanggat kuat sekali.

Persipura turun dengan formula 4-3-3 yang merupakan kesukaan hampir sebagian besar pelatih-pelatih asal Brasil, formula ini biasanya digunakan untuk memaksimalkan 3 (tiga) sampai 4 (empat) gelandang serang dan hanya tersisa 1 (satu) unjung tombak. formula ini berjalanan efektif kalau bek tengah disiplin menjalankan fungsinya.

Berdasarkan Formula 4-3-3, ijin salah kalau kita lihat pertandingan PERSELA VS PERSIPURA ada peran yang diberikan tim pelatih pada IAN KABES, untuk bermain sebagai gelandang serang belum dijalankan peran yang diberikan dengan baik sebab IAN KABES pemain sayap murni dan yang sebenarnya pelatih harus memberikan peran itu kepada MANDOWEN cerita pasti lain. 

Untuk pertandingan berikutnya tim pelatih diharapkan sudah bisa mendiaknosis apa sumbatan utama yang membuat PERSIPURA belum bisa bangkit.


Mata Pena :arkam

Ombak memukul di tepian pantai, begitupula hati ini dukdak membaja guntingan media lokal ternama dipekarangan rumah ini, sebut saja CEPOS/11/MEI/2018 memuat berita yang teramat spetakuler sebab menjadi treding topik di hati para pemimpinan daerah yang telah meraih Opini WTP sebanyak 8 & WPD sebanyak 6, sementara daerah yang tidak termsuk kedalam pilihan di atas pasti bertanya-tanya mengapa dan bagaimana sampai kami tidak ambil bagian dalam daftar raport BPK RI. kalau memakai indikator kekinian.

Untuk yang tidak diberikan raport oleh BPK RI sebenarnya harus bersyukur bahwa pemberian opini sebenarnya bukan merupakan bagian dari Prestasi Kepala Daerah setempat, sebab opini itu sebenarnya merupakan Kewajiban dan Wajib Hukumnya untuk dilakukan Kepala Daerah dengan menjaga Keuangan Daerah dalam bentuk penyusunan program dan kegiatan selalu harus memperhatikan aspek kewajaran.

Kepala daerah yang belum mendapatkan Opini, sebenarnya memiliki banyak waktu untuk menata tata administrasi pemerintahan kearah yang lebih baik dengan membuat program yang digerakan oleh misi jauh lebih indah dibandingkan membuat program yang terkena jerat batman. 

Soal sebenarnya yang harus diselesaikan masing-masing kepala daerah adalah bagaimana membangun dan mengembangkan inovasi daerah seperti e-vilage di Bayuwangi. Inovasi daerah merupakan elemen kunci dalam mengedukasi warga masyarakat dalam bentuk pelatihan-pelatihan agar warga semakin mengerti arti transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah yang baik.

Tanpa adanya pelatihan-pelatihan yang diberikan pemerintah daerah setempat jangan kita berharap memetik hasil yang baik sebab warga masyarakat dengan tingkat kemajuan yang berwarna-warni perlu dituntun agar mereka mengerti bahwa kalau pake harus ada laporan kepada yang memberikan uang itu.    
Persoalan lain yang belum terselesaikan sampai tahun ini yaitu apa otonomi khusus itu hanya mempersoalkan kewenangan pemerintah pusat dengan pemerintah daerah yang banyak diperdebatkan para pakar dan analis yang muncul dadakan seakan-akan mewakili seluruh warga masyarakat. sedangkan masalah warga masyarakat tidak pernah disentuh dengan memberikan ruang yang cukup untuk menyuarakan kewenangan mereka. 

Kata Mereka (RF), Soal yang pwling terakhir itu seru dana otonomi, setelah saya lihat dan perhatikan dana otsus yg katanya 80% ke daerah itu hanya habisnsaja di belanja makan minum PNS bayar honor perjalanan dinas dll, hanya sebagian kecil yg turun ke masyarakat dalam bentuk kegiatan dan proyek, yg prokyek banyak yg tdk dikerjakan orang papua, saya kadang sedih kalo lihat RKA yg disusun, kenapa dana otsusu itu tdk disalurkan dgn baik, pertanyaan yg berikut saat apakah BPK menjadikan penyususnan RKA sebagai salah satu indikator pemberian WTP, karna banyak kegiatan yg tdk tepat.. sedih sekali... jd anggota dewan baru sa pangkas pengusulan dana2 yg tra jelass dan tepat sasaran..


Mata Pena : arkam

Sebelum melepasjangkar untuk hanyut lebih jauh meninggalkan pelabuhan, untuk itu sangat perlu sedikit dijelaskan apa makna tanggal 8 Mei 2018, hari dimana jutawan anak mudah indonesia beraroma pitih abuh-abuh bertarung masuk perguruan tinggi.

Anak mudah beraroma putih abuh-abuh datang dengan tingkat kemajuan masing-masing untuk mengejar mimpi sesuai harapan orang tua mereka masing-masing.

Tanggal 8 Mei 2018 dengan penuh harap cemas, orang tua melepaskan generasi penerus dinasti untuk ikut bertarung walau tingkat kemajuan mereka abuh-abuh yang bisa dilihat pada pemilihan jalur masuh ada yang sosbut dan adapula yang saintek serat ada yang melalui jalur ujian berbasis intenet yang semua itu pasti terukur dari baca, tulis dan membaca masing-masing peserta. @arkam
 sumber : google.com


Mata Pena : Arkam. Penulis statistik bisa membuat model yang menggambarkan kekuatan tim melalui berbagai variabel dan indikator untuk memperkaya model statistik. Bila mana modelnya baik akan lebih mudah untuk memahaminya.
 

Sebaliknya seorang sarjana olah raga dan pengamat serta mantan pemain persipura bisa juga membuat model yang sama untuk mengambarkan hengkangnya beberapa pemain persipura melalui berbagai variabel dan indikator untuk memperkaya analisis perjalanan perisipura pada liga satu musim ini.

Putaran pertama liga satu sudah saling kejar-kejaran angka lihat daftar klasemen sementara yang membuat para analis mulai tercecer dengan permainan data time series yang selalu memakai pola lama membombardir pikiran para pegiat olah raga lapangan hijau seantero Nusantara.

Membuat model memakai indikator finance dengan tidak begitu melihat ukuran data real time atau data kekinian, namun sudah membuat simpulan untuk  kandidat pemenangnya liga satu musim ini semua berada di pulau luar Papua, mulai sedikit memperbaiki catatan para analisis sebab daftar klasemen hari ini bergerak fluktuatif.

Masih ramai di perbincangkan hengkangnya beberapa pemain yang konon katanya sebagai pemain inti persipura. Hati-hati menggunakan kata “inti”, hal ini menjadi catatan penting untuk manajemen yang sedang membangun keunggulan yang menurut analisi sementara penulis keunggulan yang dibangun ini sedang digerakan oleh sharing resources tua ke muda atau saling memanfaatkan resources.

Analisis ini, datang dari yang tidak pernah bersentuhan dengan rumput bahkan menyentuh kulit bundar sedikit pun tidak, namun analisis kuli tinta ini mewakili mereka yang tdak bersuara, namun tetap hadir sebagai pemain ke dua belas persipura.

Tiga dari empat pemain ke dua belas punya persepsi persipura mampu mengarungi liga satu dengan strategi yang baru, sebab tanda-tanda itu sudah mulai terlihat di klasemen hari ini, mutiara hitam Persipura sudah mulai membuat pengakuan bahwa mutiara hitam Persipura bermental juara.

Sharing resources tua ke muda, mungkin merupakan formulasi baru untuk tetap menjaga asa menjadi pemenang liga satu musim ini. Perubahan strategi di lapangan hijau selalu cepat, bahkan munculnya sering kali tidak terduga.

Misalnya putaran delapan besar liga champion antara AS Roma VS Barcelona, semua analis membuat model sedikit melenceng jauh sebab As Roma sedikit pintar memainkan formulasi strategi 3-5-2 untuk menyerang sementara formulasi 5-3-2 sebagai strategi bertahan kalau pena tidak salah menulis.

Putaran liga satu sudah berjalan dan pemenangnya mulai terlihat sebab mutiara hitam Persipura sudah mulai sedikit membuat analis kuli tinta, mulai mengkoreksi catatan mereka dengan memasukan mutiara hitam Persipura yang merupakan kolaborasi atau saling memanfaatkan antar tua muda yang penulis sebutkan sharing resources tua ke muda

Membangun dalam satu culture Papua yang selalu diunggulkan dalam perjalanan sepak bola tanah air, namun kita perlu ketahui bahwa mereka kuat karena totalitas dukungan masyarakat papua sebagai pemain kedua belas serta ada spirit rasa keluarga dalam satu tungku satu rumah adat Papua.

Yang menarik dari mutiara hitam Persipura adalah bagaimana manajemen dan tim pelatih membangun tim impian dengan keputusan yang tepat dalam mengambil pemain sesuai kebutuhan tim serta diperkuat spirit culture Papua yang dibangun sporter sebagai pemain ke dua belas dalam tim inti.   

Langkah yang diambil manajemen dalam membangun tim impian adalah KEPUTUSAN yang diambil dalam memilih calon bintang mutiara hitam perlu diperhatikan pemberian stempel “Inti” sebab surga kecil yang tete manis kase ini menyimpan milyaran warna wari pelangi hidup yang akan terus melahirkan mutiara hitam Persipura masa kini dan masa yang akan datang.

Membangun dan mengembangkan tim mutiara hitam Persipura yang digerakan misi lebih penting sebab akan memberikan nilai lebih kepada tim manajemen bersama tim pelatih dalam menentukan arah bagi tim impian, hal ini perlu diberikan garis bawah agar pemain yang terpilih benar-benar solit serta memiliki dedikasi tinggi untuk menjaga dan merawat rasa kekeluargaan dalam bentuk saling memanfaatkan resources.

Seringkali alasan utama tim tidak dapat mencapai sasaran karena para pemain tidak mendefinisikan dengan jelas apa sumbangsinya untuk tim sebab ada stempel inti, yang membuat para pemain belum begitu serius memahami apa rencana permainan serta kerangka tim yang di siapkan tim pelatih 

Sementara analisis yang lain, tim belum dapat mencapai sasaran sebab manajemen dan tim pelatih belum berjalan maksimal sebab ada partisi antara tim Inti dan tim lapis kedua yang membuat program kerja yang digerakan misi sedikit tersendat.


Guntingan liga champion antara AS Roma VS Barcelona, mungkin bisa menghasilkan satu titik yang amat jelas dimana ke dua tim yang terdiri dari sebelas orang memiliki tujuan yang sama untuk mencetak gol dan sebaliknya mereka juga harus mempertahankan gawang mereka untuk tidak kebobolan dari tim penyerang lawan.  
Pertandingan AS Roma VS Barcelona, masih meninggalkan informasi sebagai sumber bacaan tentang sebuah racikan rumusan strategi yang perlu dipadukan dengan informasi disekitar lapangan hijau.
Kita semua tahu bahwa untuk mengalahkan tim sekelas Barcelola itu teramat sulit, namun dengan sedikit kepintaran pelatih membangun dan meracik model yang digerakan misi bersama yaitu menyerang 3-5-2 serta bertahan 5-3-2 membuahkan hasil Barcelona tumbang dari As Roma. 

Membangun sebuah tim impian tentu membutuhkan waktu, namun apa yang kita lihat hari ini mutiara hitam Persipura yang diarsitek Butler asal Inggris sudah membuat pemain ke dua belas mutiara hitam Persipura mulai menulis. 
Mereka membuat gambaran perjalan mutiara hitam Persipura di liga satu akan berjalan dengan baik sebab tim manajemen dan tim pelatih telah mengambil keputusan terbaik untuk membangun tim impian sebab ada sharing resources atau saling memanfaatkan resources tua mempermuda yang muda sudah mulai terlihat pada beberapa laga mutiara hitam Persipura. Otot saja tidak cukup. @arkam
Mata Pena : arkam



Generasi masa lalu orang A3 telah lama mendalami lapisan demi lapisan gugusan batu karang itu dan menemukan mutiara yang teramat sanggat indah yaitu "ra mana sau" yang tumbuh dan berkembang di atas batu cadas yang tidak pernah lepas sebab ada pelindung bomira.

Sahut Mara, hidup dalam warna warni pelangi alam diatas gugusan batu karang itu, sudah merubah warna menjadi merah darah pekat menuju kehitaman ini, turut memberikan informasi bahwa proses pertumbuhannya sudah berjalan secara alamih serta bertransformasi dari satu masa ke masa yang lain.

Sahut Mara, terlilit dalam satu himpunan yang akan melahirkan sejuta makna baik dalam bidang politik, sosial dan ekonomi yang pada era kekinian perlu memerlukan redefinsi sendiri.

Dari sisi ini, Sahut Mara pernah menyampaikan begini. Penyelengaraan pemerintahan secara konsisten memakai pola distribusi orang A3 "ra mana sau" merupakan arah yang tepat membangun kesadaran Anu Betha Tubat. 

Dalam lukisan Sahut Mara, kepemimpinan lokal dan generasi masah kini, sudah mulai terlihat sedikit kabur memberikan penjelasan kepada warga A3, khususnya terkait titik pemicu yang semua warga A3 tidak memahami apa pemicu utamanya.

Sensivitas para pemimpin lokal dan pengikut mereka untuk cepat memberikan respon kepada warga A3, dengan rajin memberikan watum (nasehat) secara obyektif di lakukan secara terus menerus, agar pemimpin lokal dan pengikut tidak semakin dalam terjebak pada rasa kampung, kelompok dan rasa teman.

Mata Pena : arkam



Ananias, perlahan mulai hilang harapan serta kecewa, itu sangat jelas terlihat diraut wajahnya yang sudah semakin lesu dan kusut termakan pikiran, sebab tujuan serta makna bahkan arti kehadiran dan juga maksud pemberian partisi baru yang diberi nama sorong ke selatan dengan melihat potret tahun ini sama sekali tidak memberi harapan.

Ananias, pada satu hari, pernah mengatakan begini. Pemberian partisi baru itu sanggat jelas menyajikan harapan yang dibangun melalui pemberian kompensasi yang besar kepada warga untuk mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak, namun pemerintah tidak melihat memakai kacamatan Ananias.

Dalam rekaman Ananias, pimpinan daerah gagal memahami latar belakang dan harapan warga berkait terbentuknya partisi baru yang diberinama sorong ke selatan itu, setitik kecil simpulan ini sudah pasti mewakili tiga dari empat warga segenarasi Ananias yang sedang menunggu terbukanya pintu itu.

Ananias dan generasi seusianya mulai menanyakan begini. Sudah setengah matikah pemerintah sebab jawaban yang mucul dari hampir tiga dari empat warga seusia Ananias menyatakan kehadiran sorong ke selatan belum mampu memperbaiki angka kesejahteraan warganya.

Anannias, kehadiran partisis baru yang diberi nama sorong ke selatan sejauh ini masih belum memberikan manfaat pada warganya. Apa yang menjadi harapan masyarakat belum terjawab dengan baik oleh pemerintah sesuai mimpi dan harapan warga ke depan.

Perhatian utama yang menurut Ananias, perlu di lakukan pemerintah yaitu perlu mengkoreksi angka kesejahteraan warga melalui program yang  terukur sebab yang terjadi tahun ini, pemerintah masih sibuk urus politik.
Mata Pena : arkam


Ananias, kau harus dengar dan catat baik serta sampaikan-sampaikan sama keluarga yang lain tentang bantuan pendidikan yang diberikan itu bukan jaminan akan bekerja sebagai pegawai pemerintahan.

Ananias, tidak diberikan jaminan dengan mendapatkan beasiswa itu, nanti selesai menamatkan pendidikan langsung diangkat menjadi pegawai pemerintahan di daerah sorong ke selatan itu.

Ananias, tidak mendapatkan jaminan apapun sebab kau masih dianggap sebagai faktor produksi serta masuk dalam komponen belanja pendidikan, hal itu membuat tidak ada jaminan menjadi pegawai pemerintahan.

Ananias, harus banyak membaca agar bisa mengerti dengan baik tentang apa yang dimaksud program wajib pendidikan yang perlu dilakukan daerah sorong ke selatan agar bisa memperbaiki nilai index Pembangunan Manusia.

Ananias, menghabiskan waktu malam hari untuk doa dan meditasi sebagai sarana utama merefleksikan kembali perjalanan yang sudah di habiskan sebanyak tiga ratus enam puluh lima hari itu.

Ananias, semakin lesu serta sedikit berada dalam posisi setengah hidup sebab Ia harus terus melangkah maju dan sudah tidak mungkin mundur sebab lembaran buku tentang esok harus terus dituliskan sebab esok itu kosong.

Ananias, mulai sadar bahwa waktu yang dihabiskan untuk menunggu terbukanya pintu pegawai pemerintahan sudah sedikit hilang sebab dijemput usia yang sudah tidak mudah lagi menjadi pegawai pemerintahan.