@arkam


Cerita rakyat di ikat kemabali karena kita semua tidak ingin hilang dari sejarah. Pokoknya tahun ini, saya harus menulis cerita rakyat, jangan sampai ada persepsi yang mengatakan cerita sejarah asal kamu sudah seperti benang kusut tidak tahu lagi apa dan dimana ujung pangkalnya. Apa benar begitu bodohnya aku sampai tak bisa menulis cerita asal kami. Pokoknya aku harus bisa menulis sejarah agar tidak semakin kusut.
Sebelum melangkah lebih jauh menguraikan cerita sejarah yang sudah semakin kusut, kita perlu memberikan ucapan terima kasih buat anak dusun weer yang masih terpahat pesan tua-tua kampung, siapa orangnya. Ia adalah salah satu akut penerus Marga Ick biasa dipangil Mesak Ick. Dia yang menulis sejarah orang Ick yang sudah kusut diuraikan sepotong-sepotong menjadi sebuah tulisan karena ia tidak ingin hilang dari sejarah.
Cerita rakyat yang melegenda dan diceritakan berulang-ulang dari generasi kegenerasi menceritakan lahirnya Marga Ick,  Pada suatu hari ada seorang anak laki-laki paruh bayah yang melakukan perburuan di hutan atau biasa disebut juga dusun weer yang sekarang disebut kocuwer, dalam melakukan perburuan tanpa disengaja Ia menemukan seekor burung Ick sejenis merpatih hutan sedang mengeram dan menjaga telurnya diatas daun pakis hutan yang dalam bahasa setempat disebut (suwabah) dalam sarangnya burung Ick hanya terdapat sebutir telur. Dalam menjaga telur burung melihat ada musuh atau orang yang datang itu, semakin mendekati sarang membuat burung Ick terbang pergi meninggalkan telurnya diatas suwabah (daun pakis hutan). Setelah sampai didepan sarang burung yang terlihat hanya sebutir telur berwarna putih keemasan, Ia tidak mengambil telur tersebut tetapi membiarkan telur tetap pada saran burung Ick sebagai alat pancingan karena targetnya hanya satu harus bisa menangkap burung tersebut.
Hari sudah mulai sore, Ia melangkah pulang kerumah dengan ditemani aroma malam yang menjemputnya untuk pulang meninggalkan dusun weer kerumah, Ia sudah lelah berjalan mencari buruan untuk mencukupi makan keluarga kecilnya.
Setibanya dirumah Ia, memberihkan tubuh dan menyantap hidangan makan malam yang sudah disiapkan istri, setelah habis makan Ia mengambil segala keperluan tidur, dalam tidur malam, Ia tidak mendapatkan informasi bisikan alam tentang misteri telur burung di dusun weer.  Pada keesokan harinya Ia melakukan aktifitas sebagai seorang pemburu hewan liar dengan menyiapkan segala kebutuhan berburu, setelah semuanya sudah lengkap barulah Ia berangkat ke dusun weer, dalam perjalanan tidak ditemukan pesan-pesan alam tentang misteri terlur itu, dengan melangkah terus mendekati sarang burung Ick meletakkan telur, ternyata telur tersebut sudah terjatuh dan menetas menjadi seorang bayi laki-laki ganteng. Ia berjalan semakin mendekat, terdengar suara bayi yang membuat Ia terkejut serta timbul perasaan ketakutan membuat Ia berfikir ini benar manusia ataukah hantu ?, untuk memastikan suara itu, Ia undur mengambil jarak kurang lebih lima belas meter dari sumber suara bayi itu, lalu membuat mawe yang dalam bahasa lokal di sebut (tane boo), tane boo dilakukan dengan membaca mantra-mantra dengan memakai alat perantara komunikasi yaitu tali dengan kayu, dimana kayu diikat dengan tali setelah itu ujung masing-masing tali dipegang barulah mantra dibacakan, apabila kayu itu bergerak berarti suara itu manusia dan jika kayu itu tidak bergerak berarti suara itu hantu atau biasa disebut putri. Setelah proses ritual tane boo dilakukan ternyata suara bayi itu adalah manusia, lalu Ia mengambil keputusan untuk mengangkat bayi tersebut dan menggendong dengan penuh gembira berjalan pulang meninggalkan dusun weer setibanya dirumah Ia menyerahkan bayi itu kepada istrinya untuk membersihkan atau dimandikan serta merawat sampai tumbuh menjadi anak remaja, setelah dewasa, berkeluarga dan keturunan dari anak ini diberinama keluarga atau Marga Ick.   
Demikian cerita legenda asal Marga Ick dengan tempat asalnya di Kocuwer atau Kokas sekarang. Akut Kocuwer. Pokoknya kita tidak ingin hilang dari sejarah, maka menulislah dari mana kamu berasal, jadikan tulisan sebagai ikatan lima sampai sepuluh generasi kedepan. @arkam
.......Ini coretan saya....mana coretan kamu......sesama anak negri..............!.
Resensi Buku 1951



Memelihara, menjaga, melindungi, merawat, kalimat-kalimat di atas sama-sama menjelaskan bagaimana menjaga kesatuan semuah berpulang pada hati kecil kita serta bagaimana resep yang kita ciptakan bisa menghadirkan kelesatan sebuah hidangan kebersamaan yang aromanya semerbak wangi bunga diantar angin memberi kabar kesemua penjuru tanah A3 dan Papua umumnya. Pada era perang dunia ketiga yang bukan merupakan perang sunguhan atau perang secara arfiah, tetapi perang dunia ketiga adalah perang generasi milenium, generasi yang lahir di atas tahun 1994. Generasi milenium mereka sudah menguasai dunia dengan lini mas media sebut saja facebook, whatapp, line sebagai media membangun opini. Aturan main telah berubah sebab kemudahan akses dan harga murah.
Generasi milennium mereka bukan wartawan benaran, membangun opini dan menulis berita dengan memakai metode sendiri dan dipublikasikan menurut cara-cara mereka sendiri.
Lima pemuda A3 dengan keterbatasan pendidikan sudah menciptakan sebuah modal sosial melalui slogan “ra mana sau” sebagai sebuah pesan universal untuk menjaga, memelihara dan melindungi dan melestarikan kesatuan orang A3.
Menjaga kesatuan pada era keterbukaan memiliki tantangan tersendiri, karena yang akan diberikan edukasi (pendidikan) tentang pentingnya makna “MERAWAT” adalah Generasi masa kini atau yang lebih tren disebut generasi milenium atau generasi sosial media. Strategi apa yang akan digunakan untuk merebut hati mereka, karena mereka penerus orang A3 selanjutnya.
Sebagaimana diketahui bersama bahwa politik kain timur (sebutan lain untuk bo) masih merupakan sumber paling utama selain pendidikan menaikan status sosial seseorang bisa dibedakan dalam kelas sosial tetapi tidak bisa dipisahkan dari nilai hidup orang A3. Politik kain timur secara negatif bisa membuat lemahnya hubungan kekerabatan masyarakat. Secara kacamata theologia, politik kain timur tidak direkomentasi karena akan bertentangan dengan ajaran-ajaran Kristen di benarkan.
Politik kain timur sebaiknya diartikan yang positif karena sebuah alasan mendatangkan keuntungan dari sisi ekonomi kepada masyarakat serta kain timur juga merupakan bagian dari nilai hidup orang A3 yang tidak bisa dipisahkan bahkan dihilangkan politik kain timur di A3. Penghilangan kain timur sama artinya dengan membumi hanguskan budaya orang A3.
Lahirnya pesan “MERAWAT KESATUAN” yaitu keadaan setelah orang-orang A3 seputar danau Ayamaru sampai Aitinyo sudah menerima dan memelihara ajaran-ajaran Kristen dengan baik. walaupun dengan keterbatasan pendidikan dan proses kelahiran memelihara kesatuan yang diprakarsai lima anak muda cerdas pada masa itu di A3.
Dari proses menerima pesan firman tuhan yang disampaikan Yesus lewat Rasul Ruben Rumbiak dapat ditarik pelajaran umum tentang kelahiran sebuah konsep keutuhan yang pada masa itu sudah diprediksikan situasi dan kondisi serta tindakan berbagai pihak dalam situasi yang dihadapi bersama.
Dalam situasi umum yang dihadapi berkaitan pelayanan pada masyarakat secara bersama telah muncul prakarsa secara bersama untuk menjaga dan melestarikan ajaran Kristen protestan merupakan gereja mula-mula di A3. Di dalam penjelasan “MERAWAT KESATUAN” pada masa itu sudah di implementasikan lima pemuda A3, dengan fasilitas yang terbatas mereka tetap menjaga dan merawat pesan itu dalam kehidupan sehari-hari. Semua itu dilakukan agar tidak ada perpecahan antar lima pemudah A3 yang pintar dan cerdas pada masa itu.
Berangkat dari pesan Firman Tuhan yang lebih dikenal Masyarakat A3, pesan Theofani disampaikan melalui lima murid, sahabat, teman, saudara, keluarga Rasul Ruben Rumbiak yakni “MERAWAT KESATUAN” sejak awal Rasul Ruben Rumbiak diutus pergi kesuatu tempat yang terpencil nanjauh di wilayah pedalaman kepala burung kasuari yang pada masa itu tak pernah terpikirkan oleh Sarjana Jebolan Sekolah Tinggi Theologia Iskeyne di Port Numbay. Seorang pemudah gagah asal Biak yang dalam kehidupan orang A3 dipangil Rasul. Ia menghabiskan hidup dan kehidupan semuanya untuk membangun dan mengembangkan pendidikan dan keimanan orang A3.
Perjalanan ketempat pelayanan memakan waktu berminggu-minggu bahkan bulan memakai kapal laut berbobot kecil yang biasa disebut kapal perintis, setibahnya di Sorong dan melanjutkan perjalanan lewat Teminabuan yang kurang lebih memakan waktu seharian, setibanya di Teminabuan dan melanjutkan perjalanan ke pedalaman A3 berjalanan kaki dengan bermodalkan Alkitab sebagai senjata utama.
Sejak awal tibahnya di tanah kayahai yang merupakan tanah tempat perjumpaan Rasul Ruben Rumbiak dengan Tuhan, masyarakat kampung membuat pesta penjemputan yang meriah ukuran masa itu.
Komitmen iman Rasul Ruben Rumbiak untuk membangun umat Kristen bermula dari tanah Kayahai sebagai tanah perjanjian atau basis pelayanan dan dilanjutkan ke kampung-kampung lain seputar danau Ayamaru serta berlanjut ke Aitinyo.
Dalam melaksanakan visi gereja banyak sekali persoalan-persoalan yang muncul dan teramat sulit dipercahkan kerena keterbatasan pendidikan masyarakat pada masa itu yang membuat banyak penolakan-penolakan terhadap kehadiran gereja karena mereka masih hidup berkomunikasi dengan alam.
Untuk menyebarkan pesan-pesan firman tuhan rasul Ruben Rumbiak memilih lima orang anak muridnya sebut saja Abraham Kambuaya, Markus Solosa, Piter Howay, Simon Isir dan Habel Tambunete untuk menemani rasul Ruben Rumbiak memberitakan Ijin keselamatan melalui pesan-pesan Firman Tuhan, dalam perjalan dilihat belum berjalan maksimal, persoalan itu diambil sebagai bahan renungan dalam doa dengan berbagai analisis yang matang mereka bersepakat mendirikan sekolah alkitab dengan alasan sederhana agar masyarakat bisa membaca dan menulis bagian dari perubahan.
Relasi orang A3 adalah proses menyatukan perbedaan yang ada pada masyarakat karena klasifikasi kelas sosial di bingkaikan dalam lilitan “ra mana sau” akan melilitkan keserasian dan keselarasan secara utuh di tanah A3.
Masyarakat A3 terintegrasi dengan baik dalam satu tungku “ra mana sau” dengan baik merupakan harapan bagi setiap tokoh-tokoh A3. Relasi mansyarakat adalah kondisi ideal yang diperlukan bagi generasi yang lahir di bawah tahun 1994 perlu membangun kembali kejayaan lima tokoh utama yang tampil satria dengan keterbatasan pendidikan berdiri bersama-sama membantu Rasul Ruben Rumbiak pada masa itu agar tidak terjadi perpecahan dan tetap terjaga dan dilestarikan. (@arkam)


@arkam

A.        Umum
Menurut wikipedia menjelaskan bahwa hukum adat adalah sistem hukum yang dikenal dalam lingkungan kehidupan sosial di Indonesia dan negara-negara lainnya seperti Jepang, India, dan Tiongkok. Hukum adat adalah hukum asli bangsa Indonesia. Sumbernya adalah peraturan-peraturan hukum tidak tertulis yang tumbuh dan berkembang dan dipertahankan dengan kesadaran hukum masyarakatnya. Karena peraturan-peraturan ini tidak tertulis dan tumbuh kembang, maka hukum adat memiliki kemampuan menyesuaikan diri dan elastis. Selain itu dikenal pula masyarakat hukum adat yaitu sekelompok orang yang terikat oleh tatanan hukum adatnya sebagai warga bersama suatu persekutuan hukum karena kesamaan tempat tinggal ataupun atas dasar keturunan.
Dalam kaitan adat, maka menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adat adalah aturan yang lazim dituruti atau dilakukan sejak dahulu kala; cara yang sudah menjadi kebiasaan; wujud gagasan kebudayaan yang terdiri atas nilai-nilai budaya, norma, hukum, dan aturan yang satu dng lainnya berkaitan menjadi suatu sistem. Karena istilah Adat yang telah diserap kedalam Bahasa Indonesia menjadi kebiasaan maka istilah hukum adat dapat disamakan dengan hukum kebiasaan.
Sebuah aturan hukum akan ditaati dan dipatuhi oleh masyarakat apabila aturan tersebut memberikan jaminan bagi mereka akan hak dan kewajiban secara proporsional. Ketika seseorang merasakan suatu aturan yang melingkupinya memberikan kenyamanan maka individu tersebut akan tunduk dan patuh pada aturan hukum tersebut. Dalam kenyataannya dalam masyarakat hidup aturan yang tidak tertulis, yang lebih dikenal dengan hukum adat. Walaupun aturan-aturan tersebut tidak tertulis tetapi masyarakat mematuhi aturan tersebut.

B.        Peradilan Hukum Orang Maibrat
Maibrat merupakan salah satu etnis yang berulang kali saya jelaskan daerah teritori mereka berada tepat di pedalamana kepala burung kasuari, merupakan sebutan lain untuk menjelaskan penyebaran orang asli papua di dataran tanah papua dengan wilayah adat domberay. Orang Maibrat masih menyimpan misteri budaya tradisional yang belum banyak di publikasikan keluar Maibrat.
Dalam lingkungan orang Maibrat baik di dalam maupun di rantau selalu membawa aturan yang menggariskan perilaku orang Maibrat itu sendiri. Berbicara mengenai aturan maka kita akan berbicara mengenai sanksi. Aturan tanpa adanya sangksi adalah sia-sia. Kerena fungsi sanksi adalah untuk memaksimalkan ketaatan orang Maibrat terhadap aturan tersebut. Tanpa ada saksi peraturan tidak akan dipatuhi oleh orang Maibrat.
Ketaatan orang Maibrat terhadap aturan mencerminkan kesadaran hukum yang dimiliki oleh orang Maibrat. Semakin tinggi kesadaran orang Maibrat maka semakin rendah tingkat pelanggaran hukumnya semenara jika kesadaran yang dimiliki sangat tinggi orang Maibrat tidak membutuhkan aparat penegak hukum.
Misteri budaya orang Maibrat yang belum disampaikan kedepan umum adalah mekanisme penyelesai masalah memakai ritual adat atau kebiasaan yang masih diyakini memiliki nilai lebih dalam mengungkapkan sebuah persoalan dalam Bahasa Maibrat disebut Fnor. Sebelum saya menjelaskan lebih jauh mengenai peradilan adat orang Maibrat ada baiknya saya menjelaskan secara umum system hukum adat yang dipelihara orang Papua yang jumlahnya sekitar 250 suku dengan jumlah bahasa daerah yang berbeda-beda mempunyai system huk um adat yang berbeda dengan hukum adat di Indonesia dalam menyelesaikan berbagai kasus di Papua.
System hukum di Indonesia pada umumnya dalam menyelesaikan kasus penghilangan nyawa seseorang sudah menjelaskan atau mengatur mulai proses di kepolisian hingga penahanan. Sementara hukum adat Papua ada kompensasi yang harus dibayarkan dari pelaku kepada korban.
Gambaran diatas sebagai pintu masuk saya untuk menjelaskan bagaimana penyelesaian kasus hukum menurut orang Maibrat. Untuk menyelesaikan kasus di wilayah orang Maibrat berkewajiban mengikuti arahan kepala suku karena apabila terjadi kasus tertentu yang disengaja atau tidak disengaja kepala suku atau keluarga inti dan keluarga terdekat wajib menjelesaikannya menurut aturan adat.  Berbicara mengenai hukum tak tertulis erat hubungannya dengan orang Maibrat karena hokum tak tertulis lahir dan terbentuk dalam kehidupan orang Maibrat.
Suatu ketika terjadi persoalan antar anak-anak mudah sekampung yang pergi bermaian-main ketika pulang sekolah atau jalan karena liburan sekolah dengan memakai kendaraan roda dua atau roda empat, dalam perjalanan mereka tiba-tiba terjadi kecelakaan yang mengakibatkan seorang teman meninggal dunia atau terluka. Persoalan seperti itu biasa diberlakukan hukum adat yang dalam lingkungan orang Maibrat disebut hukum isti.
Dalam menyelesaikan persoalan hukum isti nilai kompensasi yang biasa diminta pihak korban bisa mencapai ratusan juta. Proses pembayaran untuk yang meninggal dunia biasa dibilang bayar kepala dan penyelesaian persoalan terluka biasa disebut bayar darah. Apabila nilai kompensasi yang diminta belum ada kesepahaman biasanya melahirkan konflik berkepanjangan yang biasa berakhir pada pemakain ilmu hitam yang biasa disebut (bombo) atau suangi (kabes fane).
Gambaran yang lain berkaitan dengan peradilan adat orang Maibrat, misalnya ada kasus memanas yang dimunculkan karena ada perang politik antara berbagai kelompok kepentingan dalam wilayah pemerintahan atau politik yang menyebabkan ada korban jiwa yang dibunuh dengan cara memberikan racun (bombo) atau dibunuh dengan memakai kabes fane.
Dalam menyelesaikan menyelesaikan persoalan tersebut biasanya didatangkan para normal dan proses menyelesaikan persoalan biasanya memakai ruang terbuka agar bisa disaksikan semua orang Maibrat. Proses pendalaman kasus dilakukan para normal dengan menayakan orang yang diduga sebagai suanggi (kabes fane) dalam proses interogasi pelaku tidak mau mengakui kesalahannya, maka proses selanjutnya untuk membuktikan bahwa yang melakukan kejahatan adalah pelaku dilaksanakan dengan membuat pesta adat yang dalam kehidupan orang Maibrat di sebut Fnor.
Fnor merupakan ilmu infestigasi orang Maibrat dalam menyelesaikan persoalan-persoalan menghilangkan nyawa seseorang karena iri hati yang masih tetap dipelihara secara turun temurun sebagai peradilan hukum adat orang Maibrat dalam mengungkapkan kasus-kasus ilmu hitam (kabes fane).
Berbicara mengenai hukum tak tertulis erat dengan keberadaan orang Maibrat. Karena hukum tak tertulis lahir dan terbentuk dalam kehidupan orang Maibrat. Orang Maibrat adalah sekumpulan orang yang terdiri dari tiga suku besar A-3 (Ayamaru, Aitinyo, Aifat) yang menempati wilayah pedalaman kepala kasuari dimana di dalamnya terdapat berbagai macam fungsi-fungsi dan tugas-tugas tertentu. Orang Maibrat terbentuk akibat kesamaan kultur, budaya dan agama yang sama.(@arkam)


@arkam

  Umum
Pemekaran wilayah Maibrat menjadi beberapa daerah otonom terkecil dalam pemerintahan Maibrat membuat kecepatan perubahan sosial masyarakat sanggat luar biasa, hal ini disebabkan juga oleh adanya kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi tidak harus kita hindari tetapi kita harus memanfaatkannya semaksimal mungkin bagi kehidupan masyarakat.
Kehidupan masyarakat yang sanggat dinamis ini memang akan membuat perubahan sosial akan selalu terjadi. Perubahan sosial biasanya ditandai dengan keyidak seimbangan antara satuan sosial. Sifat perubahan sosial itu mutlak, artinya setiap masyarakat selalu mengalami perubahan. Perubahan sosial juga saling berkaitan, misalnya kegagalan sebuah suksesi, maka segala kegagalan tim pendukung akan mengalami goncangan yang begitu kuat.
Pada pembahasan ini, saya hanya melihat faktor utama yang menyebabkan perubahan sosial orang Maibrat yaitu: konflik sosial. Sejalan dengan itu maka dalam beberapa sumber yang menjelaskan tentang makna konflik sosial menjelaskan bahwa konflik sosial biasa terjadi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok maupun individu dengan kelompok. Konflik sosial bisa terjadi karena berbagai sebab mulai dari perbedaan pendapat sampai pada perbedaan kampong (kot). Adanya konflik sosial ini mengakibatkan terjadinya perubahan sosial. Hal ini disebabkan oleh adanya suatu pertentangan atau konflik, maka akan mengakibatkan perubahan struktur kondisi masyarakat.
Perubahan sosial merupakan perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat mengenai nilai-nilai sosial, norma dan berbagai pola dalam kehidupan masyarakat. Setiap masyarakat dimasing-masing wilayah pemekaran akan mengalami trubulensi perubahan sosial, hal ini dapat kita lihat pada masa sebelum pemekaran dan sesudah pemekaran, hal ini mungkin dipengaruhi perubahan teknologi, keterbukaan informasi, harga murah dan muda akses.
Pada umumnya setiap masyarakat yang ada diplanet ini dalam hidupnya dapat dipastikan akan mengalami apa yang dinamakan dengan perubahan. Perubahan yang terjadi dalam masyarakat Maibrat pada dasarnya merupakan suatu proses yang terus menerus ini berarti bahwa setiap masyarakat Maibrat pada kenyataannya akan mengalami perubahan. 


Perubahan Sosial
Perubahan merupakan proses yang terus menerus terjadi dalam setiap masyarakat. Proses perubahan itu ada yang berjalan sedemikian rupa sehingga tidak terasa oleh mayarakat pendukungnya. Gerak perubahan yang sedemikian itu disebut evolusi. Sosiologi mempunyai gambaran adanya perubahan evolusi masyarakat dari masyarakat sederhana ke dalam masyarakat modern. Proses gerak perubahan tersebut ada dalam satu rentang tujuan ke dalam masyarakat modern.
Perubahan sosial akan dipandang sebagai konsep yang serba mencakup yang menunjuk kepada perubahan. Fenomena sosial di berbagai tingkat dunia. Perubahan sosial dapat dipelajari pada satu tingkat tertentu atau lebih dengan menggunakan berbagai kawasan studi dan berbagai satuan analisis. Namun yang perlu diperhatikan adalah bahwa perubahan penting pada satu tingkat tertentu tidak harus penting pula pada tingkat yang lain. Perubahan sikap mungkin mencerminkan perubahan hubungan antar individu, antar organisasi atau antar institusi, tetapi mungkin pula tidak. Adanya kesenjangan waktu, sehingga perubahan yang terjadi pada satu tingkat lebih lambat yang terjadi pada tingkat lain. Dengan demikian bahwa perubahan disetiap tingkat kehidupan sosial mungkin lebih tepat dianggap sebagai perubahan sosial, dan riset harus dipusatkan pada arah dan tingkat perubahan di berbagai tingkat yang berbeda.
Orang Maibrat merupakan kumpulan tiga suku besar yang mendiami wilayah pedalaman kela burung papua (lihat peta papua) memiliki tradisi tolong menolong yang teramat sanggat kuat hidup dan berkembang dalam wilayah Maibrat. Masyarakat Maibrat merupakan kumpulan individu dan kelompok yang membentuk organisasi sosial “ra mana sau” yang bersifat kompleks ketika dimaknai. Dalam organisasi orang Maibrat terdapat nilai-nilai dan norma-norma yang fungsinya sebagai aturan hukum adat yang selalu dipatuhi orang Maibrat dalam bertingkah laku dan berinteraksi dalam kehidupan orang Maibrat.
Perubahan pada orang Maibrat semakin hari semakin tak terkendali. Perbedaan perubahan dapat mengakibatkan munculnya kecemburuan sosial yang harus dihindari.
Perubahan sosial yang berlangsung dengan cepat di wilayah Maibrat terjadi secara terus menerus dan merupakan perbaikan kearah tujuan dan kemajuan yang diharapkan bersama.
Trubulensi perubahan sosial yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi seluruh kehidupan masyarakat Maibrat itu adalah dampak dari pembangunan disegala bidang yang dilakukan pemerintah daerah untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Maibrat.
Percepatan perubahan sosial itu dapat dimungkinkan oleh kemajuan teknologi yang didapatkan masyarakat Maibrat melalui pendidikan.
Orang Maibrat dalam hidupnya dapat dipastikan akan mengalami apa yang dinamakan perubahan, dengan adanya perubahan tersebut kita dapat membuat perbandingan antara masa sebelum dan sesudah pemekaran. Perubahan-perubahan dalam masyarakat Maibrat merupakans sebuah proses yang terjadi secara terus menerus.
Perubahan yang terjadi antara masyarakat yang berada diwilayah kekuasaan dengan masyarakat yang berada diluar wilayah kekuasaan akan menampilkan perubahan yang berbeda, misalnya dalam tata busana antar yang memiliki daya beli baik dengan yang tidak memiliki daya beli baik. perubahan dalam wilayah kepentingan tersebut wajar, mengingat manusia memiliki kebutuhan yang tidak terbatas. (@arkam)

 @arkam


  
Umum
Beberapa bentuk struktur kelas atau st ratifikasi sosial telah ada pada semua masyarakat di sepanjang sejarah keberadaan manusia. Kelas sosial merupakan suatu bentuk hirarki masyarakat yang pasti terjadi dalam sebuah masyarakat, baik di kelompok masyarakat yang sederhana, seperti di desa, hingga masyarakat kosmopolitan yang pluralistik, seperti di Surabaya. Terdapat berbagai variasi pembagian kelas sosial di dalam masyarakat tersebut berdasarkan tolak ukur atau variabel yang digunakan dalam melakukan stratifikasi kelas sosial.
Masing-masing kelas sosial yang telah terbentuk memiliki karakteristik yang dicerminkan oleh para anggota yang menduduki suatu kelas sosial tertentu. Kelas sosial merupakan tempatuntuk berbagi nilai, gaya hidup, minat, dan perilaku yang kemudian membedakan perilaku konsumsi seseorang dari berbagai kelas sosial tersebut. Secara umum, pembagian kelas sosial di Indonesia terbagi menjadi kelas bawah, kelas menengah, dan kelas atas.
Basis yang digunakan dalam menetukan kelas sosial tersebut berbeda-beda sesuai dengan ukuran yang digunakan dalam suatu kelompok masyarakat.
Stratifikasi sosial adalah sebuah konsep yang menunjukkan adanya pembedaan dan atau pengelompokan suatu kelompok sosial secara bertingkat. Misalnya: dalam komunitas tersebut ada strata tinggi, strata sedang dan strata rendah. Pembedaan dan atau pengelompokan ini didasarkan pada adanya suatu symbol-simbol tertentu yang dianggap berharga atau bernilai baik berharga atau bernilai secara sosial, ekonomi, politik, hukum, budaya maupun dimensi lainnya dalam suatu kelompok sosial. Simbol- simbol tersebut misalnya, kekayaan, pendidikan, jabatan, kesalehan dalam beragama, dan pekerjaan. Dengan kata lain, selama dalam suatu kelompok sosial ada sesuatu yang dianggap berharga atau bernilai, dan dalam suatu kelompok sosial pasti ada sesuatu yang dianggap berharga atau bernilai, maka selama itu pula akan ada stratifikasi sosial dalam kelompok sosial tersebut.


 Kelas Sosial
Gambaran sebuah entitas di wilatah pedalaman kepala burung (lihat peta papua), terdapat satu suku yang mendiami wilayah gugusan batu karang yang biasa disebut orang A-3 (Ayama, Aitinyo, Aifat) atau dengan sebutan lain orang Maibrat masih menyimpan misteri alam dan budaya yang belum terpecahkan.
Dalam lingkup orang Maibrat, Saya menlihat bahwa ada perbedaan yang berlaku dan diterima secara luas oleh orang Maibrat yaitu kelas social yang meliputi: (1) ra bobot; (2) ra kinyah; (3) ra warok dan (4) ra keir atau sigiah. Perbedaan itu tidak hanya muncul dari sisi status sosial tetapi ada juga diwilayah pemerintahan dan politik, misalnya ada yang menduduki jabatan tinggi seperti kepala daerah, Sekda, Ketua DPR, Kepala Dinas dan jabatan paling rendah Kepala Distrik, Kepala Kelurahan, Kepala Kampung sementara ada yang biasa-biasa saja dan orang miskin.
Perbedaan itu tidak muncul hanya muncul dari dua komponen status social dan jabatan politis atau pemerinatahn, melainkan muncul juga dari jenjang pendidikan yang ditamatkan orang Maibrat.
Dalam kelas sosial orang Maibrat sudah tergambar dengan jelas atau dalam pemahaman ilmu manajemen siapa perintah siapa, siapa kerja apa dan bertanggungjawab kepada siapa dan juga dalam kelas sosial orang Maibrat faktor keturunan pihak orang tua yang selalu dituakan dalam sebuah ikatan kekerabatan karena meraka menjadi terpandang di kampong (kot).
Pembagian kelas sosial orang Maibrat berdasarkan kriteria baik menurut keturunan, pendidikan dan status ekonomi. Setiap orang Maibrat dalam wilayah terkecil mata rumah di satu kampong (kot) senentiasa mempunyai penghargaan tertentu dalam masyarakat Maibrat itu sendiri.
Barang yang diharagai orang Maibrat paling utama dan terutama adalah kepemilikan Wan merupakan penghargaan tertinggi sementara status pendidikan dan ekonomi seseorang masih menjadi pelengkap. Jika ada sekelompok kecil dari orang Maibrat yang memiliki barang-barang berharga Wan dalam jumlah yang besar, maka masyarakat Maibrat akan menganggap mereka sebagai kelompok atau golongan sosial baru yang dalam Bahasa Maibrat disebut bobot. Sebutan itu diberikan kepada mereka-mereka yang mampu bertransformasi lewat bidang pendidikan serta menduduki jabatan-jbatan strategis bagi di pemerintahan maupun politik. Sebaliknya orang-orang Maibrat yang sama sekali tidak memiliki bo kelas satu atau bo biasa-biasa saja atau sama sekali tidak memilki bo, maka mereka-mereka ini mempunyai kedudukan yang rendah di kalangan orang Maibrat.
Status social orang Maibrat yang dalam ilmu sosiologi disebut “Social Startification” yang berasal dari kata Stratum yang jamaknya Strata dan biasanya lebih dikenal dengan istilah lapisan yang biasa juga disebut kelas social. Istilah lapisan yang terdapat masyarakat Maibrat telah ada sejak zaman nenek moyang orang Maibrat sudah mengenal kehidupan bersama dalam ikatan organisasi soaial yang disebut “Anu Betha Tubat”.
Lapisan orang Maibrat pada masa lampau di dasarkan pada beberapa banyak kepemimlikan bo kelas satu yang dalam Bahasa biasa disebut wan, berapa banyak jumlah patner dagang, berapa banyak pengikut, ukuran-ukuran tersebut yang akan menentukan pemberian status social atau kelas sosial dalam wilayah kehidupan orang Maibrat dan pemberian status sosial tidak mengenal batas generasi.
Transformasi melalui bidang pendidikan dan mendapatkan kedudukan dalam jabatan-jabatan strategis mempunyai arti yang sanggat penting dalam meningkatkan prestise seseorang. Strata pendidikan dan jabatan juga sudah disadari orang Maibrat sebagai sebuah kekuatan yang sama dalam membentuk kelas sosial seseorang. 
Kedudukan mereka sudah diketahui dan diakui oleh masyarakat Maibrat secara umum. Bobot dapat didefinisikan sebagai suatu lapisan kelas sosial baru yang kedudukannya sama dalam rangkaian kesatuan status sosial.
Kelas sosial orang Maibrat yang paling menonjol sekalai adalah kepemimlikan wan, sementara dalam perkembangan mulai bergeser dengan sebutan bobot yang kalua didefinisikan sebagai orang-orang yang memiliki strata pendidikan dan ekonomi yang baik.
Berangkat dari diskusi-diskusi di atas tentang kelas social, bisa dilihat bahwa pada masa lampau orang Maibrat sudah mengenal klasifikasi kelas sosial yang dalam kehidupan sehari-hari biasa disebut (1) ra bobot, (2) ra kinyah; (3) ra warok, (4) Sigiah.
Model kelas sosial inilah yang membuat orang Maibrat memilki perbedaan yang mencolok dengan etnis-etnis lain di wilayah Papua. (@arkam)

@arkam

Sejak pemerintah mengeluarkan kebijakan dalam konteks menyelesaikan persoalan rentang kendali pelayanan pemerintah atau dengan kaca mata ekonomi saya sebutkan kebijakan mendekatkan uang kepada masyarakat agar makna keadilan ekonomi bagi seluruh rakyat Indonesia dapat direalisasikan melalui pendekatan menciptakan sekat baru yang diberinama daerah otonom baru atau lebih tren disebut pemekaran kabupaten.
Pedalaman hadir diwilayah pedalaman kepala burung lihat peta papua, tepatnya diwilayah A-3 (Ayamaru, Aitinyo, Aifat) mereka ini merupakan pemilik hak ulayat yang hidup dalam tiga wilayah administrasi pemerintahan yaitu Distrik Ayamaru, Distrik Aitinyo dan Distrik Aifat dalam wilayah pemerintahan Kabupaten Sorong. Mata pencaharian tiga suku ini rata-rata sebagai petani ladang. Sementara mencari ikan dan berburu merupakan kegiatan tambahan yang paling banyak dilakukan oleh mereka yang kampungnya bedekatan dengan danau ayamaru pada masa itu ketika memasuki masa musim tanam sementara bagi mereka yang pemukimannya jauh dari danau biasanya membawah hasil kebun untuk ditukarkan dengan ikan. Pada masa itu orang Maibrat sudah mengenal barter yaitu tukar menukar bahasa daerah tiga suku besar itu di sebut Bahasa Maibrat.
Sebutan orang Ayamaru pertama kali dilakukan misionaris pada masa lampauw mereka sebut ayamaru yang diambil dari kata dasar Aya berarti Air dan Maru berarti Telaga atau Danau. Sebutan itu diberikan karena suku tersebut mendiami seputar danau ayamaru. Dalam perkembangan tata oraganisasi tradisional pada masa lampauw di bagi dalam tiga wilayah yaitu Ayamaru, Aitinyo dan Aifat yang hidup masih dalam satu wilayah atau entitas “ra mana sau”. orang Maibrat memiliki keunggulan komunikasi dalam satu bahasa ibu, yang hanya dibedakan dialeknya saja yang membuat suku ini terkenal dengan system kekerabatan yang sanggat kuat dan dipelihara secara turun temurun.
 Pada pembahasan kali ini, saya mencoba mengaplikasikan ilmu manajemen dengan memakai model tiga suku besar Ayamaru, Aitinyo dan Aifat yang diterjemahkan kedalam tiga fungsi manajememen yaitu: (1) manajemen Aityaru; (2) manajemen Aityono; dan (3) manajemen Aityefat.

Manajemen Aityaru
Dalam melihat system tata kelola pemerintahan saat ini dengan memakai model manajemen aityaru yang coba saya aplikasikan dari kata dasar ayamaru, walaupun saya tau pasti diantara para pembaca yang kurang sependapat dengan sebutan manajemen aityaru, menurut saya hal itu bisa-biasa saja, karena kacamata kita berbedah, atau buku-buku yang kita baca tahun terbitnya mungkin berbedah-bedah, namun ada satu hal yang membuat saya suka, kita bertengkar karena inggin berbagai tentang Maibrat.
Dalam tata kelola pemerintahan pada era manajemen buka buku atau yang lasim disebut transparansi saat ini, kita sebagai pimpinan atau bawahan dutuntut untuk mengelola keuangan pemerinatah daerah setransparan mungkin. Persoalan transparansi dibeberapa wilayah sudah dianggap sesuatu yang menakutkan karena ada ketakutan kena tangkap yang membuat banyak orang tidak tidak bersedia bekerja ditempat itu.
Masih dalam cerita tantang arti aityaru yang coba saya masukan sebagai salah satu fungsi manajemen aityaru disini bisa juga dimaknai sebagai manajemen perencanaan dalam system tata kelola pemerintahan  alit-alit lokal dalam wilayah pemerintahan, saya kira perlu dimasukan ukuran aityaru sebagai bahan pertimbangan untuk memilih orang-orang yang tepat dalam penempatan posisi-posi diwilayah pemerintahan, misalnya elit-elit lokal wilayah distrik induk ayamaru lebih cocok atau tepat ditempatkan sebagai orang perencanaan karena karakter mereka sebagai pemikir yang kalau ditempatkan pada bidang-bidang lain akan menimbulkan persoalan dikemudian hari karena harga yang harus dibayar kinerja mereka tidak akan pernah meningkat dan menghambat keberhasilan pimpinan.
Penempatan pada jabatan-jabatan yang bersentuhan langsung dengan bidang perencanaan sanggat cocok karena karakter mereka yang yang mungkin terbentuk sejalan dengan pemaknaan aityaru. Filosofi ini diambil dari system matapencaharian orang Maibrat yang profesi sehari-harinya sebagai petani lading, dalam membuka lahan garapan atau kebun yang pertama-tama dilakukan adalah membersihakan semak belukar dan menebang kayu yang dibiarkan dalam beberapa minggu, setelah itu dibakar lalu dibersihkan untuk ditanami tanaman yang sudah disiapkan.
Contoh lain, aityaru dalam model ini mengambarkan perilaku-perilaku individu para elit-elit lokal yang menyelesaikan masalah selalu memakai pendekatan kontak fisik lebih dominan dalam menyelesaikan persoalan ketimbang memakai pendekatan kemanusian. Model pendekatan seperti ini akan selalu membuat bawahan tidak bekerja secara maksimal karena dihantui ketakutan kena tamparan pimpinan atau kena karantina alias tidak mendapatkan jabatan.  

Manajemen Aityono
Dalam tata kelola pemerintahan saat ini seorang pimpinan dituntut untuk bisa memastikan bahwa pelayanan publik sudah berjalan dengan maksimal atau belum.
Seorang pimpinan harus memastikan bahwa keadilan pelayanan dasar sudah benar-benar dirasakan masyarakat atau belum. Berangkat dari alasan diatas, saya mencoba model manajemen aityono yang coba diaplikasikan dari kata dasar aitinyo, yang juga pasti menimbulkan banyak ketidak puasan karena kita masih terperangkap dalam kotak lokalitas, karena terlilit ego.
Dalam penulisan ini, saya mengajak kita secara bersama-sama untuk mencoba memikirkan tentang bagaimana menempatkan orang-orang yang tepat pada tempat yang tepat dengan memasukan ukuran manajemen aityono sebagai faktor kunci dalam proses penempatan sebuah jabatan.
Merujuk pada tata kelola pemerintahan di atas, dengan memakai model manajemen aityono, maka saya berpendapat bahwa yang tepat menduduki jabatan-jabatan yang membutuhkan kesabaran seperti misalnya pengelolaan keuangan adalah elit-elit lokal wilayah distrik induk Aitinyo, karena karakter individu mereka rata-rata lemah lembut serta selalu menyelesaikan persoalan memakai pendekatan kemanusiaan. Selain itu, mereka juga bekerja sanggat teliti pada bidang tata kelola keuangan atau penataan administrasi yang baik.

Manajemen Aityefat
Dalam tata kelola pemerintahan Maibrat saat ini dibutuhkan elit-elit lokal yang berani melakukan terobosan-terobosan dalam wilayah-wilayah demi kemajuan Maibrat. Dalam menjawab persoalan tersebut, saya mencoba menawarkan sebuah modal yang diberinama manajemen aityefat. Model ini saya sengaja memunculkan sebuah model dengan memakai kata aifat sebagai bagian lain dari fungsi manajemen Aityefat yang lagi-lagi pasti memunculkan persoalan bahwa sebutan yang dipakai itu tidak benar karena kami bukan seperti itu, pendapat itu biasa-biasa saja, karena model analisis saya dan kamu pasti berbeda. Berbeda bisa juga disebabkan buku-buku yang kita baca tahun terbitnya berbeda ataukah kita masih juga terperangkap dan terpenjara dalam lilitan lokalitas kampung (kot). Namun saya percaya kita pasti sama-sama berada dalam satu gerbong “ra mana sau”. Kita sama-sama punya tugas mengaja dan melestarikan budaya Maibrat.
Manajemen Aityefat dipergunakan sebagai faktor kunci utama untuk menempatkan orang pada tempat yang tepat dalam tata pemerintahan Maibrat, saya memberikan sebuah masukan asal wilayah distrik induk Aifat lebih cocok ditempatkan pada wilayah politik ketimbang pemerintahan sebab karakter individu mereka rata-rata sebagai petarung yang tidak pernah mengenal diplomasi yang ketika ditempatkan pada posisi jabatan dipemerintahan selalu saja menimbulkan persoalan karena karakter mereka yang selalu menyelesaikan persoalan memakai cara-cara tradisional. Selain itu, elit-elit lokal tersebut mungkin lebih cocok ditempatkan sebagai pengawas.
Catatan saya, disampaikan sebagai masukan yang masih perlu dikaji lebih lanjut apakah sistem penempatan elit-elit lokal dalam jabatan pemerintahan dan politik memiliki nilai positif apabila disandingkan dengan tifa fungsi manajemen yaitu: (1) Manajemen Aityaru; (2) Manajemen Aityono dan (3) Manajemen Aityefat, hadir sebagai sebuah model yang perlu dipertimbangkan pimpinan dalam menempatkan seseorang pada jabaran-jabatan strategis di pemerintahan.
Penempatan dalam jabatan sanggat penting dilakukan karena kita sebagai pemimpin harus memastikan bahwa keadilan ekonomi bagi seluruh orang Maibrat sudah dipenuhi atau belum. Selain itu, juga penempatana dalam jabatan memiliki nilai yang cukup kuat meningkatkan kinerja seorang pimpinan, apabila dalam pelaksanaannya tidak berjalan maksimal, maka harga yang harus dibayar yaitu kinerja akan menurun atau kata kasarnya selama kepemimpinan banyak program atau kegiatan yang gagal di implementasikan. (@arkam)


@arkam
Tak pernah terbayangkan orang tua kita melahirkan seorang pemberontak dan pembunuh yang akan membunuh ibu kandung yang diberinama “kekerabatan”. Peristiwa peperangan politik itu mulai terlihat dan dirasakan pada awal pembagian petak lahan garapan kebun yang diberinama daerah otonom baru dalam tata pemerintahan diberi nama Kabupaten Meibrat yang teregistrasi dengan angka 15042009.
Interaksi yang terjadi baik antar individu maupun antar kelompok kadang menimbulkan komflik dan komflik merupakan bahasan yang sudah ribuan dijelaskan para suraman. Pada pembahasan tentang Meibrat saya meminjam pendapat Simmel menjelaskan bahwa masalah mendasar dari setiap masyarakat adalah konflik antara kekuatan-kekuatan sosial dan individu, karena, pertama, sosial melekat kepada setiap individu dan, kedua, sosial dan unsur-unsur individu dapat berbenturan dalam individu, meskipun pada sisi lain dari konflik merupakan sarana mengintegrasikan individu-individu. Karena setiap individu memiliki kepentingan yang berbeda-beda dan adanya benturan-benturan kepentingan tersebut mencerminkan dari sikap-sikap individu tersebut dalam usahanya memenuhi kebutuhannya, dari sikap yang nampak ini Simmel memiliki sebuah pemikiran yang menghasilkan konsep individualisme ini terwujud dalam prinsip-prinsip ekonomi, masing-masing, persaingan bebas dan pembagian kerja.
Dalam konsep yang negatif, masyarakat atau kelompok dipahami sebagai entitas tanpa keperbedaan atau terisolir dari keberagaman. Konflik dalam teori Simmel diidentifikasikan sebagai berikut: Pertama. Kompetisi diartikan sebagai bentuk konflik tak langsung dimana kemenangan harus terjadi akan tetapi bukan merupakan tujan akhir dan setiap pelaku tertuju pada tujuan tanpa menggunakan kekuatan dalam perlawanan dari partai selanjutnya atau untuk semuanya. Kedua. Untuk melindungi dirinya sendiri dari konflik dalam kelompok yang lebih besar, konflik dilokalisir pada kelompok kecil karena dalam kelompok kecil terdapat solidaritas yang lebih organis yang bisa mentolerir konflik atau mencegah konflik yang lebih besar.
Konflik dibatasi oleh norma-norma dan hukum yang menjadikannya sebuah kompetisi yang lebih murni. Kompetisi seperti ini secara tidak langsung meningkatkan manfaat bagi yang lain. Ketiga. Konflik dalam kelompok akan menciptakan rasa memiliki kelompok terhadap anggota, sentralisasi terhadap struktur dan menciptakan persekutuan. Kelompok akan membangun eksistensi sosialnya terhadap musuh mereka ketika kelompok menghadapi adanya perlawanan dari musuh.
Berangkat dari pendapat Simmel di atas, saya dapat memberikan simpulan berkait perilaku sosial ekonomi orang Meibrat yang diperkirakan memberi kontribusi dalam pembentukan konsep individualisme karena melekatnya status politik bobot yang dipersepsikan orang Meibrat. Konflik antara kekuatan sosial politik bobot biasa juga dipengaruhi pertama status sosial orang tua, kedua status kepemilikan bo dan ketiga status pendidikan serta kolusi kelompok dan kepentingan.
Gesekan antar kelompok merupakan bentuk sosial yang berinteraksi dan mendesain dalam kerangka untuk memecahkan dualisme kepemimpinan sosial baru yang disebut bobot sebagai cara untuk mencapai kesatuan kepentingan teman dan kelompok di tanah Meibrat. Gesekan antar kelompok tidak dimaksudkan untuk menghentikan keteraturan sosial yang menyebabkan berhentinya kehidupan masyarakat. Keteraturan dan konflik akan membentuk kesatuan atau kehidupan sosial bersama dan secara keseluruhan akan bersifat positif.
Ada sejumlah cerita yang menjelaskan peristiwa konflik Meibrat disebabkan oleh persaingan dua kelompok besar. Rumor mengatakan bahwa konflik disebabkan oleh Tarik menarik antara tim pemekaran dengan tim dluar pemekaran dan kemudian merambat sampai tingkat mata rumah yang mulai ikut memanaskan situasi sengan membawa issu lokalitas kampung.
Banyak pendapat dikalangan elit-elit lokal baik yang memiliki kepentingan di wilayah pemerintahan dan politik bahkan yang berada diluar wilayah itu juga ikut memberikan pendapat karena merasa masih sebagai orang Meibrat, masing-masing mengklaim bahwa persoalan konflik dilakukan demi mempertahankan diri sebagai tokoh pendiri sementara kubuh yang lain memberontak karena ketidak adilan distribusi ekonomi dan lain-lain sebagainya. Selain itu juga dikatakan bahwa gesekan-gesekan itu terjadi karena persoalan status sosial orang tua mereka yang dalam klasifikasi orang meibrat ada kelas ra bobot, ra kinyah, ra warok dan ra keir.
Persoalan masih diberlakukan kelas-kelas sosial yang membuat konflik itu berkepanjangan karena persoalan kita salah memaknai arti yang sebenarnya dalam ungkapan-ungkapan kelas sosial diterima sebagai masukan yang positif. Pembentukan kelas sosial pada masa itu dimunculkan sebagai sarana untuk membedahkan mana pemain bo yang bisa diajak kerjasama sebagai teman dagang atau tidak yang bisa diimplementasi pada era kekinian misalnya dalam proses pengambilan keputusan politik yang memiliki nilai lebih atau lebih dominan adalah mereka yang dituakan bisa berdasarkan klas sosial atau berdasarkan tingkat kedewasaan berpikir yang cerdas dalam menentukan pilihan-pilihan strategi politik elit-elit Meibrat di wilayah pemerintahan maupun politik dengan selalu mengedepankan musyawarah tingkat para-para adat.
Konflik Meibrat berlangsung sejalan dengan dinamika masyarakat, hanya saja konflik berlangsung pada wilayah pemerintahan dan politik yang tidak berkembang meluas dalam wilayah-wilayah social budaya. Namun dalam penulis saya ada faktor-faktor di dalam masyarakat pada tingkatan mata rumah atau kampung dimana keluarga inti ayah dan istri bahkan anak berbeda pendapat dalam menentukan pilihan suksesi dengan berbagai pertimbangan misalnya keluarga sedarah, keponakan dalan lain-lain yang mudah menyulut komflik menjadi berkobar sedemikian besar, sehingga memporak-porandakan tungku budaya orang Meibrat.
Dalam suasana system sosial orang Meibrat yang mulai rentang terhadap berbagai gejolak ini, sedikit pemicu saja sudah cukup menyebabkan berbagai konflik sosial. Konflik antar kampung (kot) dan konflik antar distrik sampai komflik antar pemangku kepentingan tingkat pemerinatahan dan politik merupakan sepengal informasi yang menjelaskan betapa hal-hal yang bersifat sangat sederhana ternyata menjadi menyulut timbulnya amuk dan kerusuhan massa yang melibatkan bukan hanya pihak-pihak yang bertikai, melainkan juga seluruh kampong (kot).
Kampung (kot) di wilayah Meibrat yang terpola memutar bekas danau ayamaru bagaikan cicin yang sudah puluhan dan bahkan ratusan tahun hidup dalam keharmonisan antar mata rumah antar kampung dapat berubah totol menjadi saling serang dan saling menghancurkan kelompok kampong lain yang dianggap musuhnya. Pemerintah tingkat kampung dan distrik sebagai penanggung jawab keamanan dan ketertiban masyarakat tidak melakukan peran dengan baik karena aparat juga sibut urusan politik yang membuat urusan harmonisan antar kampung dicari masyarakat sendiri.       
Persoalan-persoalan kepentingan kawan dan kelompok sampai juga pada kepentingan distribusi ekonomi dan kekuasaan yang tidak disadari sedang diimplementasikan elit-elit Meibrat itu menimbulkan sebuah pertanyaan Apakah persoalan peperangan politik kepentingan membuat orang tua merasah bersala melahirkan anaknya sebagai pemberontak dan pembunuh karakter keberlangsungan hidup ikatan kekerabatan orang Meibrat dalam tungku ra mana sau yang sudah sekian lama dipelihara karena merupakan asset.
Konflik dan polemik dinilai diakibatkan oleh ketidak siapan orang Meibrat menghadapi perubahan mengingat watak dan pola pikir yang pada umumnya masih bersifat lokalitas. Ditambah lagi dengan ketidak jelasan sebuah suksesi yang menjadi dasar dari suksesi ini sehingga menimbulkan ketidakpastian politik tingkat lokal Meibrat. Telah banyak polemik yang telah terjadi di tanah perjanjian itu, sebut saja polemik pemilihan kepala wilayah pemerintahan Meibrat.
Dalam setiap pertarungan politik, khususnya di wilayah pemerintahan akan banyak kepentingan yang bermain di dalamnya. Mulai dari kepentingan teman, kepentingan kelompok dan kepentingan pemilik perahu (partai). Sehingga polemic bukan hal yang tabu lagi untuk dijumpai.
Dalam pemilihan tema konflik tidak menyoroti persoalan apa, siapa dan bagaimana kepentingan politik bermain disana sehingga menimbulkan konflik.
Tapi saya membahas bagaimana mengelola polemik untuk menjadi suatu pembelajaran bagi orang Meibrat menghadapi pertarungan bebas dengan tidak merusak entitas sosial budaya mereka.
Dalam beberapa polemik yang terjadi pada saat pembentukan wilayah otonom sampai pemilihan kepala pemerintahan definitif menimbulkan konflik yang sangat rumit yang mungkin penyelesaianya cenderung berlarut karena adanta ego dari masing-masing kelompok kepentingan yang mungkin mendapatkan keuntungan dari polemic itu.
Arus informasi menurut saya pemberitaan media masa yang bukan media masa yaitu masyarakat itu sendiri yang bertindak sebagai penulis berita dan menyampaikannya sendiri yang diduga kerap kali di tuding menjadi pemicu meluaskan polemik, terutama dari pemberitaan yang terlalu menyudutkan kelompok lain dan seakan mengajak masyarakat sebagai pembacanya membuat keputusan sesuai keingginan lokalitas kampong (kot). (@arkam)