Tahun ini awan terlihat gelap dipandang memakai kacamata jiwa, tahun penuh kecemasan, keraguan, kembimbangan, kepedihan yang datang dan pergi membuat beberapa individu yang berada di pusaran birokrasi ada yang gembira dan ada pula yang bersedih.

Proses lelang jabatan maupun perampingan organisasi di Pemerintah Daerah yang dilakukan memakai mekani
sme terbuka, membuat banyak individu yang gagal karena sedikit saja yang terpangil. Kegagalan yang diakibatkan proses diatas telah meninggalkan luka hati sebab kesempatan tertunda dengan waktu yang belum pati.

Gembira dan sedih ini, merupakan irama kehidupan di atas perahu yang diberinama organisasi sudah seharusnya dipandang sebagai sesuatu hal yang biasa dan bukan dilihat sebagai sesuatu yang luar biasa. Kompetisi sudah pasti sudah pasti hukumnya ada yang kala. Kekalahan itu perlu sekali dilihat atau diambil sebagai titik masuk untuk memperbaiki diri lebih matang lagi, agar event yang akan datang diperkecil resiko gagalnya.

Gambaran kasar terlihat bahwa masih banyak bisikan negatif yang terungkap dari beberapa individu yang belum memberi izin hati untuk menerima rasa kepahitan hidup ketika kehilangan jabatan dengan hasil seleksi tersebut, ini mungkin ada takarannya masing-masing dalam melontarkan kekecewaan mereka karena belum siap lahir batin yang paripurna.

Kompetisi itu sebenarnya bisa dilihat sebagai sesuatu yang postif seperti semasa masih menyandang status anak kampus, dimasa itu biasanya terjadi persaingan antar teman sebelahan kursi atau seangkatan yang normal saja yaitu nilai indeks prestasi yang berbeda antar teman kuliah.


Lahir batin masih mahal harganya atau masih jauh dari kondisi yang sebenarnya, ini dikarenakan masih ada penolakan yang dilakukan beberapa individu yang belum bisa menerima kenyataan kehilangan pendapatan berupakan fasilitas yang melekat langsung pada jabatan tersebut serta belanja operasional sehari-hari yang dibebankan pada organisasi akan terhenti otomatis.

Persoalan di atas, bila belum dikelola dengan baik, akan menimbulkan atau melahirkan energi negatif yang bermuara pada penurunan kemampuan berfikir postif serta cepat emosi. Persoalan tersebut perlu ada intervensi penyembuhan yang bersumber dari diri sendiri sebab penumpukan beban pikiran yang begitu berat akan menimbilkan sakit jiwa yang proses penyembuhan susah sekali diselesaikan dengan intervensi kimia.

Guru spiritual memberikan saran yang boleh dibilang sanggat ampuh untuk digunakan sebagai obat penyembuhan yang terbaik yaitu “tersenyum”. Menurut guru spiritual tersenyum memproduksi energi yang keberhingga dan senyum juga sebagai jembatan penghubung untuk memperbaiki atau mengantikan energi negatif dengan engergi yang positif.@arkam

Malam di Kota yang zaman lampau di juluki Hongkong di waktu malam, mulai perlahan-lahan susah diurus sebab sentuhan yang diberikan berlebihan kepada Port Numbay atau dengan kata lain sentuhan sudah semakin liar yang semestinya di batasi sebab daya dukung lahan pemukiman semakin kecil. Sementara yang menjadi fokus cerita adalah daya dukung jalan sudah kurang memadai untuk menampung kendaraan roda dua maupun roda empat.

Sedangkan fenomena lain yang menarik dan menimbulkan pertanyaan yaitu apakah dengan tumbuhnya Port Numbai ini, membuat Pemerintah sudah mengantisipasi tuntutan masyarakat yang terkena dampak polusi udara dan gangguan kebisingan lainya yang hanya menunggu waktu untuk dimuntahkan masyarakat dalam bentuk menyampaikan pendapat dimuka umum.

Melihat perkembangan kota yang sudah semakin padat ini, perlu ada kerjasama lintas organisasi antara pemerintah Portnumbay, Kabupaten Jayapura, Keerom yang dijembatani Provinsi untuk mempersiapkan langkah mengantisipasi dampak yang ditimbul di kemudian hari, misalnya membuat kebijakan yang meniru Daerah lain seperti DKI Jakarta yaitu : syarat pembelian kendaraan diwajibkan menyertakan foto garasi rumah.

Bergeser pada fenomena lain yang menarik untuk dilihat lebih dalam lagi yaitu kepadatan kendaraan di jalan raya maupun yang diparkir diatas trotoar, ini menimbulkan pertanyaan lagi dan lagi yakni apakah ukuran daya beli masih relevan dipakai kalau dilihat melalui ukuran kepadatan kendaraan.@arkam
Memasuki hari raya idul fitri 1440 H, ada guntingan yang menarik namun kurang menggigit dikarenakan apa yang ingin didapatkan ketika anda saya dan dia membaca lintas papua pada media cetak ternama seukuran papua yang dikenal dengan nama cenderawasih pos atau disingkat cepos edisi senin 04/06/2019.

Sebelum dilakukan pembedahan lebih dalam tentang “Musyawarah Adat” , ada baiknya anda saya dan kamu, melihat satu simbol dari alam tanah ini yang disampaikan penjaga sungai yang terkenal buas, namun ada pelajaran teramat penting yang perlu dipelajari dari kelebihan yang diberikan pencipta alam semesta kepada seekor buaya.

Dalam sebuah telaga atau sungai hidup seekor buaya yang dalam kehidupannya selalu tenang dan tidak bersuara bahkan tidak pernah merusak telaga dan sungai dan berontak kalau diganggu mahluk asing yang wilayahnya. Sementara itu, buaya tersebut bergerak mencari makan ketika lapar.

Filosofi buaya ini, coba anda saya dan dia lihat dengan memakai kacamata adat sebagai alat masuk untuk mengurai masalah apa yang sebenarnya membuat luka hati semakin perih dengan memuntahkan aroma tak sedap, ini semua bersumber dari tanah garapan mereka sudah mulai langka atau main menipis manfaat ekonominya.

Luka hati yang lebih perih dan ekstrim yaitu sex ratio mereka mulai menurun perlahan-lahan, bila dilihat dari populasi masyarakat asli yang cenderung menurun, masalah ini melahirkan perkiraan sementara yaitu waktu mereka hampir sebagian besar digunakan untuk bergulat mengisi kampung tengah (perut) yang membuat terbatasnya waktu untuk melakukan aktivitas sex.

Penyebab lain yang diperkirakan ikut menyumbang penurunan populasi masyarakat asli, ini disebabkan oleh beberapa masyarakat asli yang hanya mementingkan dirinya sendiri dengan mengabaikan tumbuh kembangnya generasi penerus warga mereka atau dengan perumpamaan yakni “tongkat estafet diberikan kepada siapa”.

Beberapa masyarakat asli yang berperilaku negatif atau mementingkan dirinya sendiri, sampai ketika berada pada satu masa dimana Ia mulai merasa terancam, maka pada saat itu Ia mulai sadar bahwa marganya hilang merupakan hutang yang harus dilunasi atas perilaku mereka selama masih berkuasa.

Tikar adat yang dilakukan berdasarkan 4 golongan mata angging suku Marind yaitu Mayo, Timo, Sosum dan Esam sebagai pemilik tanah lulur mulai berontak karena pekarangan rumah mereka mulai masuk keluar migran tanpa pajak.

Pesta adat yang dilakukan bermaksud menyampaikan kepada penduduk migran bahwa tanah ini bukan tanah tak bertuan, tanah ini ada penjaganya. Mereka mulai melakukan perlawanan, namun para migran sudah migrasi puluhan bahkan ratusan ke tanah ini.

Filososi sederhana yaitu kalau mau masuk ambil barang di ladang (kebun) orang harus meminta izin sama pemiliknya, sebab kalau mengambil tanpa seizin pemilik ladang itu berat hukumnya kalau sampai tertangkap.

Bila dilihat dari berbagai konflik yang terjadi di hampir semua wilayah di tanah ini, masalahnya hanya satu yaitu konflik kepemilikan properti yang disebabkan motif ekonomi sudah terbungkus pada properti yang dimasa lampau properti tersebut digunakan secara bersama-sama, namun berkembangnya waktu properti mulai jadi sengketa karena yang dilihat nilai ekonominya. 

Migrasi besar-besaran tanpa pajak ke tanah Animha dilakukan melalui gerbong transmigrasi yang mulai tumbuh dan berkembang menjadi komonitas besar yang berfungsi sebagai generator pengerak ekonomi yang mengurita keseluruh wilayah selatan Papua. Komunitas migran ini telah berevolusi dalam struktur sosial ekonomi selatan.

Penetrase kelompok migran mulai bergeser dari wilayah ekonomi kewilayah politik, ini mulai terlihat dari pemilihan anggota dewan perwakilan rakyat daerah Merauke sebagian besar kursi diambil oleh kelompok migran, dengan komposisi itu, maka sebagian besar keputusan strategis yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak akan ditentukan kelompok migran.

Fenomena ini, yang membuat masyarakat asli yang sudah terdidik mulai berteriak dibawah bendera para-para adat, ini dilakukan agar kelompok migran harus sadar diri dan selalu mematuhi tatakrama yang sudah ditetapkan adat secara turun temurun.@arkam
Meibrat merupakan satu Kabupaten terunik di pedalaman kepala burung, ini dihuni tiga suku besar yakni Ayamaru, Aitinyo dan Aifat yang pada masa lampau disebut dengan nama Ayamaru yang dalam perjalanan pemerintahan setelah dibentuk kabupaten ini penuh dengan misteri karena susah diukur memakai akal sehat. 

Perjalanan Pemerintahan Daerah yang
 misterius ini disebabkan terjadi lompatan budaya yang membuat sistem Pemerintahan dijalankan berdasarkan konsep like and dislike yang dilakukan pembuat kebijakan yang bahasa kasar suka-suka hati.

Terjadinya lompatan budaya atau ada sistem nilai yang terbangun ribuan tahun lalu, dipatahkan pemikiran generasi atau kelompok intelektual dengan tingkat pendidikan yang ditamatkan digunakan untuk membuat rumitnya masalah sistem politik di tanah A3.

Lihat dari sisi yang lain, bisa juga dijelaskan bahwa perkembangan pemerintahan saat ini lebih primitif sebab orang A3 kembali tinggal dalam lubang gaaNya masing-masing, serta menumbuh kembangkan status nepotisme kelompok yang kuat dalam pemerintahan yang melayani.

Sementara itu, perjalanan organisasi di era kekinian dihuni oleh tiga kelompok dalam gerbongnya masing-masing yaitu (1) kelompok intelektual; (2) kelompok aktivis; dan (3) Kelompok Religius. Tiga kelompok besar ini, masing-masing memainkan peran di eranya masing-masing.

Kelompok Intelektual, ialah kelompok yang biasanya konsen berbicara atau menyampaikan gagasan atau pendapat kebanyakan dilakukan dengan membuat perbandingan baik empiris, teoritis maupun fenomena, biasa berdasarkan kota asal studi baik dalam maupun luar Papua. Kelompok ini perkembanganya mulai pelan-pelan tergeser di bumi A3.

Kelompok Aktivis, ialah kelompok yang berisikan anak-anak mudah terdidik yang konsen memberikan advokasi lingkungan dengan memakai bendera kelompok swadaya masyarakat yang dalam perjalanannya belum begitu banyak membuat perubahan di bumi A3.

Kelompok Religius, ialah kelompok religius yang melahirkan sebuah paham bahwa bersama kelompok ini, sudah pasti masuk surga, kelompok ini mulai tumbuh subur di bumi A3.

Berbagai kelompok kepentingan yang sekarang membuat panggung pertunjukkan dengan memakai lipstik pesta rakyat, ini sudah saatnya mulai sadar bahwa keputusan satu paket dengan resiko. Keputusan yang dibuat selalu memuat unsur efektif.

Orang bumi A3 sudah seharusnya belajar sama orang Bali, kenapa harus belajar ke Bali, mereka bukan siapa-siapa dengan kami atau satu ras dengan orang A3, ini pertanyaan yang akan muncul.

Tahun 2002, peristiwa bom Bali yang dilakukan teroris itu, banyak menewaskan ribuan orang yang tak berdosa ini, ditanggapi dingin orang Bali, yang bisa dilihat dari masyarakat Bali hanya diam dan menerima peristiwa tersebut walaupun menyakitkan mereka. Aksi balas dendam sama sekali hilang dari pikiran masyarakat itu sendiri.@ARKAM
Melihat kebijakan Pemerintah Daerah membangun pasar yang dipengaruhi turbulensi Politik pada saat bergulirnya pesta Demokrasi itu, membuat rembesan menjadi gesekan kecil antara beberapa individu yang terlalu dibesar-besarkan oleh beberapa individu lain untuk memuluskan kepentingan mereka itu yang penting dilihat warga masyarakat.

Persoalan turbulensi politik membuat Pemerintah Daerah membuat kebijakan belanja modal dengan membangun pusat aktivitas ekonomi masyarakat tanpa melalui sebuah kajian akademik yang baik akan bermuara pada aset tidak produktif.

Pengeluaran Pemerintah Daerah yang diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (DAU, DAK, OTSUS, PAD, SILPA) akan membentuk belanja modal yang terakumulasi ke dalam aset daerah, ini perlu dikelola sesuai dengan perencanaan.

Keputusan pembangunan pasar diambil dari persoalan politik dengan mengabaikan aspek ekonomi akan melahirkan resiko kegagalan yang besar di masa depan karena aspek kelayakan sebuah pasar diabaikan pembuat kebijakan.

Alat bantu yang dipakai untuk memberikan edukasi kepada para pengambil kebijakan ini, penulis meminjam pesan Zocrates yang menjelaskan bahwa “Sesuatu Yang Tidak Di Teliti, Tidak Pantas Untuk Di Jalani”. 

Pesan Zocrates ini teramat sanggat tepat dipakai sebagai jembatan untuk memberikan pencerahan secara rasional walaupun saran penulis terlambat, namun mungkin masih bisa dijadikan pertimbangan untuk pengalihan fungsi bangunan tersebut menjadi Market Point di batas kota. 

Secara teori yang belum terbantahkan selama ini bahwa membangun sebuah pasar perlu ada kajian kelayakan secara ekonomi yang komprehensif sebab orientasi belanja pembangunan sebuah pasar adalah menaikan Pajak Daerah.

Pasar secara teori merupakan tempat pertemuan antara produsen dan konsumen atau petani dan pembeli dengan aktivitas pertukaran barang dengan alat ukur uang. Persoalan yang akan dihadapi ketika pasar sudah terbangun adalah siap pembeli utama atau konsumen target utama ketika pasar dibangun siapa.@arkam

Perkembangan revolusi industri yang dimulai dengan 1.0 2.0 3.0 dan 4.0 yang telah terjadi di belahan dunia barat sangat cepat dalam merubah perilaku individu dan organisasi secara global dengan daya ledak yang cukup kuat sampai di indonesia.

Perkembangan teknologi secara langsung juga memberi dampak kepada perubahan lingkungan baik ke dalam maupun keluar yang telah berimbas pada perilaku individu yang ikut terkoreksi. Akibat perkembangan teknologi juga mempengaruhi tindakan individu dan organisasi.

Melihat perkembangan revolusi industri 4.0 yang semakin membumi dan telah menggeser cara-cara kerja konvensional kecara kerja berbasis teknologi informasi ini menuntut desain ulang fremwork sebab masalah ada pada cara berpikir beberapa individu yang belum siap menerima perubahan.

Kesiapan individu untuk menerima revolusi industri 4.0 masih mengalami hambatan yang disebabkan tingkat kemajuan dan kepemilikan moneter masih rendah, ini dilihat dari lompatan faseh atau revolusi dari fase peramu langsung dipaksakan lompat jauh pada industri 4.0.

Banyak lompatan yang dilewatkan membentuk perilaku individu untuk menerima kenyataan sedikit mengalami hambatan karena tingkat kemajuan yang rendah dalam menganalisis dan memecahkan masalah dengan berpikir positif. Fenomena ini bisa dilihat dari proses penarikan CPNS yang masih tersandung ofline online.

Penolakan seleksi memakai online mendapat penolakan, ini disebabkan prasangka berlebihan yang mengalir membentuk kemarahan tanpa alasan jelas. Prasangka juga disebabkan tingkat kemajuan pendidikan masih rendah yang membuat bersaing secara terbuka masih terus menghantui mereka.@arkam

Masa lalu masih memiliki ekor panjang sampai hari ini, yang terus menggelinding bagaikan bola salju. Masa lalu masih memiliki ekor panjang atau dalam istilah kekinian susah move on. Fenomena ini bisa diamati atau di scan dari segala persoalan yang terjadi selalu saja disebut Amber/ Pendatang/ Non Papua sebagai penyebab masalah.

Pendapat seperti ini sebenarnya kecenderungan lebih besar dipengaruhi informasi masa lalu yang diceritakan berulang-ulang tentang status Papua dalam peta Indonesia, yang menurut kaum terdidik dan masyarakat kebanyakan belum sah. Status Papua ini diduga sebagai “Luka Jiwa” yang membuat sampai rasa ke Indonesia orang Papua menjadi ganda. 

Sumber penyebab luka jiwa di atas, masih menjadi gorengan yang menarik, lesat dan gurih serta harganya murah meriah ini dikelola dengan baik dan cerdas oleh kelompok intelektual yang katanya nasionalis untuk mencapai tujuan individu kelompok dan golongan.

Hasil scan yang dilakukan melalui berbagai peristiwa perjalanan Papau sampai tahun ini memberikan informasi bahwa pertarungan terbuka melalui partisipasi langsung warga memilih siapa yang diunggulkan sebagai perpanjangan tanggan di parlemen menjadi lemah sebab modal hitam kulit keriting rambut tidak cukup sebab menjadi minoritas dalam daftar pemilihan tetap.

Keterwakilan di parlemen semakin menurun, ini juga perlu di lihat sebagai sebuah teguran keras atas perilaku kita yang mementingkan diri sendiri dan kurang melihat efek keberlanjutan dan diperparah lagi namun belum disadari bahwa politik kekhususan membuat Orang Asli Papua kembali hidup dalam goanya masing-masing.@arkam

Sore menjelang malam di sudut kampus cemara, bertemu dengan seseorang tokoh pendidikan dan juga sekaligus sebagai pengamat politik yang sudah terkenal dengan pemikiran-pemikiran yang cerdas dalam membedah persoalan dalam latar alamiah.

Tema diskusi yang diangkat terkait dengan masalah yang telah menjadi trending topic di media sosial dan media cetak yang dilakukan orang asli papua untuk menolak rendahnya keterwakilan mereka dalam parlemen. Protes yang dilakukan orang asli papua dimulai dari kabupaten merauke yang berlanjut ke beberapa titik di tanah papua.

Mereka berontak karena keterwakilan mereka melenceng jauh dari yang diperkirakan, mereka tidak memakai ukuran daftar pemilih tetap sampai dengan mekanisme yang ditetapkan partai politik bahkan sampai menolak menerima stempel pemilih minoritas.

Sorotan diskusi lebih terfokus pada pertanyaan sejauh mana peran pemerintah melihat persoalan tergusurnya orang asli papua di parlemen sebagai ancaman serius di masa depan kalau dibiarkan pemerintah daerah akan memuntahkan aroma tak sedap dalam bentuk konflik sosial.

Ada harga yang harus dibayar dalam menyelamatkan hak dasar orang asli papua dengan cara pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan jumlah partai politik atau mendorong tumbuh kembangnya partai politik lokal seperti yang diamanatkan dalam politik kekhususan.

Pembatasan partai politik pasti agak sulit dilakukan, namun untuk menjaga rantai nilai sosial orang asli papua, maka pemerintah daerah harus berani membuat kebijakan yang didudukan pada politik kekhususan sebagai jalan tengah untuk merendam konflik sosial.

Melihat fenomena yang terjadi, maka secara sadar orang asli papua dengan para pemangku kepentingan harus belajar dari aceh, tentang bagaimana menghidupkan partai lokal sebagai kendaraan utama untuk membangun indonesia dengan sistem pemerintahan syariat islam.

Kembali pada rendahnya keterwakilan di parlemen, sampai-sampai menimbulkan berbagai prasangka antara si A sampai Z saling curiga mencurigai dan juga saling menuduh. Masalah saling curiga, sampai lupa pada harga yang harus dibayar sebuah keputusan kalah harus diterima.@arkam
Ananias anak muda yang diizinkan sang pencipta untuk melihat dunia pertama kali di satu tempat yang diberi nama sorong ke selatan.
Pada masa beraromah putih abu-abu, Ananias menuliskan masa depan di sebuah sekolah menengah atas di sorong ke selatan.
Di kelas sekolah itu, Ananis duduk sebelah dengan seorang teman yang berjenis kelamin perempuan yang lumayan cantik ukuran sorang ke selatan.
Hari terus berjalan meninggalkan minggu menjadi bulan dan bulan menjadi tahun yang tidak terasa telah mengantarkan Ananias menuju garis finish dengan meninggalkan putih abu-abu.
Di masa sekolah yang dijalankan dari kelas pertama sampai kelas ketiga, Ananias mulai mengungkapkan rasa yang terpendam dalam dada kepada teman kelas yang duduk di sebelah kiri dengan jarak kurang lebih 1 meter lebih sedikit yang namanya Mawar.
Dengan hembusan nafas agak sedikit sesak, Ananias memanfaatkan jam istirahat kelas untuk mengungkapkan rasa dengan bertanya...Mawar apakah kamu mau menjadi pacar aku….
Mawar hanya melepas senyum pada Ananias….Namun Ananias bertanya lagi pada Mawar….apakah kamu bersedia jadi pacer aku….Mawar memberi jawaban maaf Ananias…...kenapa kamu menolak menerima cinta aku.
Jawaban Mawar….saya tidak suka laki-laki yang suka merokok dan minum-minum...mendengar alasan itu, Ananias langusng pergi berlalu meninggalkan Mawar.
Setelah merampungkan ujian sekolah dan dinyatakan lulusan dengan menerima surat yang menerangkan telah menyelesaikan pendidikan di kota sorong yang keselatan. 
Ananias merantau guna melanjutkan pendidikan kesalah satu perguruan tinggi yang cukup punya nama seukuran Kota Sorong.
Setelah mengambilkan formulir dan merampungkan segala administrasi masuk sebuah perguruan tinggi umumnya yang dilanjutkan mengikuti tes masuk. Setelah selang satu minggu keluar informasi Ananias dinyatakan lulus.
Ananias mengikuti proses transformasi dalam industri jasa yang disebut pendidikan itu dengan aktivitas perkuliahan dan kegiatan pengembangan diri itu, Ananias tergabung dalam kegiatan Kerohanian... 
Ananias memilih kegiatan Kerohanian sebagai jalan masuk utama untuk meningkatkan nilai spiritual agar selalu terhindar dari perilaku negatif. 
Hari terus berjalan berganti minggu dan minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun, Ananis sudah semakin fokal mengungkapkan pendapat di muka umum, ketika ada gerakan membela orang kecil, ananias selalu tampil terdepan yang membuat Ananias semakin matang dalam mengeluarkan pendapat.
Dalam rutinitas yang padat antara kuliah dan organisasi kemahasiswaan di kampus, Ananias selalu menyisihkan sedikit waktu 1 sampai 2 jam untuk berolahraga guna memastikan tubuh tetap aman.
Tempat mengeluarkan racun atau energi negatif di dalam tubuh Ananias dengan memanfaatkan ruang public yang telah disediakan pemerintah bagi warga kota yang tidak punya cukup uang untuk belanja kesehatan dengan memanfaatkan Taman Deo sebagai tempat jalan sore.
Di suatu sore, Ananias sedang jalan-jalan di taman deo, dengan tidak sengaja pula, ananias berjumpa dengan Mawar yang tidak lain merupakan teman satu sekolah di kota sorong selatan lagi duduk bersama pacar yang satu sekolah namun beda jurusan itu.
Menangis melihat pacarnya Mawar menghisap rokok malioboro putih, mimicu memori Ananias terbuka kembali dengan memunculkan pertanyaan pada Mawar….. Itu pacar kamu ya dan Mawar menjawab iya itu pacar saya….. mendengar jawaban Mawar…. Ananis belum puas dengan jawaban Mawar itu...Ananias bertanya lagi dan lagi pada Mawar...Waktu sekolah kamu menolak cinta saya dengan alasan saya suka merokok dan minum-minum. Ternyata hari ini saya lihat kamu pacaran dengan lelaki perokok dan peminum berat.
Mana yang benar : ( ) Cinta itu Rasa….. ( ) Cinta Itu Anugrah atau ( ) Cinta Itu Sebab atau Cinta itu apa menurut kamu….

@arkam

Pesta rakyat tinggal menunggu rekapan hasil akhir siapa-siapa yang mewakili rakyat di parlemen itu masih meninggalkan bekas luka yang proses penyembuhannya makan waktu lama. Saya kau dan dia pasti tidak mau menerima hasil akhir dari sebuah pertandingan karena ukuran yang dipakai perbandingan.

Perbandingan merupakan semua fenomena yang baru diproduksi pada pelaksanaan pesta demokrasi itu, namun fenomena itu merupakan bawaan pengalaman masa lalu yang hadir berulang kali dalam kehidupan sehari-hari selalu memandang sesuatu memakai perbandingan.

Fenomena itu biasanya juga terlihat pada pengklasifikasian yang dibuat kau saya dan dia memakai ukuran pendidikan yang ditamatkan, kota tempat studi dulu, status sosial yang dimunculkan sebagai ukuran untuk menilai kemampuan individu yang menjadi target untuk dibully.

Bila ditarik lebih jauh lagi ke wilayah pemerintahan masih juga ditemukan perbandingan-perbandingan disampaikan langsung maupun tidak langsung pada pelaksanaan suksesi pergantian pimpinan di level atas sampai level terkecil.

Saya kau dan dia biasanya tidak secara sadar membandingkan kepemimpinan yang dulu dengan kepemimpinan yang sekarang, misalnya bonus yang diberikan pimpinan yang dulu lebih baik dari yang sekarang atau pimpinan yang dulu lebih komunikatif dari yang sekarang.

Perbandingan sebenarnya merupakan referensi rujukan untuk melakukan perbaikan-perbaikan nilai hidup maupun penetapan target capaian organisasi, namun harus dilihat dari aspek ruang dan waktu, misal kapan saya kau dan dia membuat perbandingan kapan tidak membuat perbandingan.

Catatan para pakar psikologi yang tertinggal di ruang baca menyebutkan bahwa selama saya kau dan dia masih terus membandingkan nilai lebih dan nilai kurang secara personal, maka mulai saat itu star menderita karena sakit jiwa.

Dalam catatan religius disebutkan hidup adalah sebuah kesempatan untuk melayani Tuhan, yang menyebabkan saya kau dan dia menegakkan aturan ini dalam kehidupan sehari-hari sampai lupa tugas saya kau dan dia untuk menghadirkan tuhan dalam perbuatan, misalnya membantu membayar hutang kredit, biaya rumah sakit, pendidikan orang kecil.

Tulisan di atas ini merupakan sebuah ajakan untuk saya kau dan dia dalam mengambil keputusan melangkah maju perlu memastikan satu langkah itu penting, kalau penting diperjuangkan kalau tidak penting, maka saya kau dan dia harus memastikan bahwa kita sama-sama melayani umat Tuhan, namun jalannya saja yang berbeda. @arkam

Lihat kawan, informasi minggu ini cukup menarik untuk dianalisis dan diperdebatkan akan bermuara pada satu titik saling melempar tanggung jawab. Sebab informasi tersebut berkaitan langsung dengan hak hidup orang asli papua dalam politik kekhususan.

Kawan siapa sih yang sebenarnya bertanggung jawab mengawal politik khususan yang telah diberikan dalam bentuk undang-undang. Ini menimbulkan suatu soal yang belum diselesaikan ataukah sengaja tidak dikerjakan yaitu kalau kawan sudah mengerti arti undang-undang kenapa harus diperdebatkan lagi.

Informasi kemarin penerimaan pegawai negeri sipil menjadi trending topic di beberapa media cetak maupun media online yang memunculkan berbagai macam tafsiran negative para pencaker orang asli papua yang menyoroti mekanisme afirmasi dengan formula 80 : 20 yang diamanatkan dalam undang-undang politik kekhususan.

Kawan kita semua perlu mengucap syukur karena formasi tersebut dimunculkan setelah pesta rakyat berakhir sehingga tidak ada yang dirugikan gorengan gorengan politik yang menumpang di atas kendaraan 80 : 20 sebagai senjata yang ampuh untuk mencapai target sebagai wakil rakyat atau pimpinan daerah.

Sejarah undang-undang politik kekhususan sudah dijelaskan sejelas-jelasnya tentang 80 : 20, namun dalam perjalanan tidak diperjuangkan melainkan diperdebatkan dan saling melempar tanggung jawab sampai-sampai juga pada saling curiga satu sama lain yang membuat 80 : 20 masih terus diperdebatkan.

Kawan terpilih sebagai pimpinan daerah atau wakil rakyat sampai pada organ-organ yang terkecil dengan ranting-rantingnya diberikan kewenangan untuk memperjuangkan apa yang menjadi mimpi bersama seperti dalam simbol padi dan kapas sebagai cita-cita bersama.

9 dari 10 pencaker asli papua menaruh harapan besar untuk 80:20 sebagai pilihan terbaik dibandingkan penerimaan memakai sistem online maupun offline yang ditawarkan pemerintah. Mekanisme online maupun offline di beberapa media para analis masih mempersoalkan transparansi dan akuntabilitas pimpinan daerah.

Fokus analisis saya kau dan dia hanya terbatas mendiagnosis makna atau nilai yang masih bersembunyi dalam ungkapan tanggung jawab. Dalam kehidupan sehari-hari saya kamu dan dia selalu saja menemukan ungkapan tanggung jawab disampaikan ketika terjadi sebuah peristiwa, misalnya berani berbuat salah berani tanggung jawab.

Informasi minggu ini tentang formasi penerimaan pegawai negeri sipil memunculkan berbagai protes pencaker asli papua yang menuntut afirmasi serta sistem penarikan memakai mekanisme offline sebagai sebuah tanggung jawab yang harus dipegang pimpinan daerah di tanah papua.

Pencaker asli papua melakukan perlawanan kepada pemerintah daerah merupakan harga yang harus dibayar karena utang pejabat daerah selamat bertugas tidak memperjuangkan politik ke khususan sesuai dengan yang diharapkan masyarakat. @arkam

Ananias nama kebetulan dalam cerita, terlahir dari keluarga yang kehidupan rohani orang tuaNya terbilang baik, Ananias dan keluarga besar pihak Papa dan Mama hidup menurut doktrin atau nilai yang sudah ada sejak puluhan tahun, masih terpelihara dengan baik sampai tahun ini. 

Doktrin hidup yaitu gelap ada setan, semak ada ular, nakal tete manis marah dan informasi negatif lainnya terekam dalam memori Ananias sejak nol tahun sampai dengan usia lima tahun doktrin negatif itu perlahan-lahan muncul membentuk perilaku dan karakterNya.

Untuk mengungkapkan nilai yang tersembunyi dibalik doktrin itu, maka kita perlu melihat elemen yang lain yaitu rantai makanan yang menghadirkan satu peristiwa dimana terjadi perpindahan energi atau makanan dari yang satu ke mahluk hisup yang lainnya dalam satu urutan, misalnya burung makan ular makan tikus makan padi.

Manusia juga merupakan mahluk hidup yang terbentuk melalui satu mata rantai yang juga menghadirkan peristiwa yang memiliki ruang dan waktu masing-masing, misalnya bayi, anak, remaja, dewasa, manula. Proses perkembangnya manusia dikendalikan oleh satu mesing kendali besar yang dinamakan jantung atau pusat engine kendali itu perlu dikelola sebaik mungkin.

Ananias nama kebetulan dalam cerita, menghabiskan hidup semua didoktrin keluarga dekat serta keluarga sedaerah bahkan selingkungan tempat tinggal Ananias. Energi negatif yang diberikan yaitu setiap peristiwa yang terjadi antar sesama selalau saja yang didahulukan ialah kalimat sabar ya walaupun ananias merasa dirinya tidak bersalah dan dia yang disakiti, namun sejak kecil udah didoktrin dengan nilai kesabaran yang sudah membeku dalam diri Ananias.  

Guru spiritual di jalan kedamaian menjelaskan manusia yang suka mengeluarkan kata-kata yang negatif itu mengisyaratkan jiwanya tersakiti karena lahir dan dibesarkan dalam lingkungan yang keras menyebabkan mesin kendal besar yang di yang diberi nama jantung selalu merespon sesuatu dengan negatif.

Di jalan kebenaran sabar di kenal sebagai suatu kalimat yang memproduksi energi negatif yang harus diputuskan atas nama sebuah keadilan sebab Ananias selalu percaya Tuhan punya rencana yang indah dan tugas Ananias selalu memastikan Tuhan hadir dalam setiap apa yang dilakukan Ananias. @arkam

Membaca sejarah awal lahirnya demokrasi yang selalu diperdebatkan berbagai kepentingan yang menginginkan organisasi dijalankan sesuai hak warga. Demokrasi dalam pemahaman yang lebih sederhana mungkin bisa juga digambarkan seperti sebuah akuarium yang bisa dilihat dari semua sisi dan dikontrol sepenuhnya oleh warga. Demokrasi ini lahir juga dari pemikiran beberapa orang yang menginginkan pemerintahan dikelola secara bersih, namun di lain pihak ada yang menolak paham demokratis.

Membaca hak warga negara untuk mencalonkan diri dan dicalonkan dalam sebuah suksesi dengan menumpangi partai politik sebagai kendaraan untuk memperjuangkan apa yang menjadi kerinduan para calon untuk mewujudkan keinginan pribadi, kelompok kepentingan atau golongan. Analisis kita terpusat pada kandidat-kandidat yang berasal dari Papua atau lebih populer dibilang orang asli papua (OAP). Perjalanan politik orang asli papua di era kekinian setengah hidup.

Setengah hidup perjalanan politik Orang Asli Papua atau dalam penjelasan yang lain bisa juga disebut prematur karena rentang sekali dimasuki virus. Rentan sekali terhadap virus dikarenakan tingkat kemajuan (pendidikan) kurang baik membuat framework mereka yang tidak pernah memikirkan bahwa keputusan apapun yang diambil selalu satu paket dengan resiko.

Pesta demokrasi yang sudah berlalu namun masih memiliki ekor panjang sampai hari ini, yaitu ketidakpuasan orang asli papua menerima kenyataan dengan rendahnya keterwakilan mereka di parlemen, kekecewaan mereka dilampiaskan dengan pesta adat maupun demonstrasi di beberapa titik di tanah papua maupun diskusi di media online atau kedai kopi terkait hak politik kekhususan.

Gambaran keterwakilan orang asli papua di parlemen yang bila dikaitkan dengan politik kekhususan secarah nyata tidak sesuai dengan yang diharapkan, bila diukur dengan keterwakilan kursi di parlemen menggelitik penulis untuk memberi simpulan bahwa rendahnya keterwakilan merupakan hutang yang harus dibayar karena perilaku orang asli papua tidak pernah mau sadar cara hidupnya yang seperti benalu hutan. 

Rendahnya tingkat kemajuan membuat proses pengambilan keputusan kurang mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi sebab setiap keputusan biasanya satu paket dengan resiko. Resiko merupakan elemen kunci yang sudah dipersiapkan secara matang dalam menerima kekalahan walaupun itu menyakitkan.@arkam