SISTEM POLITIK BOBOT ORANG MEYBRAT


[J.R. MANSOBEN 1995]
Menurut Kamma (1970:138), kelompok sosial baru yang disebut bobot itu muncul sebagai akibat makin pentingnya peranan kain timur dalam kebudayaan orang Meybrat. Pada mulanya kain timur hanya mempunyai fungsi sosial, yaitu untuk mempertahankan kelompok dan interestkelompok. Fungsi tersebut kemudian secara lambat laun berubah menjadi kepentingan individu sebagai akibat faktor-faktor sosial ekonomi. Demikianlah muncul suatu kelompok baru di dalam masyarakat yang lebih bersifat kelompok ekonomi, yang walaupun ikatan klen dan kin group-nya masih terjalin, namun lebih mendasarkan diri pada perjuangan yang bersifat individu untuk memperoleh kekuasaan dan prestise pribadi.
Apabila seseorang melalui kemampuan pribadinya berhasil mengumpulkan banyak bo atau kain timur, maka ia mendapat pengikut dan disebut bobot. Istilah bobot berarti sangat kuat, atau arti harafiahnya adalah perebut kain (Kamma 1970:134). Di samping itu istilah bobot mengandung pula tiga arti yang lain, seperti yang terdapat di bagian barat Meybrat, ialah pertama, bobot berarti pemimpin, khususnya seorang pemimpin dari serangkaian upacara ritual yang disebut orang asing (pendatang) pesta bobot. Arti kedua adalah seorang yang mempunyai pengikut atau anak buah, yang disebut kusemd; orang yang mempunyai kekuasaan dan kemampuan dalam melaksanakan upacara tukar-menukar dan memberikan banyak 'pemberian' kepada orang lain. Arti ketiga adalah seseorang yang berhasil menyelenggarakan pesta- pesta penukaran yang diadakan dalam rangka upacara-upacara sekitar lingkaran hidup pada orang Meybrat (Elmberg 1955:34).
Secara teori setiap pria dewasa dapat menjadi bobot, jika syarat-syarat tertentu dipenuhi. Menurut orang Meybrat, orang yang ideal untuk disebut bobot adalah orang yang mempunyai pengetahuan yang baik tentang bisnis, di samping itu selalu bersedia untuk membantu orang lain dalam masalah-masalah ekonomi (Elmberg 1955: 34). Atau dengan perkataan lain seorang bobot adalah orang kaya yang bermurah hati. Tentang syarat pertama, pengetahuan bisnis, menurut ukuran dan pengertian orang Meybrat, dapat kita lihat pada penjelasanpenjelasan berikut.
Pada waktu lampau nama tersebut diberikan juga kepada seseorang yang pernah membunuh orang lain (musuh) (Elmberg 1955:34). Penjelasan-penjelasan di atas ini menunjukkan kepada kita bahwa nama atau gelar bobot terutama diberikan kepada dan dipakai oleh orang yang mampu menyelenggarakan upacara tukar-menukar yang disebut pesta bobot karena memiliki banyak kain timur. Sebaliknya penggunaan gelar bobot karena alasan pernah membunuh orang lain, kurang penting. Seperti terlihat nanti dalam uraian-uraian selanjutnya di bawah ini, bahwa alasan pertama merupakan faktor yang paling penting untuk mencapai posisi bobot, sedangkan alasan kedua merupakan faktor pelengkap saja.
Ukuran yang digunakan oleh orang Meybrat untuk menentukan apakah seseorang itu mempunyai kemampuan bisnis atau tidak terlihat pada pengetahuan memanipulasi sirkulasi kain timur. Orang Meybrat berpendapat bahwa kain timur haras selalu bergerak, artinya harus secara terus menerus beredar dari satu orang kepada orang yang lain dan dalam peredaran itu harus membawa keuntungan. Keuntungan di sini mengandung dua makna, ialah makna materi dan makna prestise (non-materi). Prinsip keuntungan yang mengandung dua makna tersebut di atas ditegaskan oleh orang Meybrat dalam ungkapan berikut: to bo saw, murio tefo, artinya 'saya menerima satu, saya mengembalikan banyak' (Elmberg 1955:33). Untuk memahami prinsip keuntungan yang terkandung di dalam ungkapan di atas, maka sebaiknya saya jelaskan lebih dahulu secara singkat di bawah ini sistem tukar-menukar kain timur pada orang Meybrat.
Dalam sistem tukar-menukar kain timur orang Meybrat, para bobot merupakan titik pusat dari segala aktivitas transaksi. Setiap bobot mempunyai jumlah partner dagang yang bervariasi antara delapan sampai 60 orang (Kamma 1970:139). Selanjutnya masing-masing partner dagang itu mempunyai partner-partner dagang lain lagi sehingga secara keseluruhan mereka membentuk suatu jaringan 'tetnan dagang' yang meliputi seluruh daerah pedalaman Kepala Burung.
Dalam hal tukar menukar kain timur, setiap bobot berusaha untuk mengembalikan kepada partnernya jumlah barang (kain timur) yang lebih banyak dan bahan yang berkwalitas lebih baik daripada apa yang diterimanya. Tindakan demikian menimbulkan dua hal: di satu pihak mendatangkan keuntungan materi bagi pihak penerima, dan di pihak yang lain menyebabkan naiknya prestise pihak pemberi. Pandang- an orang Meybrat untuk selalu memberikan lebih banyak kepada pihak kreditor atau pemberi seperti terurai di atas menimbulkan semacam persaingan yang terus menerus berlangsung antara para bobot. Persaingan tersebut menyebabkan sistem tukar-menukar kain timur bersifat ekonomi prestise. Jadi tujuan tukar-menukar kain timur pada orang Meybrat, menurut Pouwer (1957:304), adalah 'bukan untuk mencapai kesejahteraan sosial, melainkan untuk mendapatkan prestise', atau dengan kata lain tujuan tukar-menukar kain timur pada orang Meybrat adalah untuk mencapai kedudukan terpandang dalam masyarakat.
Menjadi orang terpandang di dalam masyarakat oleh karena kekayaan memiliki banyak kain timur menyebabkan seseorang mempunyai pengikut dan berhak untuk membuat keputusan. Di sinilah letak hubungan antara aspek ekonomi dengan aspek politik. Melalui kemampuan dalam bidang ekonomi prestise, seorang bobot dapat menciptakan hubungan-hubungan sosial tertentu dengan warga masyarakat yang lain. Hubungan-hubungan yang terwujud itu dapat bersifat hubungan simetris maupun hubungan asimetris. Hubungan simetris adalah hubungan yang terjadi antara para bobot yang mempunyai kedudukan dan peran yang relatif sama. Sebaliknya hu- bungan asimetris adalah hubungan yang terjadi antara seorang bobot dengan anggota-anggota masyarakat lainnya yang tidak berstatus bobot. Hubungan ini menyerupai hubungan patronklien. Seorang bobot berperan sebagai patron sedangkan anggota masyarakat lain yang tidak berstatus bobot, terutama mereka yang menjadi anak buah bobot, kusemd, berperan sebagai klien. Di sini peran dan kedudukan kedua belah pihak tidak sama. Pada hakekatnya seorang bobot yang mempunyai kedudukan dan peran yang lebih penting dalam hubungannya dengan seorang warga biasa, dapat menggunakan wewenang yang diperoleh melalui kedudukannya untuk 'memaksakan' kehendaknya pada orang lain.
Walaupun secara teori setiap pria dewasa mempunyai hak yang sama untuk bersaing menjadi bobot, namun hanya sedikit yang dapat berhasil mencapai kedudukan tersebut. Mereka yang berhasil menduduki status tersebut adalah orang-orang yang mempunyai kemampuan untuk berdagang. Suatu contoh yang amat bagus yang dapat digunakan untuk melukiskan hal tersebut adalah seperti yang dilaporkan oleh Pouwer tentang bagaimana menjadikan 25 rupiah dari 25 sen.
Orang-orang yang mempunyai kemampuan (pengetahuan) seperti yang dilukiskan pada contoh tersebut di atas sajalah yang mampu untuk menyelenggarakan transaksi-transaksi kain timur. Biasanya transaksi-transaksi itu diadakan pada tempat- tempat khusus dan pada kesempatan-kesempatan tertentu, bukan pada sembarangan tempat dan waktu. Tempat-tempat transaksi berlangsung berupa bangunan-bangunan rumah yang disiapkan khusus untuk maksud tersebut dinamakan sachefra, atau rumah pesta tengkorak (schedelfeesthuizen) dan sabiach bach atau rumah pesta pertandingan (speelhuis). Waktu-waktu yang biasanya ditetapkan untuk melaksanakan transaksi itu biasanya terjadi pada saat adanya suatu upacara atau pesta tertentu, misalnya pada upacara pembayaran tulang orang yang telah meninggal dunia, pada upacara inisiasi atau pada pesta pernikahan.
Dua rumah tempat berlangsungnya upacara transaksi seperti tersebut di atas merupakan dua kutub, dan di antara kedua kutub tersebut terjadilah sirkulasi kain timur. Rumah pesta sachefra, dibangun di atas bukit sedangkan rumah pesta sebiach bach yang berbentuk rumah panjang dibangun di kaki bukit. Rumah pertama bersifat sakral sedangkan rumah kedua bersifat profan. Kedua rumah tersebut sangat pen- ting karena di dalamnya terjadi transaksi kain timur.
Menurut orang Meybrat kehebatan seseorang dapat dilihat pada kemampuannya untuk mengatur pembangunan rumah-rumah upacara tersebut serta pengaturan upacara-upacara ritus dan pesta yang dilanjutkan dengan transaksi kain timur di dalamnya. Oleh karena tempat upacara ini merupakan arena perebutan kekuasaan, maka sebaiknya saya uraikan di bawah ini garis besar dari proses berjalannya upacara-upacara tersebut menurut apa yang dilaporkan oleh Pouwer (1957).
Tipe rumah pertama yang bersifat sakral itu disebut rumah tengkorak, sachefra. Penamaan demikian disebabkan oleh karena rumah tersebut memang dibangun untuk kegunaan upacara pembagian dan pembayaran tengkorak dari seseorang yang telah meninggal dunia.
Alasan lain untuk dibangunnya rumah upacara guna terselenggaranya transaksi kain timur, ialah karena salah seorang kerabat sakit, mati atau karena terjadi kegagalan panen. Peristiwa-peristiwa 'buruk' seperti tersebut di atas dianggap oleh orang Meybrat sebagai tindakan penghukuman atau tindakan pembalasan dendam dari kerabat yang meninggal dunia sebab ketidakpedulian terhadap dirinya oleh kerabat-kerabat yang masih hidup. Anggapan demikian biasanya diperkuat oleh pesan-pesan yang disampaikan oleh seorang dukun atau shaman. Di samping kedua alasan tersebut, alasan lain lagi adalah karena adanya kewajiban dari seorang suami terhadap pihak isterinya untuk membangun sebuah rumah upacara sachefra, guna kepentingan transaksi kain timur.
Tiga alasan tersebut dapat disifatkan ke dalam dua sifat, ialah sifat sakral dan sifat profan. Ke dalam sifat sakral termasuk dua alasan pertama, sedangkan alasan terakhir bersifat alasan profan.
Rumah upacara, sachefra, biasanya dibangun atas prakarsa seorang bobot dan dibantu oleh kerabat-kerabatnya. Apabila ramah tersebut sudah selesai dibangun, maka sekali lagi atas prakarsa bobot dikumpulkan bahan makanan dan kain timur bersama kaum kerabat dekat lalu disimpan di dalam rumah upacara itu. Jika semua persiapan yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan upacara sudah siap, maka pemrakarsa mengundang semua kerabat yang dekat dan jauh, juga kerabat-kerabat dari pihak isterinya, untuk menghadiri upacara pembayaran tulang.
Apabila pemrakarsa adalah anak laki-laki dari orang yang telah meninggal dunia, maka pembayaran tulang dilakukan oleh orang yang bersangkutan kepada saudara laki-laki dari ibu ayahnya (FaMoBr) atau kepada anak-anak dari saudara laki-laki ibu ayahnya (FaMoBrSo). Pembayaran tersebut didasarkan atas pandangan bahwa ibu ayahlah yang membesarkan ayah yang telah banyak berjasa kepada ego, sedangkan saudara laki-laki ibu ayah atau anak-anaknya adalah wakil dari ibu ayah.
Upacara pembayaran tulang berupa pemberian sejumlah kain timur oleh pemrakarsa (ego) kepada pihak ibunya yang disaksikan oleh kaum kerabat dari pihak ayah dan pihak ibu itu dilanjutkan dengan penyerahan pemberian dari pihak isteri kepada ego. Pemberian itu di dalam bahasa Meybrat disebut ru-ra, berupa kain timur, diserahkan oleh ayah ibu isteri (WiMoFa), saudara laki-laki isteri (WiBr) dan saudara la- ki-laki ibu isteri (WiMoBr) kepada ego.
Tahap pertama dari upacara ini yang terdiri dari dua mata acara, yaitu pembayaran tulang kepada pihak ibu oleh ego yang bertindak sebagai pemrakarsa dan penyerahan ru-ra dari pihak isteri kepada ego. Sebelum tahap pertama yang bersifat sakral dari upacara ini ditutup dengan acara makan bersama, pemrakarsa memanggil orang yang telah meninggal dunia itu untuk menyaksikan pemberian kain timur yang sakral yang diserahkan olehnya kepada pihak ibu atau saudara laki-laki ibu dari orang yang telah meninggal itu.
Apabila tahap pertama upacara sudah selesai, maka tahap kedua dari upacara itu yang bersifat profan dimulai. Acaranya ialah pembagian ru-ra atau pemberian yang diterima dari pihak isteri oleh pemrakarsa kepada hadirin yang terdiri dari kerabat- kerabat ayah, kerabat ibu, suami-suami dari saudara-saudara perempuan, kerabat-kerabat dari klen sendiri serta teman-teman dari klen-klen lain, tidak termasuk di sini kerabat-kerabat atau anggota-anggota dari klen pihak isteri. Dengan demikian ru-ra masuk dalam sirkulasi.
Setiap penerima ru-ra berhak penuh atas penggunaannya, misalnya digunakan sebagai alat pembayar maskawin, untuk membayar denda atau untuk membeli makanan. Setelah beberapa waktu berselang, menurut keterangan seorang informan kepada Pouwer, selang waktu kurang lebih satu sampai dua tahun, pemrakarsa upacara mengundang para debtornya untuk mengembalikan utang-utangnya. Pembayaran kembali itu biasanya disertai dengan suatu toegift, suatu pemberian tambahan, yang disebut dalam bahasa Meybrat boo-worar. Pemberian tambahan itu kadang-kadang dua kali lipat lebih banyak daripada apa yang pernah diterima.
Pelaksanaan pembayaran kembali utang biasanya dilakukan di rumah upacara lain yang sementara itu dibangun oleh pemrakarsa, disebut sabiach bach, atau rumah pesta pertandingan, speelhuis.
Pouwer melukiskan situasi pada saat pelaksanaan pengembalian utang sebagai saat yang menegangkan, sebab terjadi tawar menawar antara pemberi dan penerima. Semua barang (dalam hal ini kain timur jenis ru-ra), yang digunakan sebagai tegengift atau alat pembayar utang yang disebut booru, dan yang diberikan sebagai pemberian tambahan diperiksa penerima dengan amat teliti. Jika penerima tidak puas dengan nilai atau kwalitas dari benda yang digunakan untuk membayar utang, maka kepada debitornya diberikan lagi makanan dan minuman. Tindakan seperti ini segera dimengerti oleh pihak debitor sehingga kembali sekali atau beberapa kali ke tempat menyimpan barang untuk mengambil tambahan barang atau pengganti guna melengkapi dan atau mengganti yang sudah ada. Apabila pemrakarsa sudah puas dengan pembayaran kembali, maka dipotonglah seekor babi lalu dibagikan dagingnya kepada para debitornya (tamunya) sebelum mereka ini kembali ke tempatnya masing-masing.
Semua kain timur yang diterima oleh pemrakarsa dari para debitornya seperti yang telah dijelaskan di atas kemudian disimpan oleh isterinya di rumah upacara pesta tengkorak, sachefra. Sesudah itu pemrakarsa mengirim berita kepada kerabat-kerabat dari pihak isterinya tentang telah terjadinya pembayaran utang. Mereka ini segera membangun sebuah rumah pertandingan baru, sebiach bach. Apabila rumah itu sudah siap dibangun, maka ditentukanlah suatu hari tertentu untuk berkumpul di sana dalam rangka pengembalian ru-ra yang diterima oleh pemrakarsa pada waktu pembayaran tengkorak kepada pihak isterinya. Upacara pengembalian ru-ra ini dihadiri oleh semua pihak, baik dari pihak pria (suami) maupun dari pihak wanita (isteri).
Kain timur jenis ru-ra yang dibawa oleh pihak pria itu dijejerkan berbentuk garis panjang di atas tanah. Barang-barang tersebut kemudian diperiksa secara seksama oleh pihak wanita. Barang yang kurang baik di antara barang-barang itu segera dipisahkan dan harus diganti dengan yang lebih baik. Situasi pada saat ini tegang, sebab pihak pria seringkali menyembunyikan ru-ra yang berkwalitas lebih baik di belakang tangannya. Barang yang berkwalitas baik ini diberikan setelah terjadi pemeriksaan. Acara pengembalian utang ini kemudian dilanjutkan dengan pemberian tambahan, boo-worar. Pemberian tambahan itu biasanya selain terdiri dari kain timur jenis ru-ra, juga berupa kain toko dan kain sarung.
Ongkos makan dan minum untuk semua peserta ditanggung oleh pihak isteri. Pertemuan tukar menukar ini kemudian diakhiri dengan pemotongan seekor babi yang disumbangkan oleh pihak wanita.
Gambaran peristiwa tukar menukar berupacara pada uraian di atas menunjukkan bahwa pemrakarsa berperan sebagai titik sentral, titik pertemuan, antara golongan-golongan yang berbeda asalnya. Mereka itu terdiri dari kaum kerabat pihak pria (suami), kaum kerabat dari pihak wanita (isteri), dan teman-teman yang berasal dari cabang-cabang klen dan klen-klen kecil. Juga dari uraian di atas kita melihat bahwa pertemuan antara golongan-golongan yang berbeda dapat terjadi atas perantaraan suatu upacara ritual: upacara pembayaran tengkorak. Jadi aspek religi berperan di sini sebagai media pertemuan antara kelompok-kelompok sosial yang berbeda. Pemakaian upacara ritual sebagai media pertemuan untuk kepentingan ekonomi prestise (tukar menukar kain timur) dalam rangka mencapai prestise sosial menunjukkan dengan jelas, bahwa religi bagi orang Meybrat adalah sesuatu yang kongkrit, nyata dan bukan transenden. Dengan demikian aspek religi dalam dunia pandangan orang Meybrat mempunyai kaitan erat dengan aspek ekonomi, aspek sosial dan aspek politik.
Secara sosiologis upacara tukar-menukar yang dilakukan oleh orang Meybrat mengandung tiga dimensi: dimensi religi, dimensi ekonomi dan dimensi politik. Tiga dimensi tersebut terjalin erat satu sama lain dalam suatu bentuk hubungan siberaetik. Bagan III.1menunjukkan hubungan tersebut. Hubungan sibernetik dalam tata urut hierarkis pada bagan tersebut dibuat demikian berdasarkan asumsi bahwa aspek religi merupakan mekanisme pendorong untuk orang berprestasi dalam bidang ekonomi. Selanjutnya keberhasilan ekonomi mendatangkan prestise atau kekuasaan politik bagi seseorang. Kekuasaan tersebut menjadi mantap karena mendapat pengabsahan religi. Sebaliknya kekuasaan politik yang mantap memungkinkan bertambah banyaknya keberhasilan dalam bidang ekonomi yang merupakan syarat mutlak bagi intensifikasi upacara-upacara keagamaan.
Perlu ditegaskan pula di sini bahwa upacara transaksi kain timur tidak hanya terjadi pada kesempatan adanya upacara ritual yang diadakan berhubungan dengan pembayaran tengkorak seperti yang sudah disebutkan di atas, tetapi juga terjadi pada upacara inisiasi, pesta perkawinan dan pesta-pesta lainnya. Itulah sebabnya Pouwer menegaskan bahwa pada umumnya upacara-upacara pesta lebih diarahkan pada tujuan tukar menukar daripada tujuan utamanya: banyak menyelenggarakan pesta (ritual) adalah pertanda penghormatan terhadap orang-orang yang telah meninggal dunia. Penghormatan demikian menyebabkan orang mati menjadi senang sehingga tidak menimbulkan kesulitan bagi kaum kerabatnya yang masih hidup' (Pouwer 1957:300).
Selain syarat-syarat yang sudah dibicarakan di atas memiliki pengetahuan bisnis dan pandai mengatur penyelenggaraan upacara-upacara ritual serta transaksi kain timur syarat-syarat lain yang harus dipenuhi pula oleh seseorang agar ia menjadi bobot atau pemimpin, ialah sifat bermurah hati dan pandai berdiplomasi.
Elmberg melaporkan bahwa syarat ideal bagi seorang bobot ialah kesediaannya untuk membantu orang lain, terutama kerabat-kerabatnya yang mengalami kesulitan ekonomi. Salah seorang informan Elmberg berulangkali menegaskan bahwa seorang bobot adalah orang yang berbudi baik, selalu membantu para pengikutnya dengan banyak barang. Lebih lanjut Elmberg berpendapat bahwa para bobot atau bankir-bankir orang Meybrat tidak selalu menggunakan posisinya untuk menekan orang lain secara semena-mena. Sebaliknya kekuasaannya itu dibatasi pada sifat realistik seperti pada orang biasa (Elmberg 1955:34,1968:197).
Sifat bermurah hati seorang bobot yang terwujud dalam bentuk nyata adalah pemberian bantuan kepada orang lain. Orang yang menerima bantuan secara otomatis menjadi pengikut atau anak buah bobot, mereka itu disebut kusema, yang berarti orang kecil. Elmberg menamakan pengikut seorang bobot, partner bebas, sebab walaupun mereka bekerja untuk bobot tetapi mereka masih mempunyai kebebasan untuk meningkatkan kedudukan sendiri menjadi bobot di kemudian hari (hanya sedikit saja dari mereka yang dapat berhasil mencapai kedudukan tersebut, Elmberg 1955: 34).
Sifat lain yang menjadi syarat bagi seorang bobot adalah kepandaian berdiplomasi. Sifat tersebut dapat dilihat pada kemampuan seseorang untuk menawarkan maksudnya dengan kata-kata yang menarik agar tawarannya itu dapat disetujui oleh umum secara konsensus. Elmberg menemukan prinsip tersebut pada orang Meybrat sehingga menyamakan para bobot di Meybrat dengan pemimpin big men pada orang Gahuku Gama (Papua New Guinea), seperti yang dilaporkan oleh Read (Elmberg 1968:199-200).
Pengaruh kekuasaan seorang bobot biasanya terbatas pada lingkungan tempat tinggalnya sendiri. Agar pengaruhnya dapat meluas sampai di luar batas-batas wilayah kekuasaannya, maka seorang bobot harus memperkokoh hubungannya dengan pihak luar. Salah satu cara yang selalu dipakai untuk memperkokoh hubungan dengan pihak luar adalah melalui perkawinan. Oleh karena itu seorang bobot seringkali melakukan perkawinan-perkawinan dengan pihak luar. Dengan demikian seorang bobot yang besar pengarahnya kawin lebih dari satu perempuan, atau dengan kata lain berpoligami. Poligami pada orang Meybrat pada umumnya dan bagi para bobot pada khususnya adalah simbol kekayaan dan kekuasaan (Elmberg 1968:204; Kamma 1970:140).
Di satu pihak poligami adalah simbol kekayaan sebab orang kaya saja yang mam- pu membayar maskawin untuk banyak isteri. Banyak isteri berarti banyak tenaga kerja yang dapat menghasilkan makanan yang dibutuhkan sebagai konsumsi pesta-pesta atau upacara-upacara ritual. Poligami di pihak yang lain mempunyai arti politik atau kekuasaan, sebab melalui isteri-isteri terjalin hubungan dengan pihak luar (pihak isteri). Atau dengan perkataan lain banyak isteri berarti pula banyak relasi. Relasi amat penting bagi seorang bobot karena para relasi adalah pendukung dan juga partner atau rekanan dagang potensial dalam transaksi tukar menukar kain timur.
Beberapa implikasi sosial sistem politik bobot yang berlandaskan kompleks kain timur pada orang Meybrat, menurut Kamma (1970), adalah kecenderangan untuk kawin di antara anak-anak bobot, atau dengan kata lain terjadinya endogami golongan dan timbulnya kerengganan kohesi sosial antara seorang bobot dengan anggota-anggota klennya sendiri. Hal ini disebabkan oleh karena seorang bobot lebih banyak memberikan perhatian kepada rekanan dagangnya daripada warga klennya sendiri. Sebaliknya Elmberg berpendapat bahwa kompleks kain timur yang melibatkan kelompok-kelompok kerabat consanguineal atau yang seketurunan, mengakibatkan tumbuhnya solidaritas yang kuat baik di antara kelompok-kelompok kekerabatan itu sendiri maupun di antar mereka dengan kelompok-kelompok kekerabatan lain yang merupakan partner dagangnya. Di samping itu kompleks kain timur yang diintensif- kan oleh sistem politik bobot merupakan tempat konsumsi bagi barang-barang yang tidak bertahan lama, seperti makanan. (Disertasi).

0 comments:

Post a Comment