@arkam


Orang Meybrat di pedalaman kelapa burung dalam peta Papua memiliki tradisi tarian tradisional yang mereka sebut dengan istilah lokal “TUMBUH TANAH” yang dimainkan dengan sistem bergandengan tanggan dengan membentuk sebuah pola lingkaran berbentuk cincin dengan iringan sebuah musik yang dinyayikan seorang penyanyi tradisional dengan sistem saling balas-membalas, tarian tersebut ditontonkan pada acara-acara tertentu seperti pesta suksesi sebuah pemenangan politik, lepas tahun atau acara resmi lainnya, tarian itu sanggat melegenda di kalangan orang Meybrat yang tidak mengenal klas karena diterima semuah generasi tua dan mudah.
Orang Meybrat dengan berbagai kompleksitas budaya dan lebih menonjol serta melekat dalam kehidupan sehari-hari adalah permainan kain timur yang menguras banyak energi bahkan sampai korban nyawa persoalan itu membuat sampai-sampai mereka hampir lupa melestarikan tarian tradisional ataukah mereka hidup dalam kepura-puraan karena rasa malu disebut orang kampung atau mungkin juga termakan tradisi budayalain yang katanya lebih modetn dibandingkan dengan tarian tradisional mereka.
Seni tradisional Tumbuh Tanah merupakan sebuah keunikan lain yang dimiliki orang meybrat, seni tari mereka yang diciptakan secara spontan dengan memakai pola lingkaran sarang semut dengan lagu-lagu yang dinyayikan lebih banyak memuat gambaran sosial ekonomi kampung halaman mereka Meybrat dan lagu pergaulan muda mudi.
Alasan lain, yang membuat saya semakin tertarik menulis tema yang sangat fenomenal namun kurang mengigit karena hampir sebagian besar elit-elit lokal Meybrat pada masa kini sudah semakin jauh melupakan entitas mereka dengan menghadirkan tradisi etnik lain di wilayah kehidupan mereka. Untuk menyelesaikan persoalan diatas, dibutuhkan keseriusan elit-elit lokal Meybrat secara aktif memberikan edukasi keluarga secara kedalam pada generasi-generasi orang Meybrat untuk selalu mengembangkan dan melestarikan budaya mereka sebagai sebuah entitas diri di masa depan.
Persoalan lain yang masih menjadi dugaan saya sebagai kunci penghambat melestarikan budaya lokal itu, karena banyak bermunculan perilaku sosial baru yang terbingkai dalam pola-pola pikir elit-elit lokal baik di wilayah pemerintahan, politik dan wilayah pemikiran theologia yang teramat dalam menciptakan pemikiran-pemikiran sosial baru bahwa kami yang benar mereka itu salah ini mulai dibum-bui dengan pesan-pesan theologia yang diracik dengan issu-issu yang lagi tren dan disampaikan sebagai penawar sampai-sampai mereka lupa bahwa tugas mereka bukan sebagai penyambung lidah Tuhan alias pendeta.
Saya menulis tema tarian tradisional tumbuh tanah sebagai pesan edukasi kepada generasi-generasi orang Meybrat untuk tidak bersembunyi dibalik rasa malu, malu untuk menyampaikan pada dunia bahwa kami orang Meybrat juga mempunyai tarian tradisional yang dalam sebutan lokal Tumbuh Tanah.
Elit-elit lokal Meybrat yang sedang menduduki jabatan-jabatan strategis pada wilayah pemerintahan maupun politik diharapkan sekali lagi untuk tidak hidup dalam kepalsuan alias malu dicap kurang pergaulan di era modern. Fenomena itu dikuatirkan akan muncul sebagai energi negatif dalam membentuk pola-pola pikir elit-elit lokal Meybrat untuk tidak melestarikan budaya mereka kepada generasi penerus.(@arkam)

@arkam

Orang Meybrat di pedalaman kelapa burung dalam peta Papua memiliki tradisi seni tarik suara yang mereka sebut dengan istilah lokal “BEKLEN” yang dimaikan dengan bunyi suara mulut yang diperdengarkan pada acara-acar tetentu seperti acara bach atau pesta.
Orang Meybrat dengan berbagai kompleksitas budaya dan lebih menonjol serta melekat dalam kehidupan sehari-hari adalah permainan kain timur yang menguras banyak energi bahkan sampai korban nyawa sampai-sampai kita lupa melestarikan nyanyian Beklen merupakan sebuah keunikan lain yang dimiliki orang meybrat yakni nyanyian tradisional mereka yang diciptakan secara spontanitas sejalan dengan kondisi saat itu memuat pesan-pesan soal yang didalamnya memuat nasehat-nasehat orang tua tentang bagaimana menjaga dan melestarikan lingkungan dan alam mereka atau tempat-tempat yang dianggap sebagai rumah tinggal roh-roh leluhur mereka.

Lagu Beklen dinyayikan pada saat pesta-pesta adat tertentu saja dan tidak dinyayikan pada tempat-tempat umum dengan sebuah alasan sederhana yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang Meybrat yang pernah menamatkan pendidikan tradisional, namun dalam tulisan ini saya mencoba menjelaskan menurut versi yang mungkin sedikit menjawab mengapa tidak dinyayikan pada tempat-tempat umum karena kata-perkata dalam syair lagu mengandung filosofi yang teramat paling dalam bagi orang Meybart.
Sedangkan apabila kita lihat dalam perjalanan hidup orang Meybart di kampung halaman maupun diperantauwan bahkan terbawa sampai bidang kerja baik pemerintahan maupun politik selalu lagu beklen menjadi teman hidup disaat susah maupun senang dengan tanpa sadar nyanyian beklen memperlengkap warna-warninya hidup orang Meybrat.
Diskusi itu semakin indah apabila dibumbui sedikit dengan nyanyian beklen dikalau lagi sendirian atau pesta anak kampung dirantau atau kampung halaman menjadi semakin hidup suasanah itu bila dilengkapi juga dengan bah (minuman) sebagai alat pembuka lilitan perekat dalam dialog atau komunikasi orang Meybrat tentang masadepan mereka dengan generasi penerus “ra mana sau” karena dalam suasana memegang bah (minuman) juga tak luput dibahas strategi orientasi sosial dan politik mereka kedepan itu akan dibahas, untuk bisa terlibat dalam percakapan tersebut kita wajib ikut memegang bah (minuman) karena aturan hukum adat mengharuskan demikian sebagai sebuah syarat utama dan terutama karena tanpa itu kita tidak bisa ikut terlibat dalam pembicaraan yang sifatnya strategis dan rahasia tentang orang Meybrat dimasa depan.
Nyanyian beklen juga disuarakan bertepatan saat mereka toki mayang pohon Enau atau sauger, hal itu dilakukan agar alam juga ikut menyaksikan dan memberikan air yang banyak pada saat dipasang bambu sebagai tempat menampung air.
Saya mencoba menulis tema itu sebagai sebuah ajakan agar kita jujur dan iklas memberikan edukasi kepada generasi-generasi orang Meybrat untuk tidak sembunyi dan malu menampilkan seni tarik suara orang Meybrat dengan keunikannya tersendiri untuk lebih dikenal secara global. Elit-elit lokal Meybrat yang sedang menduduki jabatan-jabatan strategis pada wilayah pemerintahan maupun politik diharapkan tidak hidup dalam kepalsuan alias malu dicap kurang pergaulan di era modern. Fenomena itu dikuatirkan akan muncul sebagai energi negatif dalam membentuk pola-pola pikir elit-elit lokal Meybrat untuk tidak melestarikan budaya mereka kepada generasi penerus.

Contoh lain, yang juga mendorong saya untuk menulis tema yang sangat menarik tetapi kurang mengigit karena anak-anak Meybrat pada masa kini sudah semakin jauh melupakan seni tradisional mereka yang secara tidak sadar dalam acara-acara resmi membawakan seni tradisional etnis Papua lain dengan alasan seni mereka banyak fariasi gerakan sementara seni tradisional orang Meybrat sendiri tidak banyak menampilkan gerakan-gerakan sesuai perkembangan kekinian.   Untuk menyelesaikan persoalan diatas, dibutuhkan keseriusan elit-elit lokal Meybrat secara aktif memberikan edukasi keluarga secara kedalam pada generasi-generasi orang Meybrat untuk selalu mengembangkan dan melestarikan budaya mereka sebagai sebuah entitas diri di masa depan.(@arkam)
RESENSI BUKU 

Orang Meybrat adalah satu diantara sekian banyak suku-suku yang mendiami wilayah pedalaman kepala burung (lihat peta papua) masih menyimpan misteri alam yang belum terpecahkan walaupun mereka secara totalitas telah menjawab Index Pambangunan Manusia (IPM) dengan setiap matarumah orang Meybrat rata-rata sudah berhasil menamatkan anak-anak mereka pada jenjang perguruan tinggi.
Orang Meybrat memiliki ekor panjang karena masah lalu merupakan sumber bacaan yang terbaik dari segala bacaan dalam memecahkan persoalan-persoalan mendasar tentang orang Meybrat.
System kepemimpinan bobot merupakan system kepemimpinan sosial baru yang lahir ketika orang Maybrat mulai mengenal terang alias peradaban baru melalui transformasi pendidikan, system kepemimpinan sosial baru atau biasa disebut bobot diperkirakan sebagai sumber utama penghilangan system kepemimpinan orang tua.
Berangkat dari symbol yang melekat pada elit-elit local Meybrat saat ini semakin menarik untuk digali dalam latar alamiah sebagai jalan masuk untuk menemukan alasan kepanapa dalam sebuah suksesi pemilihan kepada daerah selalu saja ada gesekan-gesekan baik dalam satu mata rumah, satu kampong bahkan sampai diluar Meybrat selalu saja ditemukan persepsi-persepsi elit-elit local diluar Meybrat yang sebenarnya mereka tidak punya kepentingan sama sekali tetapi toh ikut menyuarakan tentang negeri mereka Meybrat.
Fenomena yang menarik saat ini yaitu pilkada Meybrat namun kurang menggit karena masyarakat lagi terperangkap dalam kepentingan individu ataukah terpenjarah dalam pasar gagasan.
Saya memilih tema di atas cukup beralasan dan pasti menimbulkan bermacam-macam pemikiran yang mendukung atau bahkan menolaknya itu wajar-wajar saja karena kaca mata kita berbeda atau mungkin juga metode analisis kita berbeda. Kita langsung saja pada persoalan suksesi pemilihan kepala daerah Meybrat semakin memanas kerana masing-masing tim pemenangan mengklaim bahwa mereka yang unggu dan lain sebagainya. Dinamika pemilihan semakin menarik karena pada tingkat satu mata rumah perbedaan pendapat antara keluarga inti juga terjadi, hal itu dipicu oleh faktor hubungan emosional seperti ada hubungan darah, sekampung dan lain-lain.
Suksesi pemilihan kepada daerah menarik untuk dilihat dari perspektif budaya orang Meybrat, apa yang penting untuk dicermati….pada penulisan ini saya mengajak untuk melihat suksesi pemilihan kepala daerah yang semakin memanas bukan karena persoalan kampung atau persoalan budaya, suksesi semakin memanas antara tim karena kepentingan politik pemerintah, sementara masyarakat merupakan media masa yang bukan media masa sebenarnya, masyarakat menjalankan strategi komunikasi politik secara spontanitas tanpa dipandu atau diarahkan tim komunikasi politik calon kepala daerah atau dalam arti lain masyarakat menulis berita sendiri dan mengkampanyekan menurut versi mereka sendiri.
Pada proses mengkomunikasikan informasi atau berita yang mereka menulis tentang kandodat mereka disitulah ruang untuk menyuarakan status sosial kandidat mereka kepada masyarakat pada tingkatan kampung masing-masing dalam menentukan pilihan politik mereka. Gesekan-gesekan yang terjadi pada saat proses tersebut bukan diakibatkan oleh budaya mereka, namun gesekan yang terjadi sebagian besar disebabkan gesekan kepentingan pada wilayah pemerintahan.
System sosial politik baru dalam tradisi orang Meybrat disebut bobot diduga masih merupakan faktor kunci dalam mengelindingkan suara.
Tidak ada satupun yang ragu bahwa Meybrat saat ini sedang menghadapi kemelut politik pemilihan kepada daerah yang paling membingungkan dan sekaligus berkepanjangan. Kemelut politik pilkada yang membingungkan masyarakat Meybrat semakin kabur dan bertambah dengan adanya komflik kepentingan membentuk daerah otonom baru yang secara jelas dan terang benderang tidak memenuhi aturan. Kemelut ini semakin mengkhawatirkan elit-elit lokal di luar Meybrat karena masyarakat pada tingkat mata rumah pun mengambil bahagian dalam pertempuran politik tersebut. (@arkam)

Mata Pena: J.R.Mansoben, (1995)

Di dalam disertasi Schoorl (1957), khususnya bagian yang membicarakan kepemimpinan pada orang Muyu, Schoorl mengemukakan hal-hal berikut: 'Orang Muyu tidak mengenal prinsip pewarisan kepemimpinan di dalam klen. Institusi hoofdschap atau chiefship (kepala suku atau penghulu suku) tidak dikenal orang Muyu. Sungguhpun demikian dalam masyarakat terdapat orang-orang yang berpengaruh dan mempunyai kekuasaan. Mereka itu disebut dengan berbagai nama, misalnya di Yibi disebut káyepàk, di Kawengtet disebut ám, di Yiptem disebut káwàp dan di Jomkondo disebut kàmburuwip'(Schoorl 1957:22,1993:24).
Ketidakhadiran chief di dalam satu masyarakat seringkali menimbulkan pendapat bahwa masyarakat seperti itu tidak mengenal pemimpin politik. Pendapat demikian tentu saja kurang tepat, sebab jika pengertian istilah politik kita definisikan menurut definisi kerja, maka dalam masyarakat apapun selalu terdapat pemimpin politik. Dengan demikian orang-orang yang berpengaruh dan berkuasa di antara orang Muyu seperti yang disebut oleh Schoorl di atas adalah juga pemimpin politik.
Di bawah ini akan diberikan penjelasan tentang peranan seorang pemimpin kayepaklu arti istilah kayepak menurut pengertian masyarakat pemiliknya, kemudian melansebagai pemimpin politik. Untuk maksud tersebut, akan dijelaskan lebih dahujutkan pembahasan tentang strategi-strategi apa yang digunakan oleh seseorang untuk mencapai kedudukan atau statuskayepak.
Istilah kayepak, menurut Schoorl, mengandung dua pengertian. Pertama, kayepak berarti orang dewasa, dalam hal ini seseorang yang berumur di atas 35 tahun dan belum mencapai usia lanjut, jadi seseorang yang berumur sekitar 35 tahun sampai 50 tahun. Arti kedua, adalah orang kaya. Orang kaya menurut ukuran orang Muyu adalah orang yang memiliki banyak 'barang' dalam hal ini uang atau ot, banyak babi dan banyak isteri.
Seseorang yang mempunyai banyak ot sanggup membayar maskawin dari sejumlah isteri, oleh karena itu beristeri banyak. Juga dengan kekayaan itu utang-utang dapat dibayar atau cepat dilunasi, dapat membeli daging babi secara teratur dan dapat membantu melunasi utang orang lain (Schoorl 1957:23,1993:24-25).
Kelompok kayepak berdasarkan umurnya yang secara ekonomi merapakan umur produktif, mempunyai kesempatan untuk membuat alat-alat berladang dan berburu, ikut aktif dalam transaksi-transaksi perdagangan untuk mengumpulkan kekayaan (pt) dan dengan bantuan isteri dan anak dapat memelihara banyak babi. Selain itu dalam usia antara 35 dan 50 tahun, mereka sudah matang dalam kehidupan. 

Artinya dalam usia ini mereka mengetahui rahasia-rahasia tentang babi suci mengetahui pantangan-pantangan yang haras dijalankan agar sukses dalam mencari kekayaan, mengetahui rahasia-rahasia untuk berhubungan dengan alam atas agar sukses dalam perburuan, penangkapan ikan, pertanian dan mencari ot. Pendeknya seseorang yang berdasarkan umurnya disebut kayepak, telah matang dalam memiliki pengetahuan religi dari kebudayaannya yang sangat penting bagi kehidupannya sehari-hari.
Peranan umur seperti terlukis di atas ini menyebabkan Schoorl berpendapat, bahwa terjadi ketergantungan dari anak-anak muda kepada orang tua (kayepak). Ketergantungan tersebut disebabkan oleh karena orang tualah yang membayar maskawin anak-anak muda, atau membantu anak muda untuk melunasi utangnya, serta orang tualah yang dapat mengajarkan rahasia-rahasia tentang kekuatan-kekuatan alam atas kepada anak-anak muda. Konsekwensi dari dominasi orang tua terhadap hal-hal yang bersifat religi dan bukan religi, ialah anak-anak muda menjadi pihak inferior terhadap orang tua, tetapi mereka ini adalah pendukung potensial bagi kayepak.
Sungguhpun setiap pria dewasa menduduki posisi superior dan mempunyai kesempatan yang sama untuk bersaing merebut status kayepak dalam arti politiknya, namun sedikit saja yang dapat berhasil. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor tertentu. Schoorl dalam studinya (1957), berpendapat bahwa salah satu faktor penting dalam penentuan keberhasilan seseorang untuk merebut status kayepak adalah faktor demografi. 

Banyak pria dewasa tidak mencapai kedudukan tersebut sebab pendukungnya sedikit. Pendukung utama bagi seorang kayepak adalah kaum kerabatnya sendiri. Hal itu berarti apabila jumlah kaum kerabat banyak maka dengan sendirinya jumlah pendukung banyak. Itulah sebabnya kekuasaan dan wibawa seorang kayepak turut ditentukan oleh besar kecilnya jumlah warga di dalam satu lineage atau cabang klen (Schoorl 1957:24,1993:25).
Di samping faktor demografi, faktor kemampuan pribadi seseorang merupakan syarat penting juga untuk mencapai status kayepak. Faktor kemampuan pribadi itu tercermin di dalam beberapa hal, misalnya pandai berpidato, sanggup menyelenggarakan pesta babi, dan memiliki pengetahuan tentang alam atas serta memiliki sifat bermurah hati.
Kepandaian berpidato dan berdiplomasi itu nampak pada kemampuan seseorang untuk menyampaikan sesuatu persoalan dengan jelas dan baik. Hal tersebut biasanya terlihat pada upacara pesta babi. Di sana seorang kayepak memperlihatkan kemampuan berpidatonya di atas satu panggung. Biasanya pidato kayepak berisikan nasihat-nasihat serta pesan-pesan persatuan kepada para peserta pesta yang kadangkala terdiri dari kelompok yang berbeda-beda dan kadang-kadang merupakan kelompok-kelompok yang bermusuhan (Schoorl 1957:24,1993:26).
Penyelenggaraan pesta babi merupakan arena persaingan untuk menunjukkan kehebatan seorang pemimpin kayepak, sebab bagi orang Muyu pesta babi merupakan peristiwa penting dalam kehidupannya. Melalui pesta babi terjadilah bermacam-macam hubungan sosial dan transaksi perdagangan. Menurut Den Haan (1955:95), pesta babi merupakan tempat pertemuan antara kerabat-kerabat dan handai taulan yang biasanya jarang bertemu karena tempat tinggalnya berjauhan. 

Pada kesempatan pesta babi mereka yang telah lama berpisah itu dapat mengisahkan kembali riwayat hidup nenek moyang pada masa silam dan mereka mengenangkan kembali peristiwa-peristiwa yang mereka alami bersama pada waktu-waktu lampau. Jadi pesta babi merupakan kesempatan berkumpul untuk membangkitkan kembali perasaan solidaritas kekerabatan dan pertemanan yang memudar setelah sekian lama tidak bertemu.
Fungsi sosial lain dari pesta babi menurut Den Haan (1955) dan Schoorl (1957) adalah kesempatan untuk memilih jodoh bagi anak-anak muda di luar ketentuan perkawinan adat yang mengharuskan perkawinan endogami. Hal ini penting bagi perluasan hubungan sosial antar lineage atau clan kecil dan sekaligus penting bagi perluasan hubungan ekonomi di kemudian hari.
Kecuali fungsi-fungsi tersebut di atas terdapat pula fungsi ekonomi dan fungsi religi dari pesta babi. Fungsi ekonomi dari pesta tersebut ialah bahwa pada kesem-patan itu terjadi transaksi-transaksi ekonomi antara para pengunjung pesta berupa jual beli hasil-hasil kebun, hasil hutan, hasil buruan dan hasil pekerjaan tangan. Alat pembayar yang digunakan dalam jual beli itu terutama terdlri dari kulit kerang, cow- rie shell, yang disebut ot dan gigi anjing yang biasanya dirangkai dalam bentuk kalung.
Fungsi religi dari pesta babi, menurut Den Haan (1955:181), adalah melaksanakan pemakaman kedua dari seseorang ayah yang telah meninggal dunia. Upacara pemakaman kembali itu hanya terjadi setelah satu pesta babi diadakan. Orang Muyu percaya bahwa jika pemakaman kedua tidak dilakukan maka akan timbul bermacam- macam bencana yang menimpa kaum kerabat yang masih hidup, misalnya tidak berhasil dalam pertanian, tidak berhasil dalam peternakan babi dan bahkan anak-anak sendiri tidak akan hidup lama. Singkatnya, tanpa penguburan kedua hakekat hidup orang Muyu akan segera berakhir. Agar kehadiran orang Muyu sebagai manusia tetap dipertahankan dan berkelanjutan maka pesta babi yang merupakan sarana bagi terlaksananya penguburan kedua harus diselenggarakan. Itulah sebabnya pesta babi sangat penting dalam kebudayaan orang Muyu.
Menyelenggarakan pesta babi tidak mudah sebab menyangkut bermacam-macam aktivitas menjelang upacara pesta, pada waktu pesta berlangsung dan sesudah pesta berakhir. Aktivitas-aktivitas itu meliputi pemeliharaan babi dalam jumlah yang cukup besar (biasanya untuk satu pesta diperlukan sekitar 15 ekor babi), menyiapkan tempat upacara, membangun bangunan-bangunan tempat tinggal para peserta pesta dan harus mencari seekor babi suci atau babi pemali untuk dipotong pada upacara pesta.
Semua aktivitas di atas menuntut kepandaian mengatur. Agar segala aktivitas yang berkaitan dengan pesta babi itu dapat berjalan lancar maka perlu ada dukungan dari roh-roh nenek moyang. Untuk itu si penyelenggara pesta harus mampu melakukan hubungan dengan alam roh. Dengan perkataan lain sipenyelenggara pesta babi selain haras memiliki kemampuan mengatur, juga harus memiliki pengetahuan religi. Itulah sebabnya kesempatan untuk bersaing menjadi pemimpin, kayepak, pada orang Muyu terbuka bagi setiap pria dewasa, namun sedikit saja dari mereka yang berhasil.
Faktor kemampuan pribadi lain yang turut memungkinkan seseorang dapat berha- sil menaiki jenjang kepemimpinan ialah kepandaian berdagang. Kepandaian tersebut dapat dilihat pada keberhasilan seseorang untuk mengumpulkan banyak uang, ot, pada waktu pesta babi. Keberhasilan mengumpulkan banyak ot merupakan modal bagi sipemilik untuk memperluas pengaruh dan wibawa, pertama-tama pada kelompoknya sendiri dan kemudian lebih luas lagi di luar kelompoknya. 

Hal itu dapat terjadi karena dengan ot yang banyak seseorang dapat kawin lebih dari satu isteri. Banyak isteri berarti kemungkinan besar untuk memelihara banyak babi. Cukup tersedia banyak babi merapakan modal bagi terselenggaranya pesta babi yang selain mempunyai fungsi sosial, fungsi ekonomi, fungsi religi juga merapakan tempat menyatakan prestise kekuasaan dan wibawa.
Faktor lain lagi yang dituntut dari seorang kayepak adalah sifat bermurah hati. Seorang kayepak adalah orang yang harus ringan tangan, artinya selalu bersedia untuk membantu melunasi utang atau maskawin orang lain. Perbuatan demikian adalah sa- ngat penting, sebab melalui bantuan tersebut seseorang terhindar dari segala macam ancaman baik yang bersifat sihir maupun yang bukan sihir.
Memang orang Muyu percaya bahwa kematian disebabkan dua hal. Pertama ada- lah kematian yang disebabkan oleh usia lanjut. Kematian ini adalah kematian alamiah dan oleh karena itu dianggap wajar. Dua, adalah kematian yang disebabkan oleh kekuatan-kekuatan magis. Bentuk kematian ini biasanya berlaku atas diri orang-orang yang belum berusia lanjut. 

Kematian demikian tidak dianggap wajar dan oleh karena itu harus dihindari. Suatu bentuk penghindaran dari ancaman kematian tidak wajar tersebut adalah melunasi utang-utang. Sebab utanglah yang menyebabkan pihak kreditor menggunakan atau menyewa orang untuk menggunakan kekuatan magis guna menyakiti atau membunuh pihak yang berutang. Itulah sebabnya kehadiran seorang kayepak yang selalu bersedia membantu melunasi utang-utang kaum kerabat atau handai taulannya sangat diharapkan dalam masyarakat. 

Jika ada orang seperti itu dalam masyarakat, maka ia sangat dihargai dan dipatuhi. Sikap demikian dinyatakan dalam kerelaan membantu segala aktivitas yang disponsorinya. Misalnya dalam penyelenggaraan suatu pesta babi, kaum kerabat secara suka rela membantu melakukan semua pekerjaan yang menyangkut pesta mulai dari tahap awal sampai tahap terakhir.
Keberhasilan seseorang untuk menyelenggarakan suatu pesta babi atas dukungan dan bantuan kaum kerabat dan para debitor merupakan cita-cita yang dikejar oleh mereka yang berambisi untuk menjadi kayepak. Demikianlah kita lihat bahwa sifat bermurah hati juga merupakan unsur penting sebab merupakan cara atau strategi untuk mendapat pendukung.

[J.R. MANSOBEN 1995]
Menurut Kamma (1970:138), kelompok sosial baru yang disebut bobot itu muncul sebagai akibat makin pentingnya peranan kain timur dalam kebudayaan orang Meybrat. Pada mulanya kain timur hanya mempunyai fungsi sosial, yaitu untuk mempertahankan kelompok dan interestkelompok. Fungsi tersebut kemudian secara lambat laun berubah menjadi kepentingan individu sebagai akibat faktor-faktor sosial ekonomi. Demikianlah muncul suatu kelompok baru di dalam masyarakat yang lebih bersifat kelompok ekonomi, yang walaupun ikatan klen dan kin group-nya masih terjalin, namun lebih mendasarkan diri pada perjuangan yang bersifat individu untuk memperoleh kekuasaan dan prestise pribadi.
Apabila seseorang melalui kemampuan pribadinya berhasil mengumpulkan banyak bo atau kain timur, maka ia mendapat pengikut dan disebut bobot. Istilah bobot berarti sangat kuat, atau arti harafiahnya adalah perebut kain (Kamma 1970:134). Di samping itu istilah bobot mengandung pula tiga arti yang lain, seperti yang terdapat di bagian barat Meybrat, ialah pertama, bobot berarti pemimpin, khususnya seorang pemimpin dari serangkaian upacara ritual yang disebut orang asing (pendatang) pesta bobot. Arti kedua adalah seorang yang mempunyai pengikut atau anak buah, yang disebut kusemd; orang yang mempunyai kekuasaan dan kemampuan dalam melaksanakan upacara tukar-menukar dan memberikan banyak 'pemberian' kepada orang lain. Arti ketiga adalah seseorang yang berhasil menyelenggarakan pesta- pesta penukaran yang diadakan dalam rangka upacara-upacara sekitar lingkaran hidup pada orang Meybrat (Elmberg 1955:34).
Secara teori setiap pria dewasa dapat menjadi bobot, jika syarat-syarat tertentu dipenuhi. Menurut orang Meybrat, orang yang ideal untuk disebut bobot adalah orang yang mempunyai pengetahuan yang baik tentang bisnis, di samping itu selalu bersedia untuk membantu orang lain dalam masalah-masalah ekonomi (Elmberg 1955: 34). Atau dengan perkataan lain seorang bobot adalah orang kaya yang bermurah hati. Tentang syarat pertama, pengetahuan bisnis, menurut ukuran dan pengertian orang Meybrat, dapat kita lihat pada penjelasanpenjelasan berikut.
Pada waktu lampau nama tersebut diberikan juga kepada seseorang yang pernah membunuh orang lain (musuh) (Elmberg 1955:34). Penjelasan-penjelasan di atas ini menunjukkan kepada kita bahwa nama atau gelar bobot terutama diberikan kepada dan dipakai oleh orang yang mampu menyelenggarakan upacara tukar-menukar yang disebut pesta bobot karena memiliki banyak kain timur. Sebaliknya penggunaan gelar bobot karena alasan pernah membunuh orang lain, kurang penting. Seperti terlihat nanti dalam uraian-uraian selanjutnya di bawah ini, bahwa alasan pertama merupakan faktor yang paling penting untuk mencapai posisi bobot, sedangkan alasan kedua merupakan faktor pelengkap saja.
Ukuran yang digunakan oleh orang Meybrat untuk menentukan apakah seseorang itu mempunyai kemampuan bisnis atau tidak terlihat pada pengetahuan memanipulasi sirkulasi kain timur. Orang Meybrat berpendapat bahwa kain timur haras selalu bergerak, artinya harus secara terus menerus beredar dari satu orang kepada orang yang lain dan dalam peredaran itu harus membawa keuntungan. Keuntungan di sini mengandung dua makna, ialah makna materi dan makna prestise (non-materi). Prinsip keuntungan yang mengandung dua makna tersebut di atas ditegaskan oleh orang Meybrat dalam ungkapan berikut: to bo saw, murio tefo, artinya 'saya menerima satu, saya mengembalikan banyak' (Elmberg 1955:33). Untuk memahami prinsip keuntungan yang terkandung di dalam ungkapan di atas, maka sebaiknya saya jelaskan lebih dahulu secara singkat di bawah ini sistem tukar-menukar kain timur pada orang Meybrat.
Dalam sistem tukar-menukar kain timur orang Meybrat, para bobot merupakan titik pusat dari segala aktivitas transaksi. Setiap bobot mempunyai jumlah partner dagang yang bervariasi antara delapan sampai 60 orang (Kamma 1970:139). Selanjutnya masing-masing partner dagang itu mempunyai partner-partner dagang lain lagi sehingga secara keseluruhan mereka membentuk suatu jaringan 'tetnan dagang' yang meliputi seluruh daerah pedalaman Kepala Burung.
Dalam hal tukar menukar kain timur, setiap bobot berusaha untuk mengembalikan kepada partnernya jumlah barang (kain timur) yang lebih banyak dan bahan yang berkwalitas lebih baik daripada apa yang diterimanya. Tindakan demikian menimbulkan dua hal: di satu pihak mendatangkan keuntungan materi bagi pihak penerima, dan di pihak yang lain menyebabkan naiknya prestise pihak pemberi. Pandang- an orang Meybrat untuk selalu memberikan lebih banyak kepada pihak kreditor atau pemberi seperti terurai di atas menimbulkan semacam persaingan yang terus menerus berlangsung antara para bobot. Persaingan tersebut menyebabkan sistem tukar-menukar kain timur bersifat ekonomi prestise. Jadi tujuan tukar-menukar kain timur pada orang Meybrat, menurut Pouwer (1957:304), adalah 'bukan untuk mencapai kesejahteraan sosial, melainkan untuk mendapatkan prestise', atau dengan kata lain tujuan tukar-menukar kain timur pada orang Meybrat adalah untuk mencapai kedudukan terpandang dalam masyarakat.
Menjadi orang terpandang di dalam masyarakat oleh karena kekayaan memiliki banyak kain timur menyebabkan seseorang mempunyai pengikut dan berhak untuk membuat keputusan. Di sinilah letak hubungan antara aspek ekonomi dengan aspek politik. Melalui kemampuan dalam bidang ekonomi prestise, seorang bobot dapat menciptakan hubungan-hubungan sosial tertentu dengan warga masyarakat yang lain. Hubungan-hubungan yang terwujud itu dapat bersifat hubungan simetris maupun hubungan asimetris. Hubungan simetris adalah hubungan yang terjadi antara para bobot yang mempunyai kedudukan dan peran yang relatif sama. Sebaliknya hu- bungan asimetris adalah hubungan yang terjadi antara seorang bobot dengan anggota-anggota masyarakat lainnya yang tidak berstatus bobot. Hubungan ini menyerupai hubungan patronklien. Seorang bobot berperan sebagai patron sedangkan anggota masyarakat lain yang tidak berstatus bobot, terutama mereka yang menjadi anak buah bobot, kusemd, berperan sebagai klien. Di sini peran dan kedudukan kedua belah pihak tidak sama. Pada hakekatnya seorang bobot yang mempunyai kedudukan dan peran yang lebih penting dalam hubungannya dengan seorang warga biasa, dapat menggunakan wewenang yang diperoleh melalui kedudukannya untuk 'memaksakan' kehendaknya pada orang lain.
Walaupun secara teori setiap pria dewasa mempunyai hak yang sama untuk bersaing menjadi bobot, namun hanya sedikit yang dapat berhasil mencapai kedudukan tersebut. Mereka yang berhasil menduduki status tersebut adalah orang-orang yang mempunyai kemampuan untuk berdagang. Suatu contoh yang amat bagus yang dapat digunakan untuk melukiskan hal tersebut adalah seperti yang dilaporkan oleh Pouwer tentang bagaimana menjadikan 25 rupiah dari 25 sen.
Orang-orang yang mempunyai kemampuan (pengetahuan) seperti yang dilukiskan pada contoh tersebut di atas sajalah yang mampu untuk menyelenggarakan transaksi-transaksi kain timur. Biasanya transaksi-transaksi itu diadakan pada tempat- tempat khusus dan pada kesempatan-kesempatan tertentu, bukan pada sembarangan tempat dan waktu. Tempat-tempat transaksi berlangsung berupa bangunan-bangunan rumah yang disiapkan khusus untuk maksud tersebut dinamakan sachefra, atau rumah pesta tengkorak (schedelfeesthuizen) dan sabiach bach atau rumah pesta pertandingan (speelhuis). Waktu-waktu yang biasanya ditetapkan untuk melaksanakan transaksi itu biasanya terjadi pada saat adanya suatu upacara atau pesta tertentu, misalnya pada upacara pembayaran tulang orang yang telah meninggal dunia, pada upacara inisiasi atau pada pesta pernikahan.
Dua rumah tempat berlangsungnya upacara transaksi seperti tersebut di atas merupakan dua kutub, dan di antara kedua kutub tersebut terjadilah sirkulasi kain timur. Rumah pesta sachefra, dibangun di atas bukit sedangkan rumah pesta sebiach bach yang berbentuk rumah panjang dibangun di kaki bukit. Rumah pertama bersifat sakral sedangkan rumah kedua bersifat profan. Kedua rumah tersebut sangat pen- ting karena di dalamnya terjadi transaksi kain timur.
Menurut orang Meybrat kehebatan seseorang dapat dilihat pada kemampuannya untuk mengatur pembangunan rumah-rumah upacara tersebut serta pengaturan upacara-upacara ritus dan pesta yang dilanjutkan dengan transaksi kain timur di dalamnya. Oleh karena tempat upacara ini merupakan arena perebutan kekuasaan, maka sebaiknya saya uraikan di bawah ini garis besar dari proses berjalannya upacara-upacara tersebut menurut apa yang dilaporkan oleh Pouwer (1957).
Tipe rumah pertama yang bersifat sakral itu disebut rumah tengkorak, sachefra. Penamaan demikian disebabkan oleh karena rumah tersebut memang dibangun untuk kegunaan upacara pembagian dan pembayaran tengkorak dari seseorang yang telah meninggal dunia.
Alasan lain untuk dibangunnya rumah upacara guna terselenggaranya transaksi kain timur, ialah karena salah seorang kerabat sakit, mati atau karena terjadi kegagalan panen. Peristiwa-peristiwa 'buruk' seperti tersebut di atas dianggap oleh orang Meybrat sebagai tindakan penghukuman atau tindakan pembalasan dendam dari kerabat yang meninggal dunia sebab ketidakpedulian terhadap dirinya oleh kerabat-kerabat yang masih hidup. Anggapan demikian biasanya diperkuat oleh pesan-pesan yang disampaikan oleh seorang dukun atau shaman. Di samping kedua alasan tersebut, alasan lain lagi adalah karena adanya kewajiban dari seorang suami terhadap pihak isterinya untuk membangun sebuah rumah upacara sachefra, guna kepentingan transaksi kain timur.
Tiga alasan tersebut dapat disifatkan ke dalam dua sifat, ialah sifat sakral dan sifat profan. Ke dalam sifat sakral termasuk dua alasan pertama, sedangkan alasan terakhir bersifat alasan profan.
Rumah upacara, sachefra, biasanya dibangun atas prakarsa seorang bobot dan dibantu oleh kerabat-kerabatnya. Apabila ramah tersebut sudah selesai dibangun, maka sekali lagi atas prakarsa bobot dikumpulkan bahan makanan dan kain timur bersama kaum kerabat dekat lalu disimpan di dalam rumah upacara itu. Jika semua persiapan yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan upacara sudah siap, maka pemrakarsa mengundang semua kerabat yang dekat dan jauh, juga kerabat-kerabat dari pihak isterinya, untuk menghadiri upacara pembayaran tulang.
Apabila pemrakarsa adalah anak laki-laki dari orang yang telah meninggal dunia, maka pembayaran tulang dilakukan oleh orang yang bersangkutan kepada saudara laki-laki dari ibu ayahnya (FaMoBr) atau kepada anak-anak dari saudara laki-laki ibu ayahnya (FaMoBrSo). Pembayaran tersebut didasarkan atas pandangan bahwa ibu ayahlah yang membesarkan ayah yang telah banyak berjasa kepada ego, sedangkan saudara laki-laki ibu ayah atau anak-anaknya adalah wakil dari ibu ayah.
Upacara pembayaran tulang berupa pemberian sejumlah kain timur oleh pemrakarsa (ego) kepada pihak ibunya yang disaksikan oleh kaum kerabat dari pihak ayah dan pihak ibu itu dilanjutkan dengan penyerahan pemberian dari pihak isteri kepada ego. Pemberian itu di dalam bahasa Meybrat disebut ru-ra, berupa kain timur, diserahkan oleh ayah ibu isteri (WiMoFa), saudara laki-laki isteri (WiBr) dan saudara la- ki-laki ibu isteri (WiMoBr) kepada ego.
Tahap pertama dari upacara ini yang terdiri dari dua mata acara, yaitu pembayaran tulang kepada pihak ibu oleh ego yang bertindak sebagai pemrakarsa dan penyerahan ru-ra dari pihak isteri kepada ego. Sebelum tahap pertama yang bersifat sakral dari upacara ini ditutup dengan acara makan bersama, pemrakarsa memanggil orang yang telah meninggal dunia itu untuk menyaksikan pemberian kain timur yang sakral yang diserahkan olehnya kepada pihak ibu atau saudara laki-laki ibu dari orang yang telah meninggal itu.
Apabila tahap pertama upacara sudah selesai, maka tahap kedua dari upacara itu yang bersifat profan dimulai. Acaranya ialah pembagian ru-ra atau pemberian yang diterima dari pihak isteri oleh pemrakarsa kepada hadirin yang terdiri dari kerabat- kerabat ayah, kerabat ibu, suami-suami dari saudara-saudara perempuan, kerabat-kerabat dari klen sendiri serta teman-teman dari klen-klen lain, tidak termasuk di sini kerabat-kerabat atau anggota-anggota dari klen pihak isteri. Dengan demikian ru-ra masuk dalam sirkulasi.
Setiap penerima ru-ra berhak penuh atas penggunaannya, misalnya digunakan sebagai alat pembayar maskawin, untuk membayar denda atau untuk membeli makanan. Setelah beberapa waktu berselang, menurut keterangan seorang informan kepada Pouwer, selang waktu kurang lebih satu sampai dua tahun, pemrakarsa upacara mengundang para debtornya untuk mengembalikan utang-utangnya. Pembayaran kembali itu biasanya disertai dengan suatu toegift, suatu pemberian tambahan, yang disebut dalam bahasa Meybrat boo-worar. Pemberian tambahan itu kadang-kadang dua kali lipat lebih banyak daripada apa yang pernah diterima.
Pelaksanaan pembayaran kembali utang biasanya dilakukan di rumah upacara lain yang sementara itu dibangun oleh pemrakarsa, disebut sabiach bach, atau rumah pesta pertandingan, speelhuis.
Pouwer melukiskan situasi pada saat pelaksanaan pengembalian utang sebagai saat yang menegangkan, sebab terjadi tawar menawar antara pemberi dan penerima. Semua barang (dalam hal ini kain timur jenis ru-ra), yang digunakan sebagai tegengift atau alat pembayar utang yang disebut booru, dan yang diberikan sebagai pemberian tambahan diperiksa penerima dengan amat teliti. Jika penerima tidak puas dengan nilai atau kwalitas dari benda yang digunakan untuk membayar utang, maka kepada debitornya diberikan lagi makanan dan minuman. Tindakan seperti ini segera dimengerti oleh pihak debitor sehingga kembali sekali atau beberapa kali ke tempat menyimpan barang untuk mengambil tambahan barang atau pengganti guna melengkapi dan atau mengganti yang sudah ada. Apabila pemrakarsa sudah puas dengan pembayaran kembali, maka dipotonglah seekor babi lalu dibagikan dagingnya kepada para debitornya (tamunya) sebelum mereka ini kembali ke tempatnya masing-masing.
Semua kain timur yang diterima oleh pemrakarsa dari para debitornya seperti yang telah dijelaskan di atas kemudian disimpan oleh isterinya di rumah upacara pesta tengkorak, sachefra. Sesudah itu pemrakarsa mengirim berita kepada kerabat-kerabat dari pihak isterinya tentang telah terjadinya pembayaran utang. Mereka ini segera membangun sebuah rumah pertandingan baru, sebiach bach. Apabila rumah itu sudah siap dibangun, maka ditentukanlah suatu hari tertentu untuk berkumpul di sana dalam rangka pengembalian ru-ra yang diterima oleh pemrakarsa pada waktu pembayaran tengkorak kepada pihak isterinya. Upacara pengembalian ru-ra ini dihadiri oleh semua pihak, baik dari pihak pria (suami) maupun dari pihak wanita (isteri).
Kain timur jenis ru-ra yang dibawa oleh pihak pria itu dijejerkan berbentuk garis panjang di atas tanah. Barang-barang tersebut kemudian diperiksa secara seksama oleh pihak wanita. Barang yang kurang baik di antara barang-barang itu segera dipisahkan dan harus diganti dengan yang lebih baik. Situasi pada saat ini tegang, sebab pihak pria seringkali menyembunyikan ru-ra yang berkwalitas lebih baik di belakang tangannya. Barang yang berkwalitas baik ini diberikan setelah terjadi pemeriksaan. Acara pengembalian utang ini kemudian dilanjutkan dengan pemberian tambahan, boo-worar. Pemberian tambahan itu biasanya selain terdiri dari kain timur jenis ru-ra, juga berupa kain toko dan kain sarung.
Ongkos makan dan minum untuk semua peserta ditanggung oleh pihak isteri. Pertemuan tukar menukar ini kemudian diakhiri dengan pemotongan seekor babi yang disumbangkan oleh pihak wanita.
Gambaran peristiwa tukar menukar berupacara pada uraian di atas menunjukkan bahwa pemrakarsa berperan sebagai titik sentral, titik pertemuan, antara golongan-golongan yang berbeda asalnya. Mereka itu terdiri dari kaum kerabat pihak pria (suami), kaum kerabat dari pihak wanita (isteri), dan teman-teman yang berasal dari cabang-cabang klen dan klen-klen kecil. Juga dari uraian di atas kita melihat bahwa pertemuan antara golongan-golongan yang berbeda dapat terjadi atas perantaraan suatu upacara ritual: upacara pembayaran tengkorak. Jadi aspek religi berperan di sini sebagai media pertemuan antara kelompok-kelompok sosial yang berbeda. Pemakaian upacara ritual sebagai media pertemuan untuk kepentingan ekonomi prestise (tukar menukar kain timur) dalam rangka mencapai prestise sosial menunjukkan dengan jelas, bahwa religi bagi orang Meybrat adalah sesuatu yang kongkrit, nyata dan bukan transenden. Dengan demikian aspek religi dalam dunia pandangan orang Meybrat mempunyai kaitan erat dengan aspek ekonomi, aspek sosial dan aspek politik.
Secara sosiologis upacara tukar-menukar yang dilakukan oleh orang Meybrat mengandung tiga dimensi: dimensi religi, dimensi ekonomi dan dimensi politik. Tiga dimensi tersebut terjalin erat satu sama lain dalam suatu bentuk hubungan siberaetik. Bagan III.1menunjukkan hubungan tersebut. Hubungan sibernetik dalam tata urut hierarkis pada bagan tersebut dibuat demikian berdasarkan asumsi bahwa aspek religi merupakan mekanisme pendorong untuk orang berprestasi dalam bidang ekonomi. Selanjutnya keberhasilan ekonomi mendatangkan prestise atau kekuasaan politik bagi seseorang. Kekuasaan tersebut menjadi mantap karena mendapat pengabsahan religi. Sebaliknya kekuasaan politik yang mantap memungkinkan bertambah banyaknya keberhasilan dalam bidang ekonomi yang merupakan syarat mutlak bagi intensifikasi upacara-upacara keagamaan.
Perlu ditegaskan pula di sini bahwa upacara transaksi kain timur tidak hanya terjadi pada kesempatan adanya upacara ritual yang diadakan berhubungan dengan pembayaran tengkorak seperti yang sudah disebutkan di atas, tetapi juga terjadi pada upacara inisiasi, pesta perkawinan dan pesta-pesta lainnya. Itulah sebabnya Pouwer menegaskan bahwa pada umumnya upacara-upacara pesta lebih diarahkan pada tujuan tukar menukar daripada tujuan utamanya: banyak menyelenggarakan pesta (ritual) adalah pertanda penghormatan terhadap orang-orang yang telah meninggal dunia. Penghormatan demikian menyebabkan orang mati menjadi senang sehingga tidak menimbulkan kesulitan bagi kaum kerabatnya yang masih hidup' (Pouwer 1957:300).
Selain syarat-syarat yang sudah dibicarakan di atas memiliki pengetahuan bisnis dan pandai mengatur penyelenggaraan upacara-upacara ritual serta transaksi kain timur syarat-syarat lain yang harus dipenuhi pula oleh seseorang agar ia menjadi bobot atau pemimpin, ialah sifat bermurah hati dan pandai berdiplomasi.
Elmberg melaporkan bahwa syarat ideal bagi seorang bobot ialah kesediaannya untuk membantu orang lain, terutama kerabat-kerabatnya yang mengalami kesulitan ekonomi. Salah seorang informan Elmberg berulangkali menegaskan bahwa seorang bobot adalah orang yang berbudi baik, selalu membantu para pengikutnya dengan banyak barang. Lebih lanjut Elmberg berpendapat bahwa para bobot atau bankir-bankir orang Meybrat tidak selalu menggunakan posisinya untuk menekan orang lain secara semena-mena. Sebaliknya kekuasaannya itu dibatasi pada sifat realistik seperti pada orang biasa (Elmberg 1955:34,1968:197).
Sifat bermurah hati seorang bobot yang terwujud dalam bentuk nyata adalah pemberian bantuan kepada orang lain. Orang yang menerima bantuan secara otomatis menjadi pengikut atau anak buah bobot, mereka itu disebut kusema, yang berarti orang kecil. Elmberg menamakan pengikut seorang bobot, partner bebas, sebab walaupun mereka bekerja untuk bobot tetapi mereka masih mempunyai kebebasan untuk meningkatkan kedudukan sendiri menjadi bobot di kemudian hari (hanya sedikit saja dari mereka yang dapat berhasil mencapai kedudukan tersebut, Elmberg 1955: 34).
Sifat lain yang menjadi syarat bagi seorang bobot adalah kepandaian berdiplomasi. Sifat tersebut dapat dilihat pada kemampuan seseorang untuk menawarkan maksudnya dengan kata-kata yang menarik agar tawarannya itu dapat disetujui oleh umum secara konsensus. Elmberg menemukan prinsip tersebut pada orang Meybrat sehingga menyamakan para bobot di Meybrat dengan pemimpin big men pada orang Gahuku Gama (Papua New Guinea), seperti yang dilaporkan oleh Read (Elmberg 1968:199-200).
Pengaruh kekuasaan seorang bobot biasanya terbatas pada lingkungan tempat tinggalnya sendiri. Agar pengaruhnya dapat meluas sampai di luar batas-batas wilayah kekuasaannya, maka seorang bobot harus memperkokoh hubungannya dengan pihak luar. Salah satu cara yang selalu dipakai untuk memperkokoh hubungan dengan pihak luar adalah melalui perkawinan. Oleh karena itu seorang bobot seringkali melakukan perkawinan-perkawinan dengan pihak luar. Dengan demikian seorang bobot yang besar pengarahnya kawin lebih dari satu perempuan, atau dengan kata lain berpoligami. Poligami pada orang Meybrat pada umumnya dan bagi para bobot pada khususnya adalah simbol kekayaan dan kekuasaan (Elmberg 1968:204; Kamma 1970:140).
Di satu pihak poligami adalah simbol kekayaan sebab orang kaya saja yang mam- pu membayar maskawin untuk banyak isteri. Banyak isteri berarti banyak tenaga kerja yang dapat menghasilkan makanan yang dibutuhkan sebagai konsumsi pesta-pesta atau upacara-upacara ritual. Poligami di pihak yang lain mempunyai arti politik atau kekuasaan, sebab melalui isteri-isteri terjalin hubungan dengan pihak luar (pihak isteri). Atau dengan perkataan lain banyak isteri berarti pula banyak relasi. Relasi amat penting bagi seorang bobot karena para relasi adalah pendukung dan juga partner atau rekanan dagang potensial dalam transaksi tukar menukar kain timur.
Beberapa implikasi sosial sistem politik bobot yang berlandaskan kompleks kain timur pada orang Meybrat, menurut Kamma (1970), adalah kecenderangan untuk kawin di antara anak-anak bobot, atau dengan kata lain terjadinya endogami golongan dan timbulnya kerengganan kohesi sosial antara seorang bobot dengan anggota-anggota klennya sendiri. Hal ini disebabkan oleh karena seorang bobot lebih banyak memberikan perhatian kepada rekanan dagangnya daripada warga klennya sendiri. Sebaliknya Elmberg berpendapat bahwa kompleks kain timur yang melibatkan kelompok-kelompok kerabat consanguineal atau yang seketurunan, mengakibatkan tumbuhnya solidaritas yang kuat baik di antara kelompok-kelompok kekerabatan itu sendiri maupun di antar mereka dengan kelompok-kelompok kekerabatan lain yang merupakan partner dagangnya. Di samping itu kompleks kain timur yang diintensif- kan oleh sistem politik bobot merupakan tempat konsumsi bagi barang-barang yang tidak bertahan lama, seperti makanan. (Disertasi).