PEMERINTAH HILANG DI PAPUA

P
emberdayaan masyarakat melalui pemberlakuan otonomi khusus dalam menjawab rasa keindonesiaan OAP semakin hari semakin redup, hal ini dikarenakan pemerintah belum secara serius melaksanakan kegiatan-kegiatan yang berkait dengan urusan wajib meliputi Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi Kerakyatan dan Infrastruktur. 

Dalam tulisan ini, hanya menyoroti urusan pemberdayaan masyarakat. Cerita lepas Warung Copi, Emperan Pasar, Pimpinan beragam organisasi  dan Mensos lainnya tentang OAP hampir sebagian besar memberi jawaban “MENTALITAS BERPERILAKU HIDUP BOROS” yang banyak dipengaruhi oleh budaya kekerabatan yang kuat, jawaban itu dilihat dari pola penyebaran OAP berdasarkan topografi wilayah yang terbagi dalam dua wilayah yaitu masyarakat pantai dan masyarakat pegunungan yang kehidupan sehari-harinya sebagai petani peramu dan petani ladang. Pemikiran pola-pola lama ini yang membuat kita terpenjarah dalam pasar gagasan dalam menemukan inovasi-inovasi baru dalam mengelola kekerabatan sebagai modal sosial yang memiliki nilai ekonomi tinggi. 

Kehadiran otonomi khusus belum memberi makna pada kemandirian ekonomi OAP, sebalinya kehadiran otonomi khusus memberi edukasi berutang dengan hidup bergantung pada pemerintah. Apakah ini yang disebut praktek cerdas ?. Selamat Merenung !.

Lokomotif pembangunan Papua bertumpuh pada tiga sektor yakni pendidikan , kesehatan dan infrastruktur, hal ini bisa dilihat dari besarnya anggaran dan kebijakan pemerintah untuk tiga sektor ini setiap tahun meningkat dibandingkan sektor ekonomi kerakyatan yang jumlahnya teramat sanggat kecil. Ada sebuah jawaban yang bisa “BENAR DAN BISA SALAH” yaitu yang melatar belakanggi pola pikir para perencana dan penentu kebijakan bahwa apabila pendidikan, kesehatan dan infrastruktur sudah membaik dengan sendirinya pertumbuhan ekonomi OAP akan meningkat pula. Pilihan Jawabanya cukup untuk anda sendiri. Sementara itu, lambatnya pengembangan ekonomi OAP bisa dilihat dari belum terkelolanya sumber daya lokal OAP melalui penetapan peta jalan pemberdayaan ekonomi OAP yang disesuaikan dengan potensi masing-masing wilayah baik pesisir maupun pegunungan dengan tetap menghormati nilai-nilai budaya yang hidup dan tumbuh bersama OAP di masing-masing wilayah tersebut. 

Pengembangan ekonomi OAP yang dilakukan pemerintah selama ini belum memberikan makna yang berarti, hal ini bisa dilihat dari program-program pemberdayaan masih terbungkus dalam paket-paket proyek yang membuat pertumbuhan ekonomi OAP berjalan ditempat. Selain itu, banyak pernyataan klasik yang dikeluarkan pemerintah atas nama pemberdayaan ekonomi untuk menuju kemandirian ekonomi yang menjelaskan OAP jangan dikasi ikan melainkan dikase pancing. Ketika OAP pancing dapat ikan mau dijual tidak ada pasar dan sebaliknya dijual dipasar harganya jauh dari harga normal karena permainan tengkulak. Cerita ini memberi simpulan kecil yang menjelaskan bahwa 5 (lima) fungsi dalam ilmu manajememen tidak berjalan maksimal atau dengan pendapat lain perencanaan dari hulu kehilir mengalami hambatan. Selanjutnya potret-potret pemberdayaan yang lain adalah atas nama pemerintah maka kita mengadopsi model-model pemberdayaan daerah lain untuk dipaksakan diterapkan pada OAP yang secara turun temurun tidak hidup bersama budaya mereka. 

Penulis memilih judul pemerintah hilang di Papua ini memiliki ekor panjang untuk kita merenung dan melihat kembali perjalanan pemerintah melalui berbagai catatan masa lalu dengan berbagai jurus yang dikeluarkan pemerintah dalam merajut rasa keindonesiaan OAP sampai di keluarkan paket cantik yang diberi nama otonomi khusus yang sampai saat ini belum memberikan makna yang berarti ini karena persepsi OAP yang dijumpai sebanyak 9 (sembilan) dari 10 (sepuluh) orang menjawab mereka belum merasakan manfaat.  Sedangkan dari berbagai penelitian yang dipublikasikan melalui media cetak maupun online menjelaskan otonomi khusus belum memberikan makna yang berarti karena kebijakan yang dikeluarkan pemerintah tidak sejalan dengan tujuan pemberlakuan otonomi khusus.

Paket-paket kebijakan pemberdayaan yang dikeluarkan masih dikerjakan secara setengah-setengah yang didesain pada anggaran semata, hal ini yang membuat pemerintah hilang, dimana pemerintah tidak serius membangunan ekonomi OAP, alias OAP tidak disiapkan secara totalitas menuju kemandirian ekonomi.
 
Pemberlakuan daerah otonomi khusus perlu kita membaca kembali karena masa lalu adalah referensi yang berharga untuk kita menata asa dan raga dalam merajut satu tungku dalam satu rumah “BHINEKA TUNGGAL IKA”pemberlakuan otonomi khusus merupakan jawaban atas aksi-aksi sosial masyarakat yang difasilitasi berbagai ormas sebagai jawaban yang perlu dilihat sebagai sebuah kesempatan dalam membangun ketertinggalam OAP lebih khusus pengembangan ekonomi OAP agar kemandirian ekonomi bisa terwujud dimasa depan. (Skrip jurnal Arius Kambu, FEB Uncen)
   


MAKNA KATA “A3” 


A1 (AYAMARU)
Diskusi-Diskusi lepas anak mudah Meybrat diberbagai kesempatan menarik untuk digali lebih mendalam berkait pemaknaan Ayamaru dalam tata bahasa Meybrat yakni : Ayamaru memiliki arti “Ait Yaru” yang artinya “Dia Potong”.  Dia potong memiliki makna yang berkait dengan kehidupan sehari-hari orang Meybrat dalam membuka ladang atau kebun dengan terlebih dahulu membersihkan semak-semak dengan cara memotong atau membabat setelah itu penebangan pohon-pohon dan dibairkan kering dalam beberapa hari kemudian dibapakar lalu ditanami bibir keladi, pisang, petatas dan sayur-sayuran.
Selain itu, Ait Yaru, juga memiliki makna dia berbuat sesuatu untuk kepentingan keluarga atau kerabat yang memiliki hubungan keluarga dari pihak ayah atau ibu dalam bentuk penyelesaian masalah atau utang kain timur (bo) dengan yaru kain timur (bo) yang kualitasnya sangat tinggi kepada pemberi (piutang) kain timur (bo). Sementara dalam pengertian permainan adat kain timur (bo)  bahwa “Ait Yaru Bah” hanya orang yang mampu yang dapat melakukan hal ini dan tidak semua orang dapat melakukan “Yaru Bah” hanya ra bobot saja yang dapat melakukan “Yaru Bah” atau Ait Yaru Bah”.

A2 (AITINYO)
Aitiyo atau “Ait Yeno” berarti dia atau orang itu berbuat sesuatu. Berbuat sesuatu disini memberikan ketegasan tentang kemampuan seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu kegiatan berdasarkan ide dan gagasan atau pemikiran sendiri tanpa harus menunggu ide dari orang lain. “Ait Yeno” juga memberikan gambaran bahwa orang tersebut mempunyai kemampuan untuk berbuat sesuatu mulai dari berkebun, berburu binatang dihutang sampai kepada menyelesaikan masalah-masalah adat seperti dengan masalah adat, mengembalikan kain adat dan lain-lain.

A3 (AIFAT)
Aifat berarti “Ait Yefat” yang berarti orang itu tebang pohon, hal ini mengandung makna dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga atau kerabat, maka dia harus membuka lahan atau kebun dengan cara membersihkan semak-semak belukar atau ladang yang cukup luas dan setelah menebang pohon-pohon (Yefat Ara) lalu menunggu beberapa waktu setelah pohon yang ditebang kerin lalau dibakar selanjutnya ditanami dengan bibit keladi, pisang, sayur-sayuran dan lain sebagainya.
Dalam arti luas, jika ingin tidak ada bencana kelaparan dalam keluarga atau kerabat di wilayah Meybrat orang harus berkebun, jika tidak maka akan mati kelaparan, jadi dapat disimpulkan bahwa Ayamaru, Aitinyo dan Aifat (A3) berarti Ait Yaru, Ait Yeno dan Ait Yefat. (Arius Kambu, Dosen FEB Uncen)


Klasifikasi Harga Kain Timur Dalam Suku Meybrat
 
Masyarakat Meybrat mempunyai adat istiadat yang cukup terkenal ialah “Kain Timur”. Kain Timor digunakan sebagai alat tukar dalam perdagangan orang maybrat beberapa fase yang lalu, kain timor juga berfungsi sebagai alat pembayaran  mas kawin, ritual adat kematian bagi suku Ayamaru di Sorong. Kain Timor  Meybrat di kategorikan menurut nama-nama yang secara spesifik berbeda nama. Perbedaan nama menunjukan nilai, kelas dan harga (nominal jika diuangkan).
Wansafe Dan Sarim : Dalam urutan Kain Timor Meybrat Wansafe dan Sarim dianggap memiliki nilai historis tersendiri. Kain ini juga tidak banyak dan tidak dimiliki semua orang  Meybrat.  Mereka yang menyimpannya di pandang sebagai sosok Bobot (orang berada secara strata sosial). Proses mendapatkan kain ini juga hanya melalui dua cara. Pertama: Kain ini secara mitologi dipercaya sebagai pemberiaan alam atau warisan nenek moyang yang tidak bias berpindah kepemimlikan. Kain ini Hanya bisa di wariskan kepada keturunan, keret tertentu yang  bisa memilikinya. Dan apabila berpindah kepemilikan berarti melalui proses denda atas masalah fatal, pembunuhan, kematian dll. Kain Wansafe dan Sarim jarang diperoleh melalui pertukaran  kain adat di Meybrat. Jika diuangkan dalam bentuk rupiah, maka Wansafe dan Sarim dapat dihargai dengan nilai Rp. 50.000.000.00- 150.000.000.00 (Limapuluh hingga seratus limapuluh juta).
Bokek Dan Toba   : Jenis kain Timor yang berikut adalah kain Bokek dan  Toba. Dalam urutan atau klasifikasi kualitas nila kain Timor Meybrat, Bokek dan Toba merupakan kain yang dianggap memiliki klasifikasi mendekati kain Wansafe Dan Sarim. Kain semacam ini bisa dimiliki oleh masyarakat luas. Kain ini biasanya diperoleh melalui proses pertukaran adat, melalui pembayaran mas kawin bagi perempuan dan proses denda adat lainya. Namun dalam kepercayaan (mitologi) masyarakat Meybrat kain Timor jenis ini juga diberikan oleh alam sehingga mengandung unsur mistis.
Jika diuangkan Kain Timor Meybrat, Bokek dan Toba ini dapat di  harga  Rp.10.000.000.00 - Rp. 50.000.000.00 (sepuluh hingga limapuluh juta rupiah).
Serenta Dan Boirim: Urutan kain timur yang berikut adalah Serenta dan Boirim. Kain ini biasanya dimiliki oleh semua golongan tanpa terkecuali. Untuk mendapatkan kain ini tidaklah sulit. Kain ini biasa di peroleh dari pembayaran mas kawin, pertukaran adat, tetapi juga bisa dibeli di toko-toko dan pasar terdekat. Jika dirupiahkan kain ini berkisar antara harga Rp. 1.000.000.00- Rp.5.000.000.00 (Satu juta hingga lima juta rupiah). Akhir-akhir ini kain ini bisa di produksi sendiri melalui proses tenun manual oleh masyrakat Meybrat.
Haan (Kain Merah Atau Hitam): Kain Haan (Kain hitam dan merah) ini dalam adat Meybrat merupakan kain kelas trakhir yang menjadi pelenggkap dalam adat Meybrat. Dalam Proses Pembayaran Mas Kawin,denda adat, pertukaran  kain, kain  ini biasanya memiliki nilai sosial terendah. Kain ini bisa di miliki oleh semua orang. Cara mendapatkanya melalui proses pertukaran kain adat, mas kawin, denda adat dan lebih banyak dibeli di took-toko. Harganya berkisar antara Rp.1.000.000.00- Rp. 3.000.000.00 (Satu juta hingga tiga juta rupiah). (arius kambu, FEB Uncen)


PERILAKU BISNIS ORANG MEYBRAT
Setelah dikemukakan beberapa karakteristik responden di atas, maka dapat dikatakan bahwa tingkat pendidikan, umur, pendapatan, pola konsumsi dan perilaku produksi serta sosial budaya yang dimiliki masyarakat Meybrat merupakan faktor-faktor yang dominan peranannya dalam membentuk perilaku kewirausahaan masyarakat. Di samping itu, perilaku kewirausahaan Masyarakat juga turut dibentuk dengan banyaknya jumlah tanggungan keluarga, di mana rata-rata memiliki tanggungan keluarga yang cukup besar, sehingga mereka lebih banyak terdorong berusaha mencari nafkah untuk menutupi kebutuhan rumah tangganya dan kurang upaya untuk mengembangkan usahanya dengan cara melakukan pengembangan faktor-faktor produksi yang dapat menunjang peningkatan produktivitas dan pendapatan hasil usaha. Dengan demikian pada umumnya kebiasaan masyarakat untuk melakukan pesta besar-besaran yang membutuhkan dana besar merupakan suatu sikap yang terimplikasi pada perilaku kewirausahaan masyarakat. Untuk memahami bagaimana keterkaitan antara atribut-atribut faktor sosial budaya, kemampuan pengambilan keputusan, kemampuan inovasi, kemampuan pengambilan resiko, faktor produksi, distibusi,  pola konsumsi serta faktor kelembagaan dan faktor ineternal dan eksternal terhadap pembentukan perilaku kewirausahaan, dapat dilakukan pengelompokan, dan pengklasifikasian pendapat  pengusaha kecil dan menengah masyarakat kedalam tiga kategori yaitu sanggat mendukung sekali, sanggat mendukung, netral, kurang mendukung dan kurang mendukung sekali. Hasil pengelompokkan dan pengklasifikasian untuk masing-masing faktor sebagaimana dijelaskan sebagai berikut:

SISTIM KEKERABATAN
Setelah dilakukan telahan terhadap jawab responden memberi indikasi bahwa masyarakat masih terikat pada kebiasaan, pola hidup dan tingkah laku sosial budayanya, sehingga kurang mendukung terhadap pembentukkan perilaku kewirausahaan dalam pengembangan bisnis masyarakat. Tanggung jawab sosial, menjadi faktor budaya utama yang kurang mendukung pembentukkan perilaku kewirausahaan. Tanggung jawab sosial di sini dimaksudkan sebagai tanggung jawab seseorang di dalam keluarga terhadap semua kegiatan-kegiatan yang terjadi di dalam keluarga, baik yang bersifat vertikal maupun horisontal dan juga lingkungan masyarakatnya. Kewajiban terhadap tanggung jawab sosial tersebut  menjadikan seseorang di dalam keluarga yang memiliki pekerjaan dan pendapatan yang baik dianggap sebagai aset keluarga. Masyarakat Meybrat masih memegang teguh hubungan keluarga (kekerabatan), baik secara vertikal maupun horisontal, baik terhadap keluarga kakek, nenek, maupun keluarga suami atau istri. Hubungan-hubungan tersebut menyebabkan pemanfatan dari hasil usaha dipergunakan untuk kepentingan tersebut, dan kadang-kadang jumlah pengeluaran melampaui pendapatan yang diperoleh.
Perilaku masyarakat di dalam menghadapi semua kegiatan adat tersebut di atas, dipengaruhi oleh suatu nilai-nilai budaya dan norma-norma sosial yang hidup dalam lingkungan masyarakatnya. Budaya rasa malu dinilai tidak mampu, menjadi faktor pendorong yang sangat kuat di dalam melakukan tanggung jawab adat tersebut. Upaya menjaga harga diri dan martabat  keluarga, kelompok dari penilaian tidak mampun, mendorong setiap orang didalam kelompok melakukan pengorbaban dalam bentuk uang maupun barang. Misalnya pembayaran denda atau maskawin; walaupun dalam jumlah yang besar dapat diselesaikan dalam waktu yang singkat karena dorongan menjaga harga diri dan martabat keluarga/kelompok, atau rasa malu dinilai tidak mampu.

POLA KONSUMTIF
Hasil dalam penelitian ini, memberi indikasi bahwa perilaku (konsumtif) kurang mendukung terbentuknya perilaku kewirausahaan masyarakat. Untuk jelasnya hasil rangking dan klasifikasi tersebut menunjukkan perilaku kelompok dalam kegiatan penyelesaian masalah dan kegiatan sosial cenderung kurang  mendukung atau tidak produktif. Hal ini dapat dilihat pada rangking satu atau klasifikasi kurang mendukung. Sedangkan pemanfaatan pendapatan dalam kegiatan ekonomi dapat dikatakan lebih rendah dibanding dengan akumulasi pemanfaatan pendapatan untuk kegiatan penyelesaian masalah dan kegiatan sosial ekonomi, hal ini menggambarkan bahwa masyarakat menggunakan kurang lebih pendapatan mereka untuk keperluan non konsumsi. Hal ini memberi indikasi bahwa masyarakat memiliki  perilaku kewirausahaan yang  masih rendah. Selanjutnya dapat dijelaskan bahwa potensi sosial budaya masyarakat sangat tergantung pada hasil pendapatan yang diperoleh dan jumlah tanggungan keluarga. Disamping itu terdapat pula  suatu kebiasaan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, dimana semakin tinggi hasil pendapatan yang diperoleh semakin besar pengeluaran rumah tangganya, begitu pula halnya semakin banyak jumlah tanggungan keluarga semakin besar pula pengeluaran rumah tangga, terutama pada kebutuhan yang menjadi tanggung jawab sosial budaya (pesta-pesta adat, pembayaran maskawin dan denda). Dengan demikian penilaian bahwa satu sikap perilaku masyarakat, yang suka boros menggunakan pendapatan untuk hal-hal yang tidak produktif dapat  diposisikan secara tepat. Dalam kaitannya dengan nilai sosial masyarakat yang masih kuat dipengaruhi oleh budaya, dan tradisi, bentuk penggunaan pendapatan seperti yang dijelaskan di atas merupakan kewajiban yang menjadi tanggung jawab sosial setiap anggota kelompok. Perilaku sosial seperti ini kurang mendukung kegiatan usaha bagi masyarakat, karena tidak adanya pemupukan modal usaha untuk pengembangan usaha.

FAKTOR PENGHAMBAT
Hasil dalam penelitian ini, memberi indikasi bahwa perilaku (konsumsi, investasi, pendidikan, dan kesehatan serta kebutuhan lainnya) kurang mendukung terbentuknya perilaku kewirausahaan masyarakat. Untuk jelasnya hasil klasifikasi dan pengelompokkan tersebut menunjukkan perilaku masyarakat cenderung konsumptif dan tidak produktif. Hal ini dapat dilihat bahwa pemanfaatan pendapatan untuk investasi, kesehatan dan pendidikan dapat dikatakan lebih rendah dibanding dengan akumulasi pemanfaatan pendapatan mereka untuk keperluan non konsumsi. Hal tersebut diatas memberi indikasi bahwa masyarakat memiliki perilaku kewirausahaan yang  masih rendah.
Kecenderungan penggunaan pendapatan pada konsumsi yang jauh lebih besar  merupakan implikasi dari tanggung jawab sosial terhadap keluarga yang tetap dipegang teguh oleh orang Meybrat. Hubungan kekerabatan, keluarga secara vertikal dan horisontal dari kedua belah pihak suami dan isteri  menyebabkan semakin luasnya tanggungan keluarga. Dikalangan masyarakat khususnya pada setiap keluarga rata-rata berkumpul selain keluarga inti, juga ditampung keluarga lainnya baik dari pihak suami maupun istri, dan rata-rata mencapai 8-10 orang. Dengan demikian penilaian bahwa satu sikap perilaku masyarakat, yang suka boros menggunakan pendapatan untuk hal-hal yang tidak produktif dapat  diposisikan secara tepat dalam kaitannya dengan pola konsumsi kehidupan masyarakat yang masih kuat dipengaruhi oleh budaya, dan tradisi, bentuk penggunaan pendapatan seperti yang dijelaskan di atas merupakan kewajiban yang menjadi tanggung jawab sosisal setiap anggota kelompok. Perilaku pola konsumsi seperti ini kurang mendukung kegiatan usaha bagi masyarakat Meybrat, karena tidak adanya pemupukan modal untuk pengembangan usaha.
PERILAKU BISNIS ORANG MEYBRAT SAAT INI
Dalam rangka mengidentifikasi tingkat perkembangan dan proses pembentukan serta tahapan perkembangan usaha yang dimulai dari inovasi, trigering, dan implementation. Ketiga tahapan ini merupakan masa inkubasi atau embrio dimulainya untuk usaha. Sedangkan growth, maturity dan harvest merupakan entrepreneur process yang menuju kepada small business process. Berdasarkan pada analisis perilaku wirausaha orang Meybrat,  pada umumnya  masih berada pada tahapan inovasi dan trigering, atau masih berada pada even entrepreneur process, dimana mereka  secara alamiah  memiliki  jiwa  entrepreneurship dimana  mereka telah memulai  kegiatan bisnis walaupun masih sangat sederhana dan tradisional. 
Pada tahapan  inovation dan trigering  personal karakteristik dan environment (lingkungan) memegang peranan penting untuk pembentukkan perilaku kewirausahaan. Personal karakteristik disini mencakup need for achievement, risk taking, personal values. Education dan experience yang harus disuport dengan environment (lingkungan) bisnis yang kondusif. Environment tersebut mencakup opportunities,role models dan creativity yang memungkinkan untuk pengembangan usaha. Pada fase trigering, personal karakteristik yang diikuti dengan komitment yang kuat  dan dilain pihak  dukungan environment bisnis yang kondusif yang mencakup peranan pemerintah dan penguasaan resources serta inkubator yang memungkinkan  aktivitas bisnis dijalankan dengan baik. Dari profil usaha masyarakat yang telah dijelaskan, dimana kedua kondisi tersebut dirasakan masih sangat rendah.
Berkaitan dengan itu, maka di dalam upaya-upaya pengembangan perilaku kewirausahaan masyarakat yang masih terpenjara oleh kondisi  lingkungan (environment) dan sosio cultural (social behavior) perlu dicermati dengan baik, dan diperlukan kesepahaman antara ekonom dan antropolog, serta  psyholog, untuk mencari model yang tepat bagi  pengembangan kewirausahaan masyarakat. Dalam kondisi masyarakat dengan sosio cultural yang beraneka ragam, maka pola pembinaan secara cell groups merupakan bentuk yang tepat, karena individu dikelompokkan sesuai bidang usaha, tingkatan/level yang dicapai, scala usaha dan  tetap memperhatikan social cultural constraint  pada masing-masing individu yang dibina.

PENGEMBANGAN BISNIS ORANG MEYBRAT
Analisis selanjutnya diarahkan untuk melihat hubungan antara perilaku kewirausahaan dan pengembangan usaha masyarakat. Untuk melakukan analisis tersebut maka responden dikelompokkan berdasarkan kelompok usaha dagang Kios, usaha pertanian,  usaha peternakan, usaha kelompok/bersama, usaha jasa, dan usaha industri. Berdasarkan hasil analisis, maka tingkat hubungan antara perilaku kewirausahaan  dengan pengembangan bisnis masyarakat dapat memberi gambaran bahwa aktivitas sosial, dan potensi sosial masyarakat dapat dikatakan memiliki hubungan sanggat lemah terhadap kinerja pengembangan bisnis masyarakat. Dengan kata lain, bilamana masyarakat masih memiliki tradisi budaya yang tinggi, maka perilaku kewirausahaan masyarakat berpengaruh secara negatif terhadap tingkat kemampuan pengembangan bisnis. Berdasarkan pada kondisi tersebut diatas, maka dapat dikatakan bahwa usaha masyarakat saat ini hanya bekerja berdasarkan komprominitas diantara mereka, untuk memenuhi kebutuhan mereka. Kegiatan usaha dilakukan hanya untuk menyelamatkan dan memenuhi kebutuhan keluarga (Safety First), keselamatan dalam arti pemenuhan kebutuhan menjadi prioritas, dan bukan business minded. Sedangkan pada sisi keberanian mengambil risiko, maupun melakukan inovasi merupakan suatu proses uji coba yang tidak terlepas dari membuat kesalahan. Dengan demikian rendahnya kemampuan pengambilan resiko yang dihadapi usaha masyarakat juga merupakan refleksi dari azas dasar kepercayaan yang dianutnya.

Hasil penelitian ini telah memberikan kesimpulan terkait dengan dua kekuatan budaya sistem kekerabatan dan pola konsumtif orang Meybrat. Dua kekuatan itu, menurut analisis ternyata sangat berpengaruh dalam membangun perilaku bisnis di tengah masyarakat. Kenyataan itu dalam perkembangnya dua kekuatan budaya tersebut ternyata berpengaruh dalam pembentukan ekonomi produktif masyarakat meliputi: (1). Usaha ekonomi produktif  masyarakat Meybrat  masih berada pada tahapan mencari bentuk (inovasi, trigering), dimana personal karakter (nilai pribadi, pendidikan, pengalaman, pengambilan risiko, pengendalian intern,) serta faktor lingkungan (kesempatan/peluang, ,peran, dan kreativitas, kebijakan pemerintah)  sangat dominan dan masih lemah; (2). Usaha produktif, termasuk  kelompok usaha (mikro, kecil dan menengah),  lebih berhasil dan berkembang secara baik pada tingkat  individu dibandingkan dengan  kelompok; (3). Faktor sistem kekerabatan dan pola konsumtif  masyarakat meliputi : pembayaran maskawin, biaya pendidikan keluarga dan sanak saudara masih berpengaruh sangat kuat dalam pembentukan perilaku usaha ekonomi produktif orang Meybrat.  (Arius Kambu, FEB Uncen)