TARIAN TRADISIONAL ORANG MAYBRAT

@arkam


Orang Meybrat di pedalaman kelapa burung dalam peta Papua memiliki tradisi tarian tradisional yang mereka sebut dengan istilah lokal “TUMBUH TANAH” yang dimainkan dengan sistem bergandengan tanggan dengan membentuk sebuah pola lingkaran berbentuk cincin dengan iringan sebuah musik yang dinyayikan seorang penyanyi tradisional dengan sistem saling balas-membalas, tarian tersebut ditontonkan pada acara-acara tertentu seperti pesta suksesi sebuah pemenangan politik, lepas tahun atau acara resmi lainnya, tarian itu sanggat melegenda di kalangan orang Meybrat yang tidak mengenal klas karena diterima semuah generasi tua dan mudah.
Orang Meybrat dengan berbagai kompleksitas budaya dan lebih menonjol serta melekat dalam kehidupan sehari-hari adalah permainan kain timur yang menguras banyak energi bahkan sampai korban nyawa persoalan itu membuat sampai-sampai mereka hampir lupa melestarikan tarian tradisional ataukah mereka hidup dalam kepura-puraan karena rasa malu disebut orang kampung atau mungkin juga termakan tradisi budayalain yang katanya lebih modetn dibandingkan dengan tarian tradisional mereka.
Seni tradisional Tumbuh Tanah merupakan sebuah keunikan lain yang dimiliki orang meybrat, seni tari mereka yang diciptakan secara spontan dengan memakai pola lingkaran sarang semut dengan lagu-lagu yang dinyayikan lebih banyak memuat gambaran sosial ekonomi kampung halaman mereka Meybrat dan lagu pergaulan muda mudi.
Alasan lain, yang membuat saya semakin tertarik menulis tema yang sangat fenomenal namun kurang mengigit karena hampir sebagian besar elit-elit lokal Meybrat pada masa kini sudah semakin jauh melupakan entitas mereka dengan menghadirkan tradisi etnik lain di wilayah kehidupan mereka. Untuk menyelesaikan persoalan diatas, dibutuhkan keseriusan elit-elit lokal Meybrat secara aktif memberikan edukasi keluarga secara kedalam pada generasi-generasi orang Meybrat untuk selalu mengembangkan dan melestarikan budaya mereka sebagai sebuah entitas diri di masa depan.
Persoalan lain yang masih menjadi dugaan saya sebagai kunci penghambat melestarikan budaya lokal itu, karena banyak bermunculan perilaku sosial baru yang terbingkai dalam pola-pola pikir elit-elit lokal baik di wilayah pemerintahan, politik dan wilayah pemikiran theologia yang teramat dalam menciptakan pemikiran-pemikiran sosial baru bahwa kami yang benar mereka itu salah ini mulai dibum-bui dengan pesan-pesan theologia yang diracik dengan issu-issu yang lagi tren dan disampaikan sebagai penawar sampai-sampai mereka lupa bahwa tugas mereka bukan sebagai penyambung lidah Tuhan alias pendeta.
Saya menulis tema tarian tradisional tumbuh tanah sebagai pesan edukasi kepada generasi-generasi orang Meybrat untuk tidak bersembunyi dibalik rasa malu, malu untuk menyampaikan pada dunia bahwa kami orang Meybrat juga mempunyai tarian tradisional yang dalam sebutan lokal Tumbuh Tanah.
Elit-elit lokal Meybrat yang sedang menduduki jabatan-jabatan strategis pada wilayah pemerintahan maupun politik diharapkan sekali lagi untuk tidak hidup dalam kepalsuan alias malu dicap kurang pergaulan di era modern. Fenomena itu dikuatirkan akan muncul sebagai energi negatif dalam membentuk pola-pola pikir elit-elit lokal Meybrat untuk tidak melestarikan budaya mereka kepada generasi penerus.(@arkam)

0 comments:

Post a Comment